Kamis, 10 September 2009

Demam Typhoid

KONSEP PENYAKIT
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
 DENGAN KASUS TYPHUS ABDOMINALIS



I. PENGERTIAN
Adalah penyakit inpeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. Pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa, masa inkubasi 10 – 20 hari, yang tersingkat 4 hari jika inpeksi terjadi melalui makanan ( Ngastiyah , 1995 ).

II. ETIOLOGI
Penyebab dari penyakit ini adalah salmonella typhosa, basi gram negatif yang bergerak dengan bulu getar dan tidak berspora.

III. PATOFISIOLOGI
Makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri salmonella typhosa masuk melalui mulut terus sampai ke saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limfe.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limfe, sehingga organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Basil masuk kedalam darah dan menyebar keseluruh tubuh terutama kelenjar limfoid usus halus, sehingga tukak berbentuk lonjong pada mukosanya, mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus, Gejala demam disebabkan oleh endotoxin.

IV. TANDA DAN GEJALA
Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala :
• Prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan
• Lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat
• Nafsu makan berkurang

Tanda dan gejala yang biasanya ditemukan :
1. Demam
Bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi, selama minggu I suhu tubuh berangsur naik setiap hari.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput putih kotor ( coated tongue ). Ujung dan tepinya kemerahan.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak seberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen.


V. TERAFI MEDIS ( PENGOBATAN )
1. Isolasi pasien, disinfektan pakaian.
2. Perawatan untuk menghindari komplikasi.
3. Istirahat selama demam sampai 2 minggu, sampai suhu normal.
4. Diet makanan yang mengandung cairan, kalori dan tinggi protein.
5. Obat :
• Kloramfenicol : hari I diberikan 4 x 1 ( 250 mg )
Hari II diberikan 4 x 2 sampai 3 hari turun panas,
Kemudian dilanjutkan 4 x 1 selama 1 minggu.
• Untuk menghindari komplikasi akibat pemakaian kloramfenicol, maka dapat diberikan ampicillin 60 – 150 mg / kg BB / hari.
Pada penderita toksis dapat diberikan sebesar 4 gr / hari, sedangkan pada penderita lainnya 2 gr / hari.
• Bila penderita disertai toksis dapat diberikan kortikosteroid antara 3 – 5 hari, dan tidak diberikan bila terdapat kemungkinan perforasi.
• Vit B komplek dan Vit C sangat diperlukan untuk menjaga kesegaran dan kekuatan badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh kafiler.


VI. REFERENSI
 Marylin E Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 . EGC. Jakarta. 1999.
 Nyastiyah. Seri Perawatan Anak, Gangguan Sistem Pencernaan. EGC. Jakarta. 1995.
 Purnawan Junaidi, dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 2. Media Aesculapius. FKUI. Jakarta. 1982.
 Sylvia A Price, dkk. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. EGC . Jakarta 1995.









KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
 PADA PASIEN TYPHUS ABDOMINALIS

PENGKAJIAN

1. AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia / tidak tidur, merasa gelisah, ansietas, pembatas aktivitas sehubungan dengan efek proses penyakit.

2. SIRKULASI
Tanda : - Taki kardi ( respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan nyeri ).
- Kemerahan area eksmosis ( kekurangan Vit K )
- TD hipotensi
- Kulit membran mukosa : turgor buruk, kering, lidah kotor dan pecah (dehidrasi)

3. INTEGRITAS EGO
Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis : perasaan tidak berdaya / tidak ada harapan. Faktor stres, mis : hubungan dengan keluarga / pekerjaan, pengobatan yang mahal.
Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.

4. ELIMINASI
Gejala : - Tekstur faeces bervariasi dari bentuk lembek sampai bau atau berair.
- Konstipasi
- Riwayat batu ginjal, dehidrasi.
 Tanda : - Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik atau adanya peristaltik yang dapat dilihat.
- Hemoroid, fisura anal, fistula perianal, oliguria.

5. MAKANAN DAN CAIRAN
Gejala : - Anorexia, mual dan muntah
- Penurunan BB, tidak toleran terhadap diet / sensitif, mis : buah segar, sayur, produk susu, makanan berlemak.
Tanda : - Penurunan lemak sub cutan / massa otot
- Kelemahan tonus otot dan turgor kulit buruk.
- Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut.

6 HYGIENE
Tanda : - Ketidak mampuan mempertahankan diri.
- Stomatitis menunjukkan kekurangan Vit dan bau badan.

7 NYERI / KEAMANAN
Gelala : - Nyeri tekan pada abdomen, nyeri mata, fotopobia ( iritis )
Tanda : - Nyeri tekan abdomen / distensi.

8. KEAMANAN
Gejala : - Artritis ( memperburuk gejala dengan aksaserbasi penyakit usus )
- Peningkatan suhu 39, 5C - 40 C ( eksaserbasi akut )
- Penglihatan kabur, alergi terhadap makanan.
  Tanda : Lesi kulit mungkin ada. Mis : eritema nodusum ( meningkat, nyeri tekan, kemerahan dan bengkak ) pada tangan, muka, paha, kaki dan mata kaki.

9. SEKSUALITAS
Gejala : Frekuensi menurun / menghindari aktivitas seksual.

10. INTERAKSI SOSIAL
Gejala : - Masalah hubungan / peran sehubungan dengan kondisi.
- Ketidak mampuan aktif dalam sosial.



PEMERIKSAAN DIAGNOSIS

A. LABORATURIUM
  Darah : - Hb biasanya turun
- Leukosit biasanya turun
- Test widal untuk menentukan adanya suatu reaksi aglitinasi antara antugen dan antibodi.
  Kultur Darah : Positif pada minggu I
  Kultur urine dan faeces : Positif pada minggu II dan III.

B. Rontgen ( foto abdomen ) 
  Untuk mengetahui pembesaran hati dan limfe.


DIAGNOSA KEPERAWATAN

Potensial kurang volume cairan B/D resiko peningkatan kehilangan cairan tubuh yang diakibatkan dari muntah dan demam.

Tujuan jangka pendek : Mempertahankan keseimbangan masukan dan keluaran cairan.
Tujuan jangka panjang : Mempertahankan volume cairan yang adekuat.

Rencana Tindakan
1. Awasi keseimbangan cairan, perkirakan kehilangan yang terlihat, mis : keringat, observasi oliguria.
2. Awasi TV. Catat TD, resp dan temp.
3. Observasi kulit, membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat.
4. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral sesuai indikasi.

Rasionalisasi
1. Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus, juga pedoman pada penggantian cairan.
2. Hipotensi , takikardi, demam dapat menunjukan respon terhadap efek kehilangan cairan.
3. Menunjukan kehilangan cairan berlebihan / dehidrasi.
4. Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan pergantuan cairan untuk memperbaiki kehilangan.


Perubahan suhu tubuh ( hipertermi ) B/D proses infeksi / penyakit. Ditandai : suhu tubuh tinggi > 37,8 C peroral dan 38,8 C perectal, akral kulit hangat, takhi kardi, peningkatan tingkat pernafasan.

Tujuan jangka pendek : Dalam waktu 4 – 6 jam suhu tubuh dapat diturunkan 0,5 C - 1 C.
Tujuan jangka panjang : Mempertahankan suhu tubuh normal ( 36 C – 37,5 C ) .

Rencana Tidakan
1. Pantau suhu tubuh secara berkala tiap 4 – 6 jam. Tngkatkan frekuensi pengukuran selama periode menggigil.
2. Kompres hangat, hindari penggunaan alkohol.
3. Dorong untuk minum air putih sesui indikasi
4. Kolaborasi tentang pemberian obat antiperitika dan antibiotika
\
Rasionalisasi
1. Suhu 38,9 C – 41,1 C menunjukan penyakit infeksi usus
2. Membantu mengurangi demam. Cat: penggunaan air es / alkohol mungkin menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual dan alkohol dapat mengeringkan kulit.
3. Peningkatan masukan cairan membantu menurunkan temp.
4. Antiperitika untuk mengurangi demam dengan aksi sentral pada hypothalamus dan antibiotika untuk penanganan proses infeksi.


Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh B/D penurunan masukan peroral sekunder terhadap kebutuhan peningkatan metabolisme yang berkaitan dengan demam dan proses infeksi. Ditandai : membran mukosa pucat, menolak untuk makan, tidak ada nafsu makan, BB menurun.

Tujuan jangka pendek : Peningkatan masukan nutrisi peroral.
Tujuan jangka panjang : Masukan nutrisi adekuat.

Rencana Tindakan 
1. Anjurkan membatasi aktivitas selama sakit ( tirah baring )
2. Anjurkan istirahat sebelum makan.
3. Anjurkan untuk kebersihan oral
4. Kolaborasi :
- Diet sesui indikasi, makanan yang dihancurkan, rendah sisa, protein dantinggi kalori dan rendah serat.
- Obat-obatan Vit B 12
- Beri nutrisi parenteral total, terafi IV sesui indikasi.

Rasionalisasi
1. Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
2. Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.
3. Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.
4. - Memungkinkan saluran usus untuk mematikan kembali proses pencernaan, protein untuk penyembuhan integritas ringan.
  - Malabsorsi Vit B 12 akibat kehilangan nyata fungsi ilium, penggantian megatasi depresi sum-sum tulang dan meningkatkan sel darah merah.
  - Program ini mengistirahatkan saluran gastrointestinal sementara memberikan nutrisi penting.


 



   

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN TYPHUS ABDOMINALIS



 PENGKAJIAN
I. BIODATA.
4. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. Maya
Umur : 19 tahun
Jenis kelamin : Perempuan 
Pendidikan : S 1 Semester III
Pekerjaan : Mahasiswa 
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia
Status perkawinan : Belum Kawin
Alamat : Unlam III
Tgl masuk RS / Pusk : 16 – 10 - 2001
Tgl pengkajian : 18 – 10 - 2001
Nomor register : 84 36 55
Dignosa medis : Typhus Abdominalis 


A. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.
Nama : Tn. Beny S
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Pendidikan : S 1
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Hubungan Dgn Pasien : Orang Tua


II. RIWAYAT PENYAKIT.
A. Keluhan utama.
Badan panas, sakit kepala, pusing, mual, muntah, tidak ada nafsu makan, perut terasa nyeri.

B. Riwayat penyakit sekarang.
Pasien sudah merasa tidak enak badan dan kurang nafsu makan sejak tgl 12-10-2001, disertai dengan sakit kepala, badan panas, mual dan ada muntah. Panas berkurang setelah minum obat parasetamol, tapi hanya sebentar kemudian panas lagi. Pada hari senin pasien dibawa ke RSU Banjarbaru dan dirawat inap.

  C. Riwayat penyakit terdahulu.
 Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti sekarang ini, pasien juga tidak pernah dirawat di RS, pernah sakit biasa seperti flu, pilek dan batuk, dan sembuh setelah minum obat biasa yang dijual di pasaran. Pasien juga diketahui sering pingsan bila merasa kelelahan.

III. PEMERIKSAAN FISIK.

A. Keadaan umum.
Kesadaran : CM. KU lemah
Vital sign • TD : 110/70 • Temp : 37,1° C
 • Nadi : 80 X/menit • Resp : 20 X / menit
• TB : 160 cm  
• BB : 48 kg.  

B. Kulit.
Turgor cepat kembali bila dicubit, terasa hangat, tidak ada lesi,benjolan dan kemerahan.

C. Kepala.
Bentuk simetris, tidak ada tanda bekas trauma, rambut hitam ikal, ketombe tidak terlihat, distribusi rambut merata.

D. Penglihatan.
Gerakan bola mata dan kelopak mata simetris, konjungtiva tampak anemis, sklera putih, pupil bereaksi terhadap cahaya, produksi air mata (+), tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
   
E. Penciuman & Hidung.
Penciuman dapat membedakan bau-bauan, mukosa hidung merah muda, sekret tidak ada, tidak ada terlihat pembesaran mukosa atau polip.

  F. Pendengaran & Telinga.
Bentuk D/S simetris, mukosa lubang hidung merah muda, tidak ada cairan dan serumen, tidak menggunakan alat bantu, dapat merespon setiap pertanyaan yang diajukan dengan tepat.

  G. Mulut.
Bibir tampak kering, lidah tampak kotor ( keputihan ), gigi lengkap, tidak ada pembengkakan gusi, tidak teerlihat pembesaran tonsil, mukosa pucat.

  H. Leher.
Tidak ada pembatasan gerak, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tiak ada peningkatan tekanan JVP.

I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
Dada D/S simetris, gerakan singkron, tidak ada sesak, tidak ada bunyi nafas tambahan, BJ 1 dan BJ 2 terdengar dengan jelas, denyut nadi teraba kuat.

J. Abdomen.
Bentuk simetris, tidak teraba pembesaran hati dan limfe, nyeri tekan epigastrik, peristaltik terdengar tidak ada peningkatan.

K. Sistem reproduksi.
Tidak ada keluhan pada organ genital, haid pertama pada usia 12 tahun dan tidak pernah ada keluhan nyeri yang berlebihan pada waktu haid.

L. Ekstremitas atas & bawah.
Tangan bentuk simetris, tidak ada peradangan sendi dan oedem, dapat bergerak dengan bebas, akral hangat, tangan kanan terpasang infus.
Kaki bentuk simetris, tidak ada pembatasan gerak dan oedem, akral hangat.



IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.

A. Aktivitas & Istirahat.
Aktivitas sehari-hari sebagai mahasiswa, saat ada keluhan pasien istirahat dari kegiatannya. Tidur biasanya pada malam sekitar jam 23.00 sampai jam 05.30, tidur siang jarang. Sejak ada keluhan tidur malam sering terbangun karena panas.

B. Personal hygiene.
Mandi biasanya 3 x sehari, sikat gigi 2-3 x sehari, keramas bila kepala terasa gatal, ganti baju 3-4 x sehari.

C. Nutrisi.
Makan biasanya 3 x sehari dengan menu bervariasi, sering makan diwarung. Tidak ada pantangan makan, suka bakso. Minum tidak menentu. Saat sakit makan hanya ¼ porsi, kadang bisa sampai muntah.

D. Eliminasi.
BAB biasanya 1-2 hari sekali, selama di RS belum ada BAB. BAK tidak menentu, rata-rata4-6 X sehari, tidak pernah ada keluhan batu atau nyeri.

E. Sexualitas.
Pasien belum menikah

F. Psikososial.
Menunjukan sikaf baik terhadap perawat dan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Anak ke 2 dari 4 bersaudara.

G. Spiritual.
Mempunyai keyakinan kuat untuk sembuh, tidak percaya dengan hal yang berbau tahayul.

V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.

A. Laboratorium.
 
NO HARI & TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN KATEGORI NORMAL HASIL PEMERIKSAAN
1



2 Rabu
17-10-2001


18-10-2001 Hb
Leoko
LED

Widal
Ty.O 1/80 ( + )
Ty.H 1/80 ( + )
PA.O 1/80 ( + )
PA.H 1/80 ( + )

 ♀ 10-12 gr %
♀ 4000-10000/mm³
♀ 0-20/ jam


1/160 (+) 1/320 (+)
1/160 (+) 1/320 (+)
1/160 (+) 1/320 (+)
1/160 (+) 1/320 (+) 9.0 gr %
6.600 /mm³
12 mm/jam


1/640 (-)
1/640 (-)
1/640 (-)
1/640 (-)

B. Rontgen
Hasil :……-………………..

C. EKG.
Hasil :……-……………….

D. Pemeriksaan lain ( EEG, USG, CT Scan, dll ).
  -

  E. Pengobatan : 


  IVFD D5% : RL ( 1:1 ) - 20 tts/mt
  Ulsikur Inj. 1 amp / 8 jam
  Pyralen Inj. 1 amp / 8 jam
  XD ( 1: 1 ) k/p
  Dexymox 3 x 500 mg
  Be Comzet 1 x 1 tab

 

   














 ANALISA DATA


Data subyektif & Obyektif
 
Etiologi
 Masalah

DS : - mengeluh badan terasa panas.

  DO : - Temp 37,1º C
- Akral kulit hangat



DS : - Tidak ada nafsu makan
- Mual
- Merasa lemah

DO : - Bibir kering
- Porsi makan ¼ porsi
- Muntah



  -




















 
Adanya proses endotoxin/ infeksi.






Penurunan masukan peroral terhadap kebutuhan peningkatan metabolisme yang berkaitan dengan demam


Terjadi peningkatan kehilangan cairan tubuh yang diakibatkan muntah dan demam 
Perubahan suhu tubuh







Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh






Potensial kekurangan volume cairan.








 
INTERVENSI KEPERAWATAN

NO HARI & TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
 PERENCANAAN IMPLEMENTASI
  TUJUAN TINDAKAN RASIONALISASI 
1



















2
















3 Kamis
18-10-2001
10.00

















Kamis
18-10-2001
10.00














Kamis
18-10-2001
11.00 Perubahan suhu tubuh B/D proses infeksi atau endotoxin, ditandai :
- Mengeluh badan panas
- temp 37,1º C
- akral kulit hangat












Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh B/D penurunan pemasukan peroral terhadap kebutuhan peningkatan metabolisme yang berkaitan dengan demam, ditandai :
- tidak ada nafsu makan
- mual, muntah
- bibir kering
- makan ¼ porsi




Potensial kekurangan volume cairan B/D terjadinya peningkatan kehilangan cairan tubuh yang diakibatkan oleh muntah dan demam Jangka pendek :
Dalam waktu 4-6 jam suhu tubuh dapat turun

Jangka panjang:
Mempertahankan suhu tubuh normal ( 36º C - 37º C )  










Jangka pendek : 
Peningkatan masukan nutrisi peroral

Jangka panjang :
Masukan nutrisi adekuat.









Jangka pendek : 
Mempertahankan keseimbangan masukan dan keluaran cairan

Jangka panjang :
Mempertahankan volume cairan yang adekuat 1. Pantau suhu tubuh secara berkala tiap 4-6 jam.

2. Anjurkan pasien untuk banyak minum

3. Beri kompres dingin pada dahi pasien

4. Kolaborasi pemberian obat antiperitika dan antibiotika.




1. Anjurkan pasien untuk makan makanan yang disukai dan bukan kontraindikasi.




2. Beri makan dalam porsi sedikit tapi sering

3. Beri nutrisi parenteral total, terafi IV sesui indikasi


1. Awasi TV.






2. Observasi kulit, membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat.


3. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral sesui indikasi.
 1. Suhu tubuh 38,9º C - 41º C menunjukan adanya penyakit infeksi usus.

2. Mencegah dehidrasi dan menjaga kelembaban kulit.

3. Menurunkan suhu tubuh melalui proses konduksi.


4. Antiperetika untuk mengurangi demam dengan aksi sentral pada hypothalamus dan antibiotika untuk penanganan infeksi.


1. Untuk membangkitkan selera dan nafsu makan pasien






2. Untuk meningkatkan makan/ masukan nutrisi yang lebih adekuat.

3. Program ini untuk mengistirahatkan saluran gastrointestinal sementara memberikan nutrisi penting.

1. Hipotensi, takhi kardi dan demam dapat menunjukan respon terhadap efek kehilangan cairan.


2. Mengetahui secara dini tanda kehilangan cairan yang berlebihan.




3. Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan pergantian cairan untuk memperbaiki kehilangan. 1. Pukul 10.30 mengukur suhu tubuh. Temp 37º C.

2. Memberi anjuran untuk memperbanyak minum.
3. Mengkompres dahi dengan air dingin.


4. Membantu pasien minum obat dan menjelaskan fungsi dari obat tersebut.




1. Memberi dukungan pasien untuk memakan makanan yang disukai dan menerangkan makanan kontraindikasi.


2. Menganjurkan makan sedikit tapi sering.

3. Memonitor kelancaran jalannya cairan infus.



1. Mengukur TD, temp, nadi, dan memasukan dalam catatan perkembangan pasien.

2. Mengobserpasi membran mukosa dan turgor kulit kalau ada terjadi dehidrasi.


3. Memonitor lancarnya jalan cairan infus.
20 tts/mt.

 
 CATATAN PERKEMBANGAN.


NO HARI / TANGGAL NO DX PERKEMBANGAN PARAF
1












2











3

 Jum’at
19-10-2001











Jum’at
19-10-2001










Sabtu
20-10-2001 1












2











3 S: Pasien mengatakan panas badannya sudah turun.
O: Temp 36º C .
A: Suhu tubuh sudah memasuki rentang normal.
P: Intervensi kompres dingin dihentikan, yang lain diteruskan.


S: Pasien mengatakan lebih segar dan tidak ada mual.
O: Makanan mulai dihabiskan walaupun dalam bentuk bubur. Muntah tidak ada.
A: Masukan nutrisi terpenuhi.
P: Intervensi diteruskan selama proses penyembuhan.

S: Pasien merasa lebih bertenaga.
O:Demam berkurang, muntah tidak terjadi lagi.
A: Potensial masalah tidak terjadi.
P: Tetap jalankan intervensi selama proses penyenbuhan.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar