Kamis, 10 September 2009

KARSINOMA PROSTAT

 
 
Oleh : Subhan, 

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Carsinoma prostat atau kanker prostat adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel pada jaringan prostat yang tidak normal/abnormal yang merupakan kelainan atau suatu keganasan pada saluran perkemihan khususnya prostat pada bagian lobus perifer sehingga timbul nodul-nodul yang dapat diraba

a. Anatomi fisiologi

Kelenjar prostat
Prostat adalah suatu organ yang terdiri dari komponen kelenjar, stroma dan muskular. Kelenjar ini mulai tumbuh pada kehamilan umur 12 minggu karena pengaruh dari horman androgen yang berasal dari testis janin. Prostat merupakan derivat dari jaringan embrional sinus urogenital. Kelenjar prostat bentuknya seperti konnus terbalik yang terjepit (kemiri ). ( 7 )
Letak kelenjar prostat disebelah inferior buli-bulu, didepan rektum dan membungkus uretra posterior. Ukuran rata-rata prostat pada pria dewasa 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. ( 1 )
Pada tahun 1972 Mc. NEAL, mengemukakan konsep tantang zona anatomi dari prostat. Menurut Mc. NEAL, komponen kelenjar dari prostat sebagian besar terletak/membentuk zona perifer. Zona perifer ini ditambah dengan zona sentral yang terkecil merupakan 95 % dari komponen kelenjar. Komponen kelenjar yang lain ( 5% ) membentuk zona transisi. Zona transisi ini terletak tepat di luar uretra di daerah verumontanum. Proses hiperplasia dimulai di zona transisi ini. Sebagian besar proses keganasan (60-70 % ) bermula di zona perifer, sebagian lagi dapat tumbuh di zona transisi dan zona sentral. (7)
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. Cairan kelenjar ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Cairan ini merupakan 25 % dari volume ejakulat. ( 1 )
Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih. ( 1 )

b. Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya ca prostat ; tetapi beberapa hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya ca mammmae adalah: ( 1 )
a. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut.
b. Peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
c. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati
d. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan se epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

c. Patofisiologi ( 6 )

d. Gejala Klinik
Gangguan pola perkemihan baik frekuensi, adanya desakan, nokturia akibat membesarnya ukuran kelenjar yang mendesak urethra. Terjadinya obstruksi urethra mengganggu perkemihan, lama-kelamaan berkembang terjadinya anemi


e. Pemeriksaan Diagnostik ( 1,2,3,4,6,13 )
1. a. Inspeksi buli-buli: ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik ( buli-buli penuh / kosong )
b. Palpasi buli-buli: Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan rangsangan ingin kencing bila buli-buli berisi atau penuh.Terasa massa yang kontraktil dan “Ballottement”.
c. Perkusi: Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
2 . Colok dubur.
Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di perhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal), adakah asimetris adakah nodul pada prostat , apa batas atas dapat diraba .
Dengan colok dubur besarnya prostat dibedakan :
- Grade 1 : Perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram.
- Grade 2 : Perkiraan beratnya antara 20-40 gram.
- Grade 3 : Perkiraan beratnya lebih dari 40 gram.
3. Laboratorium.
- Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum penderita .
- Gula darah dimak sudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetus militus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli nerogen).
- Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas .
- Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi atau inflamasi pada saluran kemih .
- Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa anti mikroba yang diujikan.
4. Flowmetri : 
Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin dengan satuan ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di periksa dengan flowmetri sebelum dan sesudah terapi.
Penilaian : 
Fmak <10ml/detik --------obstruktif
Fmak 10-15 ml/detik-----borderline
Fmak >15 ml/detik-------nonobstruktif
5. Radiologi. 
- Foto polos abdomen, dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli, adanya batu atau kalkulosa prostat dan kadang kadang dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.
- Pielografi intra vena, dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis, dan hidroureter, fish hook appearance ( gambaran ureter berkelok kelok di vesikula ) inclentasi pada dasar buli-buli, divertikel, residu urine atau filling defect divesikula.
- Ultrasonografi (USG), dapat dilakukan secara transabdominal atau trasrektal (trasrektal ultrasonografi = TRUS) Selain untuk mengetahui pembesaran prostat < pemeriksaan USG dapatpula menentukan volume buli-buli, meng ukur sisa urine dan keadaan patologi lain seperti divertikel, tumor dan batu .Dengan TRUS dapat diukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Perkiraan besar prostat dapat pula dilakukan dengan USG suprapubik.
- Cystoscopy (sistoskopi) pemeriksaan dengan alat yang disebut dengan cystoscop. Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran kemungkinan tumor dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen didalam vesika. Selain itu dapat juga memberi keterangan mengenahi besarprostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjalan prostat kedalam uretra.
6. Kateterisasi: Mengukur “rest urine “ Yaitu mengukur jumlah sisa urine setelah miksi sepontan dengan cara kateterisasi . Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hiper tropi prostat .

4. Penatalaksanaan
Hanya dengan dilakukan prostatektomi yang merupakan reseksi bedah bagian prostat yang memotong uretra untuk memperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut, ada beberapa alternatif pembedahan meliputi :
a. Transsurethral resection of prostate (TURP)
Dimanan jaringan prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra diangkat dengana sistoskop/resektoskop dimasukkan melalui uretra 
b. Suprapubic /open prostatektomi 
Dengan diindikasikan untuk massa lebih dari 60 g/60 cc. penghambat jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih,pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih. Pedekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih.
c. Retropubic prostatektomi
Massa jairingan prostat hipertropi (lokasi tinggi dibagian pelvis) diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung kemih
d. Perineal prosteatektomi
Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi diantara skrotum dan rektum, prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.

B. Asuhan Keperawatan
Perawat melakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Dengan proses keperawatan, perawat memakai latar belakang, pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi intervensi keperawatan.
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosis keperawatan.
Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi prostektomi dan penkajian post operasi prostatektomi
a) Pengkajian pre operasi prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS sampai saat operasinya, yang meliputi : 

1 Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no. rigester dan diagnosa medis. 
2 Riwayat penyakit sekarang 
Pada klien ca prostat keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi , nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/ puas sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi memenjang dan akirnya menjadi retensio urine.
3 Riwayat penyakit dahulu . 
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan, misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit kronis yang pernah di derita. Operasi yang pernah di jalani kecelakaan yang pernah dialami adanya riwayat penyakit DM dan hipertensi .
4 Riwayat penyakit keluarga . 
adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit ca prostat Anggota keluargayang menderita DM, asma, atau hipertensi.
5 Riwayat psikososial
a. Intra personal
Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul kecemasan. Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan tentang prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan dapat dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien tentang sakitnya.
b. Inter personal
Meliputi peran klien dalam keluarga dan peran klien dalam masyarakat.
6 Pola fungsi kesehatan
c. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat 
Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan tembakau, penggunaan obat-obatan, penggunaan alkhohol dan upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan berkala, gizi makanan yang adekuat )
d. Pola nutrisi dan metabolisme 
Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang mengganggu nutrisi seperti nause, stomatitis, anoreksia dan vomiting. Pada pola ini umumnya tidak mengalami gangguan atau masalah.
e. Pola eliminasi 
Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu ragu, menetes - netes, jumlah klien harus bangun pada malam hari untuk berkemih, kekuatan system perkemihan. Klien juga ditanya apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran kemih. Klien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rectum.
f. Pola tidur dan istirahat . 
Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang berkurang karena frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ). Kebiasaan tidur memekai bantal atau situasi lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan. Upaya mengatasi kesulitan tidur. 
g. Pola aktifitas . 
Klien ditanya aktifitasnya sehari – hari, aktifitas penggunaan waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada umumnya aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan, dimana klien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari sendiri. 
h. Pola hubungan dan peran
Klien ditanya bagaimana hubungannya dengan anggota keluarga, pasien lain, perawat atau dokter. Bagai mana peran klien dalam keluarga. Apakah klien dapat berperan sebagai mana seharusnya. 
i. Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau dirasakan klien sebelum pembedahan . Biasanya muncul kecemasan dalam menunggu acara operasinya. Tanggapan klien tentang sakitnya dan dampaknya pada dirinya. Koping klien dalam menghadapi sakitnya, apakah ada perasaan malu dan merasa tidak berdaya.
j. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan pendengaran dari klien. Pola kognitif berisi tentang proses berpikir, isi pikiran, daya ingat dan waham. Pada klien biasanya tidak terdapat gangguan atau masalah pada pola ini.

k. Pola reproduksi seksual
Klien ditanya jumlah anak, hubungannya dengan pasangannya, pengetahuannya tantangsek sualitas. Perlu dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang, masalah seksual yang dialami sekarang ( masalah kepuasan, ejakulasi dan ereksi ) dan pola perilaku seksual.
l. Pola penanggulangan stress
Menanyakan apa klien merasakan stress, apa penyebab stress, mekanisme penanggulangan terhadap stress yang dialami. Pemecahan masalah biasanya dilakukan klien bersama siapa. Apakah mekanisme penanggulangan stressor positif atau negatif.
m. Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama apa, bagaimana dengan aktifitas keagamaannya. Kebiasaan klien dalam menjalankan ibadah.
7 Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara, status/ habitus, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi. 
n. Kulit
Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya, adakah kelainan pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku klien ,
o. Kepala
Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan, nyeri kepala atau trauma pada kepala.
p. Muka
Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang bagaimana keadaannya, begitu pula bagaimana otot mukanya.
q. Mata
Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema atau tidak. Pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan perdarahan. Slera tampak ikterus atau tidak.
r. Telinga
Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda asing. Bagaimana bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.
s. Hidung
Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret, apa ada obstruksi atau polip, apakah hidung berbau dan adakah pernafasan cuping hidung.
t. Mulut dan faring
Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada perdarahan atau ulkus. Lidah tremor ,parese atau tidak. Adakah pembesaran tonsil.
u. Leher
Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran kelenjar limphe.
v. Thoraks
Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
w. Paru
Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau penarikan. Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah ada suara nafas tambahan seperti ronchi , wheezing atau egofoni.
x. Jantung
Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau tidak).Bagaimana dengan iktus atau getarannya.
y. Abdomen 
Bagaimana bentuk abdomen. Pada klien dengan keluhan retensi umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra pubik. Apakah ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada klien biasanya terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal teraba atau tidak. Peristaklit usus menurun atau meningkat.
z. Genitalia dan anus
Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat dapat teraba pada saat rectal touché. Pada klien yang terjadi retensi urine, apakah trpasang kateter, Bagaimana bentuk scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya ada haemorhoid.
aa. Ekstrimitas dan tulang belakang
Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari – jari tremor apa tidak. Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada tanda – tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan. Bentuk tulang belakang bagaimana.
8 Pemeriksaan diagnostik
Untuk pemeriksaan diagnostik sudah dijabarkan penulis pada konsep dasar.

b) Pengkajian post operasi prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan setelah klien menjalani operasi, yang meliputi:

1. Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda – beda antara klien yang satu dengan yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post operasi prostektomi adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan dari klien sendiri.
2. Keadaan umum
Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.
3. Sistem respirasi
Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas atau tidak. Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama nafas, suara nafas. Ada wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan otot Bantu nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan perut. Tanda – tanda cyanosis ada atau tidak.
4. Sistem sirkulasi
Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah, suhu tubuh, monitor jantung ( EKG ).
5. Sistem gastrointestinal
Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi / obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum, apakah ada mual dan muntah.
6. Sistem neurology
Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri kepala.
7. Sistem muskuloskleletal
Bagaimana aktifitas klien sehari – hari setelah operasi. Bagaimana memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan dibagian mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus. Keadaan ekstrimitas.
8. Sistem eliminasi
Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada tanda – tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari. Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.
9. Terapi yang diberikan setelah operasi
Infus yang terpasang, obat – obatan seperti antibiotika, analgetika, cairan irigasi kandung kemih.

c. Analisa data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan masalah klien. Analisa merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengklasifikasi data, mengelompokkan, mengkaitkan, menentukan kesenjangan informasi, membandingkan dengan standart, menginterpretasikan serta akhirnya membuat kesimpulan. Penulis membagi analisa menjadi 2, yaitu analisa sebelum operasi dan analisa setelah operasi.
 
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Tahap akhir dari pengkajian adalah merumuskan diagnosa keperawatan yang merupakan penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian keoerawatan. Dari analisa data diatas dapat dirumuskan suatu diagnosis keperawatan yang dibagi menjadi 2, yaitu diagnosa sebelum operasi dan diagnosa setelah operasi.
1. Diagnosa sebelum operasi
a. Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, hesistancy, inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi sehubungan dengan obstruksi mekanik : pembesaran prostat. ( 5,8 )
b. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap pelebaran prostat. ( 5,9 )
c. Cemas sehubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan, kurang pengetahuan tantang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi. ( 5,8,10 )
d. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi disuria, frekuensi, nokturia. ( 11 )

2. Diagnosa setelah operasi
a. Nyeri sehubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder pada prostatektomi ( 2 ,8,9,10 )
b. Perubahan eliminasi urine sehubungandengan obstruksi sekunder dari prostatektomi bekuan darah odema ( 2 , 5 )
c. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur invasif : alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering ( 2 , 5,8,10 )
d. Potensial untuk menderita cedera: perdarahan sehubungan dengan tindakan pembedahan ( 2 , 9 , 10 )
e. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari prostatektomi ( 2, 8,10 )
f. Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi sehubungan dengan kurang informasi . ( 2,8,9 )
g. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan nyeri. (11)
   
3. PERENCANAAN .
Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi dan aktifitas keperawatan perlu di tetapkan untuk untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahap ini disebut sebagai perencanaan keperawatan yang terdiri dari: menentukan prioritas diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran ( goal ), dan tujuan (obyektif ), menetapkan kriteria evaluasi, merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan. (5) Selanjutnya dibuat perencanaan dari masing – masing diagnosa keperawatan sebagai berikut : 
1. Sebelum operasi 
a . Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, resistancy, inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi sehubungan dengan obtruksi mekanik: pembesaran prostat. 
Tujuan: Pola eliminasi normal . 
Kriteria hasil : 
- Klien dapat berkemih dalam jumlah normal, tidak teraba distensi kandung kemih 
- Residu pasca berkemih kurang dari 50 ml
- Klien dapat berkemih volunter 
- Urinalisa dan kultur hasilnya negatif 
- Hasil laboratorium fungsi ginjal normal 
Rencana tindakan : 
1. Jelaskan pada klien tentang perubahan dari pola eliminasi . 
2. Dorong klien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam dan bila dirasakan .
3. Anjurkan klien minum sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi jantung bila diindikasikan 
4. Perkusi / palpasi area supra pubik 
5. Observasi aliran dan kekuatan urine, ukur residu urine pasca berkemih. Jika volume residu urine lebih besar dari 100 cc maka jadwalkan program kateterisasi intermiten.
6. monitor laboratorium: urinalisa dan kultur, BUN, kreatinin. 
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat: antagonis Alfa - adrenergik (prazosin)
Rasional :
1 . Meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan. 
2 . Meminimalkan retensi urine, distensi yang berlebihan pada kandung kemih 
3 . Peningkatan aliran cairan, mempertahankan perfusi ginjal dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan bakteri. 
4. Distensi kandung kemih dapat dirasakan di area supra pubik. 
5. - Observasi aliran dan kekuatan urine untuk mengevaluasi adanya obstruksi 
- Mengukur residu urine untuk mencegah urine statis karena dapat beresiko infeksi 
6. Statis urinarias potensial untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko ISK. Pembesaran prostat dapat menyebabkan dilatasi saluran kemih atas (ureter dan ginjal), potensial merusak fungsi ginjal dan menimbulkan uremia.
7. Mengurangi obstruksi pada buli-buli, relaksasi didaerah prostat sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang.

b. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap pelebaran prostat.
Tujuan : Klien menunjukan bebas dari ketidaknyamanan
Kriteria hasil : 
- Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol
- Ekspresi wajah klien rileks
- Klien mampu untuk istirahat dengan cukup
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan :
2. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 1-10 ), dan lamanya.
3. Beri tindakan kenyamanan, contoh: membantu klien melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan relaksasi / latihan nafas dalam.
4. Beri kateter jika diinstruksikan untuk retensi urine yang akut : mengeluh ingin kencing tapi tidak bisa.
5. Observasi tanda – tanda vital.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat sesuai indikasi, contoh: eperidin ( Dumerol )
Rasional :
1. Memberi informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan Intervensi
2. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
3 Retensi urine menyebabkan infeksi saluran kemih, hidro ureter dan hidro nefrosis
4. Mengetahui perkembangan lebih lanjut
5. Untuk menghilangkan nyeri hebat / berat, memberikan relaksasi mental dan fisik.

c. cemas sehubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan, kurang pengetahuan tentang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi.
Tujuan: Cemas berkurang / hilang sehingga klien mau kooperatif dalam tindakan perawatan.
Kriteria hasil : 
- Klien melaporkan cemas menurun / berkurang.
- Klien memahami dan mau mendiskusikan rasa cemas.
- Klien dapat menunjukan dan mengidentifikasi cara yang sehat dalam menghadapi cemas.
- Klien tampak rileks dan dapat beristirahat yang cukup.
- Tanda – tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien atau keluarga.
2. Dorong klien atau keluarga untuk menyatakan perasaan / masalah.
3. Beri informasi tentang prosedur / tindakan yang akan dilakukan, contoh: kateter, urine berdarah, iritasi kandung kemih. Ketahui seberapa banyak informasi yang diinginkan klien.
4. Jelaskan pentingnya peningkatan asupan cairan.
5. Jelaskan pembatasan aktifitas yang diharapkan :  
a. tirah baring untuk hari pertama post operasi
 b.ambulasi progresif yang dimulai hari pertama post operasi
  c.hindari aktifitas yang mengencangkan daerah kandung kemih
6. Observasi tanda - tanda vital.  
Rasional :
1. Menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu. Membantu dalam mendiskusikan tentang subyek sensitif.
2. Mengidentifikasi masalah, memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah. 
3. Membantu klien memahami tujuan dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah karena ketidaktahuan.
4. Urine yang encer dapat menghambat pembentukkan klot.
5. Pemahaman klien dapat membantu mengurangi cemas yang berhubungan dengan kecemasan akibat ketidaktahuan.
7. Perubahan tanda – tanda vital mungkin menunjukkan tingkat kecemasan yang dialami klien. 

d. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi, disuria, frekuensi, nokturia.
Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.
Kriteria hasil:
- Klien mampu istirahat / tidur dengan waktu yang cukup.
- Klien mengungkapkan sudah bisa tidur.
- Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.
Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur / istirahat dan kemungkinan cara untuk menghindarinya.
2. Ciptakan suasana yang mendukung dengan mengurangi kebisingan.
3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.  
4. Batasi masukan cairan waktu malam hari dan berkemihsebelum tidur.  
5. Batasi masukan minuman yang mengandung kafein.

Rasional :
1. Meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien mau kooperatif terhadap tindakan keperawatan.
2. Suasana yang tenang akan mendukung istirahat klien.
3. Menentukan rencana untuk mengatasi gangguan. 
4. Mengurangi frekuensi berkemih malam hari.
5. Kafein dapat merangsang untuk sering berkemih.

2. Sesudah operasi
a. Nyeri sehubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada prostatektomi
Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : 
- Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
- Ekspresi wajah klien tenang.
- Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.
- Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.
- Tanda – tanda vital dalam batas normal.
- Keluarnya urine melalui sekitar kateter sedikit.
Rencana tindakan :
1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.
2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.
3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.
6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.
7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.
8. Observasi tanda – tanda vital
9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan ( analgesik atau anti spasmodik )
lRasional :
1. Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.
2. Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan.
3. Meberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.
4. Mengurang kemungkinan spasmus.
5. Mengurangi tekanan pada luka insisi
6. Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
7. Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.
8. Mengetahui perkembangan lebih lanjut.
9. Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.

b. Perubahan pola eliminasi urine sehubungan dengan obstruksi sekunder dari prostatektomi bekuan darah, edema.
Tujuan: Eliminasi urine normal dan tidak terjadi retensi urine.
Kriteria hasil:
- Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi.
- Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih.
- Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.
Rencana tindakan:
1. Kaji output urine dan karakteristiknya
3. Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam pertama
4. Pertahankan posisi dower kateter dan irigasi kateter.
5. Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi.
6. Setalah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah urine dan ukuran aliran. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan berkemih, urgensi atau gejala – gejala retensi.
Rasional:
1. Mencegah retensi pada saat dini.
2. Mencegah bekuan darah karena dapat menghambat aliran urine.
3. Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine.
4. Melancarkan aliran urine.
5. Mendeteksi dini gangguan miksi.

c. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .
Kriteria hasil:
- Klien tidak mengalami infeksi.
- Dapat mencapai waktu penyembuhan.
- Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.
Rencana tindakan:
1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.
2. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.
3. Pertahankan posisi urobag dibawah.
4. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.
5. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.
Rasional:
1. Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi .
2. Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal.  
3. Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.  
4. Mencegah sebelum terjadi shock.  
5. Mengidentifikasi adanya infeksi.  
6. Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.  


e. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari prostatektomi
Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan 
Kriteria hasil:  
- Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .
- Klien menyatakan pemahaman situasi individual .
- Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .
- Klien mengerti tentang pengaruh prostatektomi pada seksual.
Rencana tindakan :
1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh prostatektomi terhadap seksual .  
2 . Jelaskan tentang : 
a . Kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula .
b . Kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)
3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . 
4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .  
Rasional : 
1 . Untuk mengetahui masalah klien .
2 . Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual.  
3 . Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 
4 . Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik.  

f . Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi sehubungan dengan kurang informasi  
Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .
Kriteria hasil:
- Klien akan melakukan perubahan perilaku.
- Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
- Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .
Rencana tindakan:
1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .  
2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.  
3. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.
4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.  
5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .  
Rasional:
1. Dapat menimbulkan perdarahan .  
2. Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB .  
3. Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .  
4. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .  
5. Untuk membantu proses penyembuhan .  
g . Gangguan tidur sehubungan dengan nyeri
Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.
Kriteria hasil:
- Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
- Klien mengungkapan sudah bisa tidur .
- Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .
Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .
3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).  
Rasional:
1. meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .
2. Suasana tenang akan mendukung istirahat .
3. Menentukan rencana mengatasi gangguan .
4. Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .  
 
DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar – dasar urologi. Malang: CV Infomedika. 

2. Long, Barbara C. 1996. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu pendekatan proses keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.

3. Sjamsuhidayat, R ( et al ). 1997. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

4. Lap / UPF Ilmu Bedah. 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi. Surabaya: Fakultas Kedokteran Airlangga.

5. Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

6. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

7. Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,volume 3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

8. Carpenito, Lynda Juall. 1998. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, edisi 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

9. Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.
























PENGKAJIAN DATA


I. IDENTITAS

Nama : Tn. I.
Umur : 62 tahun.
Jenis Kelamin : Laki-laki.
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia.
Agama : Islam.
Pekerjaan : Pensiunan Depdiknas.
Pendidikan : SMA.
Alamat : Jl. Ngagel Dadi 1 G / 15 Surabaya.
Alasan Dirawat: BAK tidak lancar dan terasa nyeri, disertai darah merah sejak 1 minggu yang lalu.
Keluhan Utama Sebelumnya:
Mulai 1 minggu yang lalu kencing hanya bisa menetes, tidak dapat tuntas, terasa ada sisa, pancaran tidak jauh , terasa nyer/panas, serta disertai darah merah.
Saat Pengkajian : Nafsu makan menurun dan pasien sering bertanya tentang keadaan penyakit yang diderita.
Upaya yang telah dilakukan:
Berobat ke RS Haji Surabaya dan mendapat obat, kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo.
Terapi/Operasi yang pernah dilakukan: Operasi Prostat di RSUD Dr. Soetomo.

II. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

2.1 Riwayat Penyakit Sebelumnya:
Klien ada riwayat kencing tidak lancar + 3 tahun yang lalu dan 1 minggu yang lalu ada kencing darah, terasa nyeri/panas, terasa ada sisa, pancaran tidak jauh dan klien merasa ada benjolan diperut bagian bawahnya.
2.2 Riwayat Penyakit Sekarang:
BAK tidak lancar, terasa nyeri dan panas, terasa ada sisa, sifatnya terus menerus sejak 1 minggu yang lalu. Klien juga merasa kesulitan dalam BAB, konsistensi keras dan lama baru keluar. 
2.3 Riwayat Kesehatan Keluarga:
Dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit seperti yang diderita oleh klien sekarang ini.
2.4 Keadaan Kesehatan Lingkungan:
Klien tinggal dirumah milik sendiri yang kondisinya sangat sederhana.
2.5 Alat Bantu Yang Dipakai: tidak ada.

III.OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1.Keadaan Umum:
Klien pucat (-), melakukan aktivitas seperlunya. Tidur kurang, sering terbangun tengah malam.

2.Tanda-tanda Vital:
Suhu 36,2oC/axilla, nadi kuat dan teratur, 80x/menit, tensi diukur dengan klien berbaring pada lengan kiri, hasilnya= 120/80 mmHg, pernafasan normal, 20x/menit.

3. SISTEM TUBUH (BODY SYSTEMS):

3.1 PERNAFASAN (B1: BREATHING)
Hidung : tidak ada kelainan.
Trachea : letaknya normal.
Bentuk dada: kanan dan kiri simetris.

3.2 CARDIOVASCULAR (B2: BLEEDING)
Nyeri dada : tidak ada.
Suara jantung: normal.
Edema : tidak ada.

3.3 PERSYARAFAN (B3: BRAIN)
Kesadaran: compos mentis.
GCS : E= 4 V=5 M= 6. Total nilai: 15
Kepala dan wajah: tidak ada kelainan, kesan : normal.
Mata:
- Sklera: tak icterus.
- Conjunctiva : tak anemis.
- Pupil : isokor.
Leher: tekanan vena jugularis normal.  
Persepsi Sensori
 Pendengaran: tidak ada kelainan.
 Penciuman : tidak ada kelainan.
 Pengecapan : tidak ada kelainan.
 Penglihatan : ada kelainan, mata kanan mengalami penurunan lapangan pandang dan menggunakan kaca mata.
  Perabaan : tidak ada kelainan.

3.4 PERKEMIHAN- ELIMINASI URI (B4: BLADDER)
Produksi urine: dalam 24 jam 2500 ml, keluar sedikit-sedikit, menetes, sering dan terasa nyeri. Kadang ada retensi urine.
Warna : merah. Bau: agak amis.
Lainnya : teraba massa pada rectal toucher.


3.5 PENCERNAAN – ELIMINASI ALVI (B5: BOWEL)
Mulut dan tenggorok: kering, agak merah (iritasi).
Abdomen : tak ada kelainan.
Rectum : tidak ada kelainan.
BAB : 1x/hari, kadang-kadang 2 – 3 hari baru BAB.
Konsistensi: keras. Ada konstipasi.
Berat Badan (BB) : tanggal 7 Oktober 2002 = 60 kg, TB 159.

Diet : TKTP.
Klien tidak memiliki kebiasaan minum kopi sejak muda, makan tidak habis ½ porsi, rasa mual.

3.6 TULANG – OTOT – INTEGUMEN (B6: BONE)
Kemampuan pergerakan sendi : bebas.
Tidak ada parese, paralise maupun hemiparese.
Extremitas:
- Atas : tidak ada kelainan.  
- Bawah : tidak ada kelainan.
Tulang Belakang: tidak ada kelainan.
Kulit:
- Warna kulit: tidak anemis.
- Akral : hangat.
- Turgor: baik.

4. SISTEM ENDOKRIN
Terapi hormon: tidak ada.

5. SISTEM HEMATOPOIETIK:
Diagnosis penyakit hematopoietik yang lalu: 
- Tanpa anemia.

6 REPRODUKSI
Skrotum/Testis tak ada kelainan, hanya setelah operasi sering keluar gumpalan merah kehitaman dan pasien setelah operasi kelaki-lakianya merasa berkurang.

IV. PSIKOSOSIAL

  Konsep diri:
  Identitas
  Status klien dalam keluarga: suami.
  Kepuasan klien terhadap status dan posisinya dalam keluarga: puas.
  Peran
  Tanggapan klien terhadap perannya: senang.
  Kemampuan/kesanggupan klien melaksanakan perannya: sanggup.
  Kepuasan klien melaksanakan perannya: puas.
  Ideal diri/Harapan
  Harapan klien terhadap:
  Tugas/pekerjaan: dapat pulang dengan cepat agar dapat ketemu pada anak/cucunya.
  Tempat/lingkungan kerja: dapat kembali dilingkungan keluarga seperti semula.
  Harapan klien terhadap penyakit yang sedang dideritanya:
  Klien berharap agar segera cepat sembuh.
  Lainnya: klien menganggap apabila tumornya diangkat dengan operasi maka ia akan sembuh total.
  Harga diri
  Tanggapan klien terhadap harga dirinya: sedang.
  Sosial/Interaksi
Hubungan dengan klien lain : baik.
Dukungan keluarga : aktif.
Dukungan kelompok/teman/masyarakat: sangat mendukung.
Reaksi saat interaksi kontak mata.
Konflik yang terjadi terhadap: peran.

SPIRITUAL
Konsep tentang penguasa kehidupan: Allah.
Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini: sholat.
Sarana/peralatan/orang yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini: lewat ibadah.
Upaya kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan agama: tidak ada.
Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan: klien mempercayainya.
Persepsi terhadap penyebab penyakit: sebagai cobaan/peringatan.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tanggal : 24 Agustus 2002.
- Hb : 15,1 g/dl.
- PCV : 0,47 %
- MCV : 75 FL
- LED : 102 mm/jam.

Pemeriksaan mikrobiologi tanggal 9-September-2002.
Bahan urine:
  Kultur/biakan: * mikroba pseudomonas Aerugenesa.
  * jumlah kuman > 10.000/ml.
 Test kepekaan antibiotika (sensitivity test).
 DAM 10 test = 3 sensitive : 7 resistent.

  Bahan Urine :
  Laporan pemeriksaan Mikroskopik terima bahan urine.
  Kesimpulan : sediaan hanya mengandung sedikit sel epitel squamouse, sel transitional dan sel radang mononuclear, sel ganas tidak ada.

 Pemeriksaan Radiologi
 - IVP/BOP tanggal 28 September 2001
  Kesimpulan: kronik non obstruktic Pyelonephritis Bilateral.
 - USG Ren / Buli urologis tanggal 1 Oktober 2002.
  Kesimpulan:
  Ren : Besar normal, intensitas echokorteks normal, batas sinu korteks jelas, tampak ectasis ringan pelviocalyceal, Tak tampak kiste atau abses.
  Buli-Buli : Besar normal, dinding tidak menebal, tidak tampak batu, tampak Blood Cloth.
  Laporan Endoskopi (tanggal 3 Oktober 2002).
  Indikasi : Ca Prostat.
  Rectal Toucher : BPH Jr II
  TUR-P (Prostat):
  - Irigan : Glicine/H2O : 10 liter.
  - Berat Spesiment : 25 gram.
  - Waktu : 30 menit.
   
Terapi:
Infus RL : D5= 2 : 3 20 tetes/menit.
Amoksicillin 3 x 500 mg.
Calnex 3 x 2 tablet
Ciprofloxacin 500mg 2 x 1 
Diit: TKTP 

 
ANALISA DATA

pengelompokan DATA KEMUNGKINAN
PENYEBAB MASALAH DIAGNOSA
KEPERAWATAN

S: Klien mengatakan tubuhnya lemah & selera makannya berkurang, rasa mual rasanya ingin minum terus.
  Klien tubuhnya lemah.
O: Berat badan 60 kg.
  Porsi makan tak habis ½ porsi.





S: Pasien berpikir bahwa dengan operasi maka dia pasti sembuh total.
  Pasien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya.
O: -

 
Intake yang tidak adekuat











Kurangnya informasi.







.

 
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan.










Kurang pengetahuan tentang penyakit, prog-nosis & pengobatan.





 
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.









Kurang pengeta-huan tentang penyakit, prognosis & pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.








 
RENCANA TINDAKAN PERAWATAN
NO TGL DIAGNOSA KEPERAWATAN
& HASIL YANG DIHARAPKAN RENCANA TINDAKAN RASIONAL
 
TINDAKAN KEPERAWATAN
TGL JAM TINDAKAN KEPERAWATAN
8 Oktober2002
















 0825 wib
s/d
08450 wib



0845wib
s/d
0925 wib.


1015 wib
 s/d
1035wib

1245wib
 - Membersihkan/mengganti alas tidur.
- Mengukur tanda-tanda vital: TD= 120/80 mmHg, nadi= 80x/mt, RR= 20x/mt, suhu= 36,2oC. 
- Menggali pengetahuan klien tentang penyakitnya.
- Menjelaskan tentang penyakitnya, pengobatan & prognosisnya.
- Menganjurkan istri klien untuk selalu mendampingi & memberikan support pada suaminya.
- Memberi semangat & dukungan pada klien agar menerima keadaan penyakitnya.

- Membantu klien makan & minum.
- Menganjurkan klien agar menghabiskan diet yang diberikan atau menambahkannya sendiri. 
- Menanyakan kembali pada klien & keluarganya tentang keadaan kesehatan/keluhan pagi ini serta kesiapannya untuk menjalani perawatan & pengobatan.

- Menimbang BB= 60 kg, TB= 159 cm.
- Menganjurkan klien untuk memelihara kebersihan kulit.
- Memberikan motivasi agar klien sabar menunggu dengan sabar proses penyembuhan penyakitnya.

- Mengukur tanda-tanda vital: TD= 120/80 mmHg, nadi= 80x/mt, RR= 20x/mt, suhu= 36oC. 
- Menganjurkan klien untuk istirahat & banyak minum air putih.
 
EVALUASI


NO. TANGGAL DIAGNOSA EVALUASI 
 
cATATAN PERKEMBANGAN


NO. TANGGAL/jam DIAGNOSA CATATAN PERKEMBANGAN
1. 8 Oktober 2002

Jam 1325 1










2 S: - Klien mengatakan tubuhnya masih lemah.
O: - BB=60 kg.
- Klien mau menghabiskan makanan/minumannya.
A: - Masalah belum teratasi.
P: - Intervensi tidak diteruskan oleh karena pasien rencana pulang.






S: Klien mengatakan siap & pasrah dalam menghadapi penyakitnya.
O: - Klien masih bertanya-tanya tentang keadaan penyakitnya.
- Klien mau mendengarkan & melaksanakan saran untuk makan & beristirahat yang cukup.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi tidak diteruskan oleh karena pasien rencana pulang.
 
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs. 1997. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta.

Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia. 

Gale, Danielle & Charette, Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar