Kamis, 10 September 2009

KARSINOMA SEKUM

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN KARSINOMA SEKUM
________________________________________

I. KONSEP MEDIS

A. Pengertian
Karsinoma sekum merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian sekum yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali.

B. Insidens dan Faktor Risiko
Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang sekum terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut:
1. Kebiasaan diet rendah serat.
2. Polyposis familial
3. Ulcerasi colitis
4. Deversi colitis

C. Patofisiologi
Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal.
Tumor-tumor pada sekum dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena.
Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering, penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut.

D. Gambaran Klinis
Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor. 
Tumor pada sekum dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma sekum menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

E. Diagnosis Banding
1. Kolitis ulserosa
2. Penyakit Chron
3. Kolitis karena amuba atau shigella
4. Kolitis iskemik pada lansia
5. Divertikel kolon

F. Prosedur Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan:
1. Anamnesis yang teliti, meliputi:
 Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit)
 Perdarahan per anum
 Penurunan berat badan
 Faktor predisposisi:
o Riwayat kanker dalam keluarga
o Riwayat polip usus
o Riwayat kolitis ulserosa
o Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
o Uretero-sigmoidostomi
o Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
2. Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:
 Status gizi
 Anemia
 Benjolan/massa di abdomen
 Nyeri tekan
 Pembesaran kelenjar limfe
 Pembesaran hati/limpa
 Colok rektum(rectal toucher)
3. Pemeriksaan laboratorium
4. Pemeriksaan radiologis
5. Endoskopi dan biopsi
6. Ultrasonografi
Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan.

G. Pengobatan
Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.
1. Pilihan utama adalah pembedahan
2. Radiasi pasca bedah diberikan jika:
a. sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria
b. ada metastasis ke kelenjar limfe regional
c. masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh.
(Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).
3. Obat sitostatika diberikan bila:
a. inoperabel
b. operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali.
Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:
1. Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus.
2. Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan
3. Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)
Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Selama pemberian, harus diawasi kadar Hb, leukosit dan trombosit darah.Pada stadium lanjut obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan.

 
II. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

A. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:

1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Kelemahan, kelelahan/keletihan
- Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.
- Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.

2. Sirkulasi:
Gejala:
- Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda:
- Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.

3. Integritas ego:
Gejala:
- Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
- Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
- Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda:
- Menyangkal, menarik diri, marah.

4. Eliminasi:
Gejala:
- Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda:
- Perubahan bising usus, distensi abdomen
- Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah

5. Makanan/cairan:
Gejala:
- Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)
- Anoreksia, mual, muntah
- Intoleransi makanan
Tanda:
- Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot

6. Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
- Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit

7. Keamanan:
Gejala:
- Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
- Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia

8. Interaksi sosial
Gejala:
- Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
- Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

9. Penyuluhan/pembelajaran:
- Riwayat kanker dalam keluarga
- Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
- Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
- Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari


B. Tes Diagnostik
Tes diagnostik yang sering dilakukan diuraikan pada tabel berikut:
Jenis Pemeriksaan Tujuan/Interpretasi Hasil

1. Pemeriksaan laboratorium:
 Tinja

 CEA (Carcino-embryonic anti-gen)





2. Pemeriksaan radiologis



3. Endoskopi dan biopsi




4. Ultrasonografi 

Untuk mengetahui adanya darah dalam tinja (makroskopis/mikroskopis)
Kurang bermakna untuk diagnosis awal karena hasilnya yang tidak spesifik serta dapat terjadi psoitif/negatif palsu tetapi bermanfaat dalam mengevaluasi dampak terapi dan kemungkinan residif atau metastase.

Perlu dikerjakan dengan cara kontras ganda (double contrast) untuk melihat gambaran lesi secara radiologis.

Endoskopi dengan fiberscope untuk melihat kelainan struktur dari rektum sampai sekum. Biopsi diperlukan untuk menentukan jenis tumor secara patologi-anatomis.

Diperlukan untuk mengtahui adanya metastasis ke hati.



C. Prioritas Keperawatan
1. Dukungan proses adaptasi dan kemandirian
2. Meningkatkan kenyamanan
3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal
4. Mencegah komplikasi
5. Memberikan informasi tentang penyakit, perawatan dan kebutuhan terapi.


III. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.
Ditandai dengan:
 Peningkatan bunyi usus/peristaltik
 Peningkatan defekasi cair
 Perubahan warna feses
 Nyeri/kram abdomen
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
Ditandai dengan:
 Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk
 Peningkatan bunyi usus
 Konjungtiva dan membran mukosa pucat
 Mual, muntah, diare
3. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma)
Ditandai dengan:
 Eksaserbasi penyakit tahap akut
 Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan
 Iritabel
 Fokus perhatian menyempit
4. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat)
Ditandai dengan:
 Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas
 Menyatakan diri tidak berharga
 Depresi dan ketergantungan
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
Ditandai dengan:
 Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan konsep
 Tidak akurat mengikuti instruksi
 Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah

IV. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus. 

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi). 

2. Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral.

3. Ajarkan tentang makanan-minuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan diare.


4. Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses.

5. Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.

6. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program terapi (antibiotika, antikolinergik, kortikosteroid).


 
Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan menyiapkan keperluan klien.


Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan.

Membantu klien menghindari agen pencetus diare.



Menilai perkembangan maslah.


Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan.

Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik, antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi.



2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi


2. Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).

3. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)

4. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia)



5. Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.

 
Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.

Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.

Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan.


Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi.

Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.



3. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma). 

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.



2. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik.


3. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini. 

4. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan.

5. Kolaborasi pemberian obat sedatif.


6. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan.
 
Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.

Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya. 

Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.


Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat.

Menilai perkembangan masalah klien.



4. Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi) b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat).

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Bantu klien mengembangkan strategi pemecahan masalah yang sesuai didasarkan pada kekuatan pribadi dan pengalamannya.

2. Mobilisasi dukungan emosional dari orang lain (keluarga, teman, tokoh agama, penderita kanker lainnya)

3. Kolaborasi terapi medis/keperawatan psikiatri bila klien mengalami depresi/agresi yang ekstrim.


4. Kaji fase penolakan-penerimaan klien terhadap penyakitnya (sesuai teori Kubler-Ross)
 
Penderita kanker tahap dini dapat hidup survive dengan mengikuti program terapi yang tepat dan dengan pengaturan diet dan aktivitas yang sesuai

Dukungan SO dapat membantu meningkatkan spirit klien untuk mengikuti program terapi.

Terapi psikiatri mungkin diperlukan pada keadaan depresi/agresi yang berat dan lama sehingga dapat memperburuk keadaan kesehatan klien.

Menilai perkembangan masalah klien.




5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar klien.

2. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit terhadap perubahan status kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran dan pola interaksi sosial klien.

3. Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping yang dapat terjadi

4. Tekankan pentingnya mempertahan-kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat. 
Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.


Meningkatkan pengetahuan klien tentang masalah yang dialaminya.




Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi.


Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya.  



________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, J Jld.II, BP FKUI, Jakarta





















________________________________________
4 IDENTITAS KLIEN
Nama : Ny.S No. Reg. : 10153977
Umur : 45 tahun Tgl. MRS : 17 April 2002
Jenis Kelamin : ♀ Diagnosa : Ca. Caecum 
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia  
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga.
Pendidikan : SD
Alamat : Kanugraha Maduran RT 5 RW II Lamongan
Penanggung : JPS/Sendiri

RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
Riwayat Sebelum Sakit:
Penyakit berat yang penah diderita : -- 
Obat-obat yang biasa dikonsumsi : --
Kebiasaan berobat : Dokter/Dukun 
Alergi : --
Kebiasaan merokok/alkohol : --

Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan utama MRS : Keluar darah dari anus
Keluhan utama saat ini : Luka operasi
Riwayat keluhan utama : Klien MRS dengan keluhan keluar darah dari anus sejak 10 bulan yl, mual (+), muntah (+), demam sejak seminggu sebelum MRS, BB menurun dalam 1 tahun terakhir. Setelah menjalani perawatan, dilakukan operasi pengangkatan kanker pada usus besar. Saat ini terdapat luka sayat bekas pembedahan pada perut, terpasang drain, kateter, NGT dan infus. Keluhan lemah (+), terbaring di tempat tidur. 
Terapi/operasi dilakukan : Hemicolectomy Dextra pada tanggal 30 April 2002 jam 13.15

Riwayat Kesehatan Keluarga
Genogram:









Riwayat Kesehatan Lingkungan : --

Riwayat Kesehatan Lainnya:
Pasien Ibu (Keluarga Berencana) : menopause

Alat bantu yang dipakai:
-Gigi palsu : ٱ ya ٱ tidak
-Kaca mata : ٱ ya ٱ tidak
-Pendengaran : ٱ ya ٱ tidak
-Lainnya (sebutkan) : --

OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Kesadaran baik, tampak lemah, tirah baring.

Tanda-tanda vital, TB dan BB:
S : 36,8 0C (axilla)
N : 88 x/mnt, teratur, lemah.
TD : 100/60 mmH, lengan kanan, berbaring
RR : 20 x/mnt, normal
HR : 84 x/mnt, teratur
TB : 155 cm
BB : 40 kg.

Body Systems:
Pernapasan (B1: Breathing)
Hidung : Fungsi pernapasan baik, pernapasan cuping hidung (-), terpasang NGT
Trachea : Tak ada kelainan.
Suara tambahan : wheezing (-), ronchi (-), rales (-), crackles (-)
Bentuk dada : simetris

Cardiovaskuler (B2: Bleeding)
Keluhan : Pusing (-), sakit kepala (-), palpitasi (-), nyeri dada (-), kram kaki (-)
Suara jantung: S1/S2 normal/murni
Edema: --

Persyarafan (B3: Brain)
Kesadaran : Composmentis GCS: E = 4, V = 5, M = 6
Nervus Cranial : Tidak ada kelainan

Perkemihan-Eliminasi Uri (B4: Bladder)
Produksi urine : ± 1500 ml Frekuensi : -- x/hari, terpasang kateter
Warna : kekuningan Bau : biasa
Keluhan : tidak ada masalah 

Pencernaan-Eliminasi Alvi (B5: Bowel)
Mulut dan tenggorok : Fungsi menelan terganggu (terpasang NGT), kebersihan mulut ↓
Abdomen : Bising usus menurun, distensi (-), luka post op hemicolectomy (+), terpasang drain, eksudasi drain lancar, volume ± 50 ml, nyeri luka (+), peradangan (-)
Rectum : tdk dikaji
BAB : belum BAB sejak post op.
Diet : VB (Vloy Barr)

Tulang-Otot-Integumen (B6: Bone)
Kemampuan pergerakan sendi : bebas
- Parese (-), paralise (-), hemiparese (-)
Extremitas : massa otot menurun/lapisan lemak sub kutan menurun.
Tulang belakang : skolisis (-), kifisis (-), lordosis (-).
Kulit :
- Warna kulit : pigmentasi normal
- Akral : hangat
- Turgor : cukup

Sistem Endokrin
Terapi hormon : --
Karakteristik sex sekunder: normal
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik: tidak ada kelainan 

Sistem Reproduksi
Perempuan: 
-Payudara : simetris, tidak ada benjolan
-Kelamin : tidak dikaji
-Siklus haid : menopause
 
PSIKOSOSIAL
Sosial/Interaksi:
Dukungan keluarga : aktif
Dukungan kelompok/teman/masyarakat : aktif
Reaksi saat interaksi : kurang antusias, kesan kelemahan (+)

Spiritual:
Konsep tentang penguasa kehidupan : Allah
Sumber kekuatan/harapan saat sakit : Allah
Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : Sholat
Sarana/peralatan/orang yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini: ibadah
Upaya kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan agama: tidak ada
Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit saat ini: Ya
Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan: Ya
Persepsi terhadap penyebab penyakit: Cobaan/peringatan

Kebutuhan Pembelajaran:
- Klien menanyakan ka-pan bisa minum dan makan seperti biasa.
- Klien menanyakan apa-kah akan mendapatkan terapi sinar dan anti kanker.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : (5/5-2002)
Kalium serum 3.8 mEq/L, Na serum 131 mEq/L, Cl serum 109 mEq/L, WBC 3.7, Hb 9.2, Ht 30.4, PLT 238.000, Lymph. 37.5%, MXD 7.9%, Neutr. 54.6%. 

Foto abdomen : Contras colon in loop dengan barium single contrast (24/4-02) 
- Menyokong suatu massa di colon ascendens dekat flexura hepatica (Ca Caecum?)

USG abdomen : 
- Hepar kesan membesar, tidak tampak massa
- Lien kesan membesar, tidak tampak massa
- Pankreas normal
- Ren D/S, normal
- Buli, uterus, adnexa D/S tak tampak massa
- Tampak massa pada colon dextra (Caecum), massa solid ukuran 8 x 3 cm
* Kesimpulan: Massa colon dextra (Tumor Caecum?)

TERAPI
Tgl 6/5-2002:
- Infus (trio): E 1000 1500 ml
KAEN MG 3 1000 ml
Panamin G 1500 ml
- Kalfoxim  
- Acran 
- Becombion 
- Rawat luka
- Aff NGT
- Aff drain


 ANALISA DATA

Data Penyebab Masalah

DS:
- Klien menyatakan ter-jadi penurunan BB dalam 1 tahun terakhir
- Mual (+), muntah (+),
DO:
- BB = 40 kg, 
- TB = 155 cm.
- Massa otot menurun/ lapisan lemak sub kutan menurun.
- Terpasang infus Pan-amin G.
- Terpasang NGT
- Diet Vloy Barr (VB)
________________________________________
DS:
- Klien mengeluh lemah.
DO:
- Terdapat luka pasca bedah Hemicolectomy Dextra, terpasang drain (eksudasi + 50 ml), peradangan (-)
- Terpasang infus.
- Terpasang NGT
- Terpasang kateter urine  
________________________________________
DS:
- Klien menanyakan ka-pan bisa minum dan makan seperti biasa.
- Klien menanyakan apa-kah akan mendapatkan terapi sinar dan anti kanker.
- Pendidikan SD

DO: --

 
Proses keganasan pada usus besar (Caecum)

Peningkatan BMR (status hipermetabolisme)

Nafsu makan menurun

Asupan nutrisi tidak adekuat

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh





________________________________________
Ca Caecum
↓ 
Penurunan daya imunitas tubuh
+
Prosedur terapi invasif:
- Pasca bedah Hemicolectomy
- Pemasangan infus
- Pemasangan kateter urine
- Pemasangan NGT

Risiko terpapar agen patogen ↑
________________________________________
Ca Caecum 
+ Pasca Bedah Hemicolectomy Dextra

Kebutuhan informasi tentang dampak penyakit dan pembedahan terhadap fungsi/kebutuhan aktivitas sehari-hari 

- Akses terhadap informasi terbatas
- Sumber informasi tidak akurat
- Salah interpretasi terhadap informasi

Kurang pengetahuan
 
Perubahan nutrisi kurang dari kebu-tuhan tubuh 












________________________________________
Risiko infeksi se-kunder.









________________________________________
Kurang pengeta-huan tentang kon-disi, prognosis dan kebutuhan te-rapi

  

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d status hipermetabolisme dan asupan nutrisi yang tidak adekuat sekunder terhadap proses keganasan (Ca Caecum).

2. Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh dan prosedur invasif.

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif






















 RENACANA TINDAKAN 
No & Tanggal Dx.Keperawatan & 
Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
6/5-02
1. 































________________________________________

2. 






































________________________________________
3.  
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d status hipermetabolisme dan asupan nutrisi yang tidak adekuat sekunder terhadap proses keganasan (Ca Caecum).























________________________________________

Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh dan prosedur invasif.

Kriteria hasil:
- Klien akan mencapai penyembuhan luka bedah tanpa mengalami infeksi.
- Klien akan terhindar dari infeksi sekunder akibat pemasangan infus, kateter dan NGT.
























________________________________________

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif

Kriteria hasil:
- Klien akan menyata-kan pemahamannya tentang kondisi dan kebutuhan terapi pe-nyakitnya. 
 
Pertahankan tirah baring selama fase intermediet pasca bedah kemudian lanjutkan dengan mobilisasi bertahap (pasif, aktif, duduk, berdiri dan jalan)

Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).

Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (VB, bubur lunak, bubur kasar, nasi biasa)


Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia)






Pertahankan patensi pemberian nutrisi parenteral.





Evaluasi status kecukupan nutrisi setiap hari.
________________________________________

Lakukan perawatan luka secara aseptik.


Berikan antibiotika sesuai program terapi.



Kaji peristaltik usus dan adanya nyeri abdomen.







Observasi keadaan luka insisi dan eksudasi drain.

Pertahankan patensi pemberian infus dan pemasangan kateter.


Aff drain.




Aff NGT.






Pantau vital sign terutama terhadap adanya demam.
________________________________________

Jelaskan kepada klien proses pemulihan fungsi saluran pencernaan pasca bedah hemikolektomi dalam kaitannya dengan pemberian nutrisi parenteral dan tahapan pemberian diet per oral (VB, bubur lunak, bubur kasar, nasi biasa).

Jelaskan tentang prinsip terapi proses keganasan kolon yang meliputi pembedahan, radiasi dan kemoterapi disesuaikan dengan tahap penyakit klin  


Jelaskan pentingnya pemeriksaan ulang setelah KRS untuk evaluasi dan kemungkinan terapi lanjutan.

Jelaskan pentingnya memperta-hankan nutrisi dan hidrasi yang adekuat.
 
Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mence-gah penurunan kalori dan simpanan energi.


Meningkatkan kenyaman-an dan selera makan.

Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien dengan proses keganasan.

Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi kare-na malbasorbsi.

Pemberian peroral mung-kin tidak mencukupi kebutuhan kalori dan energi atau dihentikan sementara untuk mengisti-rahatkan saluran cerna.

Menilai perkembangan masalah klien.
________________________________________

Mempercepat penyembuh-an dan mencegah konta-minasi gen patogen.

Antibiotika berfungsi membunuh atau meng-hambat pertumbuhan mik-roba.

Peningkatan atau penu-runan peristaltik usus yang disertai peningkatan nyeri abdomen dapat menunjuk-kan terjadinya komplikasi pasca bedah.



Deteksi dini terdadap infeksi luka insisi.

Menjamin terpenuhinya kebutuhan klien tanpa komplikasi.

Drain luka pasca bedah hemikolektomi dilepas se-telah eksudasi menurun (< 100 ml)

Fungsi menelan, peris-taltik usus normal dan mobilisasi sudah memungkinkan klien untuk memulai asupan diet per oral.

Menilai perkembangan masalah klien.
________________________________________

Diet parenteral dan pentahapan diet peroral penting untuk disesuaikan dengan kemampuan fungsi absorbsi dan ekskresi usus pasca pembedahan.



Pilihan utama terapi adalah pembedahan, radiasi dan kemoterapi mungkin diperlukan ter-gantung keadaan penyakit klien.

Meningkatkan partisipasi klien dalam proses terapi.


Asupan nutrisi dan hidrasi yang adekuat perlu untuk pemulihan dan untuk mengimbangi status hiper-metabolisme (keganasan).













TINDAKAN KEPERAWATAN 

Tgl Jam Tindakan Keperawatan Nama Perawat

7/4-2002
































 



09.30





12.00



12.45

12. 50


________________________________________



09.00


12.00



12.30








________________________________________



10.00

















13.00







 
Dx.1 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh …

Membantu klien latihan mobilisasi: duduk di tempat tidur

Menganjurkan klien untuk melakukan perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).

Membantu menyiapkan kebutuhan diet : Bubur lunak (sebelumnya boleh minum sedikit-sedikit kemudian disusul dengan VB)

Membantu klien minum obat : Becombion.

Mengevaluasi pemberian nutrisi parenteral:
- Infus berjalan lancar.

________________________________________

Dx.2 Risiko infeksi …

Membantu perawatan luka (ganti kasa pembalut steril, aff drain).

Memberikan obat:
- Kalfoxim
- Acran

Observasi:
- Luka insisi: tanda-tanda peradangan (-)
- Peristaltik usus normal
- Nyeri abdomen (-)
- Infus lancar
- Kateter masih terpasang, hematuri (-), nyeri (-)
- Drain dan NGT sudah dilepas.
- VS : T 110/70, N 80, RR 20 t 36.10C

________________________________________

Dx.3 Kurang pengetahuan …

Menjelaskan kepada klien proses pemulihan fungsi saluran pencernaan pasca bedah hemikolektomi dalam kaitannya dengan pemberian nutrisi parenteral dan tahapan pemberian diet per oral (VB, bubur lunak, bubur kasar, nasi biasa).

Menjelaskan tentang prinsip terapi proses keganasan kolon yang meliputi pembedahan, radiasi dan kemoterapi disesuaikan dengan tahap penyakit klin  



Menjelaskan pentingnya pemeriksaan ulang setelah KRS untuk evaluasi dan kemungkinan terapi lanjutan.

Menjelaskan pentingnya mempertahankan nutrisi dan hidrasi yang adekuat.

Menilai pemahaman klien atas penjelasan yang telah diberikan, dengan hasil klien mengerti tentang:
- diet bertahap per oral
- terapi carsinoma (pembedahan, radiasi dan kemoterapi)
- pentingnya asupan diet dan nutrisi yang adekuat
- pentingnya pemeriksaan ulang secara berkala 



A. Kadir A.














________________________________________



A. Kadir A.















________________________________________


A. Kadir A.



















Tgl Diagnosa Evaluasi Nama Perawat

8/5-02










































 
Dx.1:
Perubahan nutrisi ku-rang dari kebutuhan tubuh












________________________________________
Dx.2:
Risiko infeksi















________________________________________
Dx.3
Kurang pengetahuan  
S: Nafsu makan baik, mual (-), muntah (-), kembung (-), nyeri abdomen (-), BAB (-), lemah (+)

O: Diet (bubur kasar) dihabiskan, mobilisasi duduk (+), berdiri (+)

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi:
- Diet peroral bertahap (bubur kasar → nasi)
- Diet ekstra telur 8 butir/hari, susu 4 x 250 ml.
- Obat roborans peroral ( 2 x 1)
- Nutrisi parenteral stop.
- Kaji kesulitan BAB

________________________________________

S: Nyeri ringan luka operasi, nyeri abdomen (-), demam (-)

O: Luka bersih, tanda - tanda peradangan (-), VS: T 100/60, N 88, RR 18, t 370C
  Hasil PA: Invasive adenocarcinoma Poorly Differentiated menembus serosa (Duke’s B2), ujung operasi tidak tampak keganasan, tidak didapatkan metastase KGB.

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi:
- Rawat luka steril
- Ajarkan perawatan luka
- Aff kateter dan infus
________________________________________

S: Klien mengerti tentang:
- diet bertahap per oral
- terapi carsinoma (pembedahan, radiasi dan kemoterapi)
- pentingnya asupan diet dan nutrisi yang adekuat
- pentingnya pemeriksaan ulang secara berkala

O: Klien dapat menjawab pertanyaan yang diajukan.

A: Masalah teratasi.

P: --

 
A.Kadir A.















________________________________________

A.Kadir A.















________________________________________
A.Kadir A.
Tgl Diagnosa Evaluasi Nama Perawat

9/5-02






















 
Dx.1:
Perubahan nutrisi ku-rang dari kebutuhan tubuh









________________________________________Dx.2:
Risiko infeksi








 
S: Nafsu makan baik, mual (-), muntah (-), kembung (-), nyeri abdomen (-), BAB (+), lemah (+)

O: Diet (bubur kasar) dihabiskan, mobilisasi berdiri (+), berjalan (+)

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi:
- Diet peroral bertahap (bubur kasar → nasi)
- Diet ekstra telur 8 butir/hari, susu 4 x 250 ml.
- Obat roborans peroral ( 2 x 1)
________________________________________

S: Nyeri luka operasi (-), nyeri abdomen (-), demam (-)

O: Luka bersih, tanda - tanda peradangan (-), VS: T 110/70, N 80, RR 20, t 36.70C

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi:
- Rawat luka steril
- Observasi vital sign. 
A.Kadir A.












________________________________________
A.Kadir A.



















EVALUASI

Tgl Diagnosa Evaluasi Nama Perawat

10/5-02






















 
Dx.1:
Perubahan nutrisi ku-rang dari kebutuhan tubuh








________________________________________Dx.2:
Risiko infeksi








 
S: Nafsu makan baik, mual (-), muntah (-), kembung (-), nyeri abdomen (-), BAB (+), lemah (-)

O: Diet (nasi) dihabiskan, mobilisasi: berjalan (+)

A: Masalah teratasi sebagian, klien rencana KRS.

P: Lanjutkan intervensi:
- Ajarkan tentang diet dan penatalaksanaan obat-obatan di rimah.
________________________________________

S: Nyeri luka operasi (-), nyeri abdomen (-), demam (-)

O: Luka bersih, tanda - tanda peradangan (-), VS: T 110/70, N 84, RR 18, t 36.50C

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Lanjutkan intervensi:
- Rawat luka steril
- Ajarkan tentang perawatan luka di rumah
- Ingatkan perlunya kontrol ulang di Poli Bedah.
 
A.Kadir A.











________________________________________
A.Kadir A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar