Kamis, 10 September 2009

HEPATITIS B

KONSEP PENYAKIT
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
DENGAN KASUS HEPATITIS B

A. PENGERTIAN.

Hepatitis B merupakan peradangan atau inflamasi pada hepar yang umumnya terjadi akibat infeksi virus. Manifestasi penyakit ini bervariasi dari akut sampai kronik. Brumberg merupakan orang pertama yang menemukan bagian dari HBV yang disebut sebagai Australia Antigen pada tahun 1962 dari serum seorang Aborigin Austraslia. Pada tahun 1970 Dane menemukan virus lengkap yang kemudian dinamakan partikel Dane.
 
  
B. ETIOLOGI.

1. Hepatitis virus A.
Disebabkan oleh virus hepatitis A yang terdiri dari RNA berbentuk bulat tidak berselubung. Berukuran 27 nm dan termasuk enteral virus vikorna yang mirip virus polio

2. Hepatitis virus B
Virus yang lengkap berupa partikel dua lapis berukuran 42 nm yang di sebut partikel Dane.
 
3. Hepatitis C,
Merupakan contoh virus tipe non A dan non B yang ditularkan tertama melalui tranfusi darah serta produkdarah lainnya.  

4. Hepatitis D agen delta.
Virus yang berukursn 35-37 nm dan terdiri dari nukleo protein RNA merupsksn hibrid DNA virus hepatitis B 


C. TANDA DAN GEJALA.

Infeksi HBV dapat menimbulkan akibat klinis yang berbeda-beda bagi setiap individu, penderita dapat mengalami salah satu dari beberapa keadaan seperti dibawah ini ;

 Tetap sehat.
 Terjadi bagi mereka yang memiliki kekebalan ( anti HBS ).

• Mengidap tetapi tetap sehat.
 Bila HBS Ag menetap ( persistem ) selama lebih dari 6 bulan tanpa disertai kelainan virus.
 Hepatitis akut ikterik.
Ditandai masa prodromal selama 3 – 6 hari, kadang-kadang sampai 3 minggu, pasien merasa tidak sehat, anorexia, mual, kadang demam ringan, ras sakit pada bagian kanan atas perut, rasa lesu, cepat lelah & sakit lemah. Gejala prodromal mereda saat timbul ikterus yang dimulai dengan perubahan warna urein menjadi lebih gelap seperti the pekat. Pada stedium ikterik ini timbul rasa gatal ( pruritus ) selama beberapa hari, hati teraba membesar, rata, kenyal dan nyeri tekan kadang disertai pembesaran linfe. Setelah 1 – 4 minggu masa ikterik, penyembuhan berlangsung dengan sendirinya ditandai oleh meredanya ikterus, kembalinya nafsu makan dan keadaan kembali normal.
 Hepatitis akut an ikterik.
 Pada bentuk ini keluhan sangat ringan dan samar-samar, umumnya hanya anorexia dan ganguan pencernaan, pada pemeriksaan laboratorium ditemukan hiperbilirubinemia ringan, pemeriksan flopia lesi positife dan bilirubinuria, urein secara makroskopis berwarna seperti the pekat.
 Hepatitis akut tulminan.
Bentuk ini hampir semuanya mempunyai prognosis jelek, kematian biasanya terjadi dalam 7 – 10 hari ssejak mulai sakit. Pada waktu yang singkat terhadap gangguan neorologik, faktor hepatik dan muntah yang peresisten, terdapat demam dan ikterus yang menghebat dalam waktu yang singkat, pada pemeriksaan didapatkan hati yang mengecil purpura, dan perdarahan gastrointestinal.
 Hepatitis Kronik.
Diduga bahwa pasien Hepatitis B kronik mengalami episode subklinis dari hepatits akut dengan gejala yang sangat ringan sehingga luput dari perhatian. Dugaa kearah kromositas dimulai manakala keadaan SGOT & SGPT tidak pernah menjadi normal selama 6 bulan dari awal hepatitis akut disertai dengan peresistensi HBS Ag serum. Seringkali dijumpai ikterus hepatoseluler yang hilang timbul pada saat general chek- up, tampak adanya ikterus, spider neri, hepato splenomegali, eritema palmar dan kelainan biokimiawi serta serologi diagnostik hanya dapat dipastikan dengan pemeriksaan biopsi dan gambaran PA. Pada hepatitis kronik aktif umumnya berakhir menjadi sirosis hepatis. 


D. PATOFISIOLOGI.

Masa inkubasi bervariasi, tergantung pada agennya, refleksi virus dalam hati meningkat, yang di ikuti oleh penampilan komponen virus dan nekrosis sel hati bersama respons peradangan yang menyertai. Antibodi non spesifik dapat meningkat sama seperti pada infeksi virus lainnya. Perubahan morfologi hati pada hepatitis A, B, C (nonA dan non B), adalah identik. Pada kasus klasik, ukuran dan warna hati nampak normal, tetapi kadang-kadang sedikit oedem, membesar dan berwarna seperti empedu. Secara histologi, terjadi kekacauan hepatoseluler, cedera dan necrosis hati, dan peradangan perifer.
Perubahan reversible bila fase akut penyakit mereda. Pada beberapa kasus, necrosis sub masif atau masif dapat mengakibatkan payah hati yang berat dan kematian.
Hepaptitis virus D merupakan hibrid DNA virus hepatitis B. virus ini dapat menular sendiri secara langsung dan bersifat hepatoksit. Bentuk ini akan memperbanyak bentuk hepatitis kronik.




   






































E. PEMERIKSAAN PENUNJANG.

1. Tes serologik : HBS Ag (+).

2. Tes Hibridasi : HBV DNA.

3. Tes RIA ( Radio Imuno Assay ) : HBV Diva Polimerase.

4. Pemeriksaaan darah : SGOT & SGPT meningkat.

5. USG : Biasanya hanya dapat mendeteksi Hepatomegali yang tidak spesifik.

6. Pemeriksaan Histologik : Biopsi Hati.
 Penting untuk menilai aktivitas, mendeteksi ada tidaknya sirosis, mencari kemungkinan penyebabnya dan menilai hasil pengobatan. Dewasa ini diagnosis untuk sebagian besar pasien Hepatitis B kronik ditegakkan berdasarkan gejala klinis, peningkatan kadar SGOT, SGPT dan Gama GT, dengan tanpa Hiperbilirubinemia, HBS Ag (+), menetap dan gambaran Ultrasonography.



F. INTERVENSI MEDIS.

1. Pencegahan
a. Hepatitis virus B. penderita hepatitis sampai enam bulan sebaiknya tidak menjadi donor darah karena dapat menular melalui darah dan produk darah.
b. pemberian imonoglubin dalam pencegahan hepatitis infeksiosa memberi pengaruh yang baik. Diberikan dalam dosis 0,02ml / kg BB, intramuskular.  
 
2. Obat-obatan terpilih.
a. Kortikosteroid. Pemberian bila untuk penyelamatan nyawa dimana ada reaksi imun yang berlebihan.
Contoh : -  
Hidrocotison 100 mg intravena tiap 6 jam.
Interveron, hanya diberi pada kasus –kasus agak berat.
Starting dosis 40 mg / hr dan dikurangi secara bertahap sampai berhenti sesudah 6 minggu.  

b. Antibiotik, misalnya Neomycin 4 x 1000 mg / hr peroral.
c. Lactose 3 x (30-50) ml peroral.
d. Vitamin K dengan kasus kecenderungan perdarahan 10 mg/ hr intravena.
e. Roboransia.
f. Glukonal kalsikus 10% 10 cc intavena (jika ada hipokalsemia)
g. Sulfas magnesikus 15 gr dalam 400 ml air.
h. Infus glukosa 10% 2 lt / hr.  

3. Istirahat, pada periode akut dan keadaan lemah diberikan cukup istirahat.

4. Jika penderita enak, tidak napsu makan atau muntah – muntah sebaiknya di berikan infus glukosa. Jika napsu makan telah kembali diberikan makanan yang cukup  

5. Bila penderita dalam keadaan prekoma atau koma, berikan obat – obatan yang mengubah susunan feora usus, isalnya neomisin ataukanamycin samapi dosis total 4-6 mg / hr. laktosa dapat diberikan peroral, dengan pegangan bahwa harus sedemikian banyak sehingga Ph feces berubah menjadi asam.



G. DAFTAR PUSTAKA.

1. Doenges, Marylinn A. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Jakarta, ECG 1999.
2. Haznam, M.W. Kompendium Diagnostik dan Terapi Ilmu Penyakit Dalam Edisi II , Bandung 1992.
3. Junaidi, Purnawan. Soemasto, Atiek S.Amek, Husna, Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 2 Jakarta, Media Aesculapius FKUI, 1982.
4. Price, a. Sylvia. Wilson, Loraine M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi ke 4 Buku I Jakarta EGC, 1994.
5. Sabiston, Buku Ajar Bedah Bagian 1, Jakarta, EGC 1992  


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS.

A. Dasar data pengkajian.

1. Aktivitas dan istirahat.
 Gejala : • Kelemahan, kelelahan, dan malaise umum.

2. Sirkulasi
 Tanda : • Bradikardi hiperbilirubinemia berat. 
• Ikerik pada sklera, kulit dan membran mukosa 

3. Eliminasi.
 Gejala : • Urine gelap.
  • Diare / konstipasi, faeses berwarna tanah liat.
  • Adanya / berulangnya hemodialisa.

4. Makanan dan cairan
 Gejala. : • Anorexia, penurunan / peningkatan berat badan (oedem).
  • Mual / muntah. 
  Tanda : • Asites.

5. Neurosensori
 Tanda : • Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.

6. Nyeri / kenyamanan
 Gejala : • Kram abdomen, nyeri tekan pada kwadran kanan atas.
  • Mialgia, artralgia, sakit kepala.
  • Gatal-gatan (pruritus)  
 Tanda : • Otot tegang, gelisah.

7. Pernapasan 
 Gejala : • Tidak minat / enggan merokok (perokok).

8. Keamanan
 Gejala : • Adanya transfusi darah / produk darah.
  Tanda : • Demam
  • Ultikarya, lesi makulopapular, eritema tak beraturan.
  • Eksaserbasi jerawat.
  • Angioma jaring-jaring, eritema falmer, ginekomastia.
  ( kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik)
  • Splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior.
   
9. Sexualitas
 Gejala : • Pola hidup / prilaku meningkatkan resiko terpajan 





10. Penyuluhan / pembelanjaran
 Gejala : • Riwayat diketahui / mungkin terpajan pada virus, bakteri, atau toksin (makanan terkontaminasi, air, jarum, alat bedah atau darah. : Pembawa (simptomatik atau asimptomatik) : adanya presedur bedah dengan anestesi haloten : terpajan pada kimia toksik ( contoh ; karbon tertraklorida, vinil klorida ) Obat resep ( contoh ; Sulfonamid, fenotiazid, isoniazid ).
• Perjalanan / imigran dari Cina, Afrika, Asia Tenggara, Timur Tengah ( hepatitis B (HB) endemik di area ini ).
• Obat jalanan (IV) atau penggunaan alkohol.
• Diabetes, Gagal jantung kronis, atau penyakit Ginjal.
• Adanya infeksi seperti Flu pada pernafasan atas.





DIAGNOSA KEPERAWATAN.

1. Intoleransi aktivitas, dapat dihubungkan dengan :
• Kelemahan umum, penurunan kekuatan / ketahanan, nyeri.
• Mengalami keterbatasan aktivitas / depresi.

Kemungkinan dibuktikan dengan :
• Laporan kelemahan, ketidaknyamanan kerja.
• Penurunan kekuatan otot.
• Menolak untuk bergerak.

 Tujuan jangka pendek : Menyatakan pemahaman situasi / faktor resiko dan program pengobatan individu.
 Tujuan jangka panjang :  Menunjukan tehnik / perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.
 Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.


 Rencana intervensi.

1. Tingkatkan tirah baring / duduk, berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan.
2. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik.
3. Tingkatkan aktivitas esuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak pasif / aktif.
4. Dorong penggunaan tehnikmanajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imaginasi, berikan aktivitas hiburan yang tepat, contoh ; menonton TV, radio dan membaca.



 
 Rasionalisasi.
1. Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan, aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran darah kekaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.
2. Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
3. Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat.
4. Meningkatkan relaksasi & penghematan energi, memusatkan perhatian & koping.



2. Nutrisi, perubahan ; kurang dari kebutuhan tubuh. Dapat dihubungkan dengan ;
• Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik ; anorexia, mual , muntah.
• Gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan ; penurunan peristaltik (refleks viseral0 empedu tertahan.
• Peningkatan kebutuhan kalori / status hipermetabolik.

Kemungkinan dibuktikan oleh ;
 Enggan makan / kurang minat terhadap makan.
 Gangguan sensasi pengecap.
 Nyeri abdomen / kram.
 Penurunan berat badan ; tonus otot buruk.

 Tujuan jangka pendek : Menunjukan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan / meningkatkan berat badan yang sesuai.
 Tujuan jangka panjang : Menunjukan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.


 Rencana tindakan.

1. Awasi pemasukan diet / jumlah kalori. Berikan makanan sedikit dalam frekuensi sering da tawarkan makan pagi paling besar.
2. Berikan perawatan mulut sebelum makan.
3. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
4. Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi.

 Rasionalisasi.

1. Makan banyak sulit untuk mengukur bila pasien anorexia.. anorexia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari.
2. Menghilangkan rasa tidak enak dapat meningkatkan nafsu makan.
3. Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
4. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi & pengeluaran empedu & perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleran masukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati.


3. Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap. Faktor resiko meliputi :
• Kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare, perpindahan area ketiga ( acites ).
• Gangguan proses pembekuan.

 Tujuan jangka pendek : Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisian kapiler, nadi perifer kuat dan haluaran urien sesuai.
 Tujuan jangka panjang : Tidak terjadi hidrasi yang berulang.

 Rencana intervensi.

1. Awasi masukan dan haluaran , bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui usus, contoh ; muntah dan diare.
2. Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler (kapiler refill), turgor kulit dan membran mukosa.
3. Observasi tanda perdarahan, contoh ; hematuri / melena, ekimosis, perdarahan terus-menerus dari gusi / bekas injeksi.
4. Kolaborasi ; awasi ( observasi ) nilai laboratorium, contoh : HB, Na + dan waktu pembekuan.

 Rasionalisasi.

1. Memberikan informasi tentang kebutuhan penggantian / efek therapy ; catatan : diare dapat berhubungan dengan respon terhadap infeksi dan mungkin terjadi sebagai masalah yang lebih serius dari obstruksi aliran darah portal dengan kongesti vaskuler pada traktus GI atau sebagai hasil penggunaan obat ( neomisin ) laktolosa untuk menurunkan kadar amonia serum pada adanya ensefalopati hepatik.
2. Indikator volume sirkulasi / perfusi.
3. Kadar protrombin menurun dan waktu koagulasi memnjang bila absobsi vitamin k terganggu pada traktus GI dan sintesis protrombin menurun karena pengaruh hati.
4. Menunjukan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium / kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan edema, defisit pada pembekuan potensial berasiko perdarahan 
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN HEPATITIS



5. PENGKAJIAN
I. BIODATA.
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Ahmad Masturi
Umur : 53 th.
Jenis kelamin : Laki-laki.
Pendidikan : SLTA
Agama : Islam.
Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia.
Status perkawinan : Kawin.
Alamat : Jl. A. Yani. Gg. H. Abdul Kadir. No 34 Loktabat.
Tgl masuk RS / Pusk : 17-9-2001
Tgl pengkajian : 17-9-2001
Nomor register : 961853
Dignosa medis : Hepatitis B Akut.


B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.
Nama : Ny. Siti Aminah.
Umur : 49 th.
Jenis kelamin : Perempuan.
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam.
Alamat : Jl. A.Yani Gg H. Abdul Kadir. No 34 Loktabat.


II. RIWAYAT PENYAKIT.
A. Keluhan utama.
Rasa nyeri pada daerah hepar / hati, disertai suhu tubuh yang turun naik.


B. Riwayat penyakit sekarang.
Suhu tubuh meningkat sejak tanggal 10-9-2001, pada malam hari ± jam 23.00. kemudian pada pagi hari sekitar jam 07.30 suhu tubuh mulai berangsur turun. Kejadian ini terus berulang sampai 1 minggu. Suhu dapat cepat meningkat apabila px banyak beraktifitas. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah rasa mual dan rasa nyeri menusuk pada daerah ulu hati / epigastrium.
Tanggal 13-9-2001 px nerobat ke PKM Banjarbaru, dapat therapi :
 Antasida 3 x 1 tab
 Paracetamol 3 x 1 tab
 B 6 3 x 1 tab
 B Complek 3 x 1 tab

  Tanggal 15-9-2001 pagi hari saat px bangun tidur, kulit kekuning-kuningan, terutama pada ekstremitas atas, pada sore hari akhirnya menyebar keseluruh tubuh termasuk daerah mata, disertai rasa nyeri menusuk pada daerah hepar, akan bertambah sakkit bila px nerjalan / beraktifitas, dan akan terasa nyaman apabila px beristirahat atau berbaring. Akhirnya pada tanggal 17-9-2001 jam 08.30 px dibawa berobat ke RSU Banjarbaru.  


  C. Riwayat penyakit terdahulu.
  Sebelumnya pasien belum pernah menderita nyeri hepar seperti ini. Hanya demam , batuk dan flue saja. Rasa nyeri pada epigastrium (maag) sudah diderita px sejak lama & sering minum obat antasida ( promaag ).



III. PEMERIKSAAN FISIK.
A. Keadaan umum.
Kesadaran : Komposmentis.
Vital sign • TD : 110 / 80 mmhg • Temp : 38,5° C.
 • Nadi : 88 x / mt • Resp : 28 x / mt.
• TB : 160 cm • BB : 65 kg. 

B. Kulit.
• Kulit tampak ikterik, lesi (-). Tanda peradangan (-). Gejala cianosis (-).
• Turgor kulit baik, cepat kembali < 2 detik.
• Kelembaban kulit baik. 
• Terdapat bekas luka ( sikatrik ) pada tangan kanan pasien


C. Kepala.
• Warna rambut hitam pekat, tampak adanya uban pada sebagian rambut.
• Distribusi rambut merata.
• Tidak terdapat adanya benjolan.
• Bentuk kepala mesosepal.


D. Penglihatan.
• Tidak terdapat adanya oedema palpebra.
• Konjungtiva mata tampak ikterik.
• Sklera mata ikterik (+).
• Refleks pupil terhadap cahaya (+).
• Pasien menggunakan alat bantu kacamata minus.


E. Penciuman & Hidung.
• Bentuk hidung simetris.
• Pernafasan cuping hidung (+).
• Tidak terdapat adanya sekret pada lubang hidung.
• Penciuman baik, dapat membedakan aroma / bau
  F. Pendengaran & Telinga.
• Bentuk telinga simetris dextrta dan sinistra.
• Lubang telinga bersih, tidak terdapat adanya sekret.
• Pendengaran berfungsi baik. Dapat merespon dengan baik pertanyaan perawat 
 

  G. Mulut.
• Bentuk bibir simetris atas dan bawah.
• Mukosa bibir kering dan tampak pucat.
• Warna lidah merah bercak keputihan.
• Tidak terdapat adanya pembengkakan gusi.


  H. Leher.
• Pulsasi vena jugularis (-).
• Pembesaran kelenjar thyroid (-).
• Tidak ada pembatasan gerak leher.


I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
• Bentuk simetris, retraksi dinding dada (+). Ikterik (+).
• Fremitus vokal (+) dextra dan sinistra.
• BJ 1 dan Bj 2 terdengar, ronchi & whezing (-).


J. Abdomen.
• Bentuk simetris, ascites (-). Ikterik (+).
• Teraba pembesaran hati didaerah lumbal kanan.
• Nyeri tekan epigastrium (+).
• Bunyi tympani (+), ascites (-).
• Terjadi penurunan bising usus. 


K. Sistem reproduksi.
• Jenis kelamin laki-laki.
• Menurut pasien tidak ada gangguan / kelainan pada organ reproduksi.
• Mempunyai anak 4 orang. 2 E dan 2 F. 


L. Ekstremitas atas & bawah.
• Akral hangat, ekstremitas atas dapat digerakan, terpasang infus pada tangan kanan. Ikterik (+). Bentuk tangan simetris, jumlah jari lengkap,pertumbuhan kuku normal.
• Ekstremitas bawah dapat digerakan, ikterik (+). Tonus otot lemah.
• Adanya kelemahan umum dalam beraktifitas. 



IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.
A. Aktivitas & Istirahat.
• Di rumah : aktivitas sehari-hari sebagai PNS dikantor Peternakan, dari pagi sampai sore hari.
• Pola istirahat tidur malam berkisar ± 6 - 7 jam.
• Di RS : aktivitas di RS dibantu oleh istri pasien. Istirahat siang hanya 1 jam, dan istirahat / tidur malam ± 6 jam.


B. Personal hygiene.
• Pola mandi 2 x sehari. Gosok gigi 2 x sehari.
• Ganti baju 2 x sehari.
• Potong kuku 1 minggu sekali. Sanitasi air bersih dari sumber PDAM
• Selama di RS pasien tidak bisa mandi, hanya diseka saja oleh istri pasien.


C. Nutrisi.
• Pola makan biasanya 3 x sehari, terdiri dari lauk dan pauk.porsi sekali makan bisa sampai 2 piring.
• Minum air putih sampai dengan 1 ½ liter sehari.tidak suka minum kopi.
• Di RS diet px bubur rendah lemak. Tetapi px hanya mampu menghabiskan ½ bagian saja.
• Nutrisi parenteral Ivfd RL 20 tts / mt.


D. Eliminasi.
• Di rumah : Pola BAB 1 x sehari, biasanya pada pagi hari.
  Pola BAK 5 – 7 sehari.
• Di RS : Pola BAK tidak ada keluhan, tetap seperti biasa.
  Sejak masuk RS sampai dengan sekarang px belum ada Bab

E. Sexualitas.
• Lamanya menikah 28 tahun
• Istri pasien 1 orang berusia 48 tahun.


F. Psikososial.
• Selama di RS pasien tampak tenang menerima penyakitnya.
• Pasien tampak koopertif dan terbuka dengan perawat. 


G. Spiritual.
• Pasien beragama Islam.
• Menurut pasien, Sejak sakitnya mulai parah ia tidak dapat sembahyang seperti biasanya.
• Pasien tampak tabah dalam menjalani program pengobatan.



V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.
A. Laboratorium.
 

NO HARI & TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN KATEGORI NORMAL HASIL PEMERIKSAAN
1 Selasa
18-9-2001  HB
 Leokosit.
 LED
 Diff count.
 Bilirubun total.
 Ureum
 Kretinin
 SGOT
 SGPT
 Urein lengkap
  14 – 16 gr %
 5000 – 10,000 mm3
 0 – 10 mm / jam




 31 u/l
 46 u/l
  10,6 gr %
 7800 /mm3
 16 mm / jam
 0/4/0/50/47/0
 13,99 %
 20,22 %
 1,0 mg
 189,0 u/l
 200,5 u/l
 red (+)
 alb (-)
 urob (+++)
 bill (+++)
 epitel (+)
 leo (+) 1-3 /lp
 erit (+) 0-1/ lp
 crist (-)
 cast (-)


B. Rontgen
Hasil :……………………..


C. EKG.
Hasil :…………………….


D. Pemeriksaan lain ( EEG, USG, CT Scan, dll ).



  E. Pengobatan :
• Amoxycilin tab 3 x 1 tab
• Curcuma tab 3 x 1 tab
• B 6 tab 3 x 1 tab
• Procholin tab 3 x 1 tab
• Glikoben tab 3 x ½ tab
• Antasida tab 3 x 1 tab
• Actrapid inj 3 x 4 ml ( per 8 jam )
• IVFD Rl 20 tts /mt.  
 
 ANALISA DATA 



NO Data Subyektif & Obyektif ETIOLOGI MASALAH
1.



















2.

 Data Subyektif ;
Pasien mengatakan adanya kelemahan ekstremitas secara umum.


Data Obyektif ;
 Adanya keterbatasan aktivitas
 Terjadi penurunan kekuatan otot.
 Ketergantungan pasien dalam beraktifitas dengan istrinya.
 Terpasang infus RL 20 tts/mt




Data subyektif ;
 Penurunan nafsu makan.
 Adanya rasa mual.
 Rasa nyeri di daerah epigatrium.


Data Obyektif ; 
 Porsi makan yang diberikan tidak dihabiskan, hanya mampu menghabiskan ½ porsi dari yang disediakan Adanya kelemahan umum, disertai rasa nyeri didaerah hepar


















Gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan Intoleransi aktifitas.




















Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.






 
INTERVENSI KEPERAWATAN


NO Hari & tanggal Diagnosa keperawatan
 Perencanaan Implementasi
  Tujuan Tindakan Rasionalisasi 
1

























2.
































3
 Selasa
18-9-01
























Selasa
18-9-01
































Selasa 
18-9-01




 Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum ditandai dengan :
 Adanya keterbatasan aktifitas.
 Ketergantungan pasien dengan istrinya dalam melakukan aktifitas.

















Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, ditandai dengan :
 Penurunan nafsu makan.
 Porsi makan sedikit, hanya ½ porsi saja.
 Rasa mual.

























Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pada patogen.
 Jangka pendek :
Menyatakan pemahaman terhadap situasi serta faktor resiko dan program ADL

Jangka panjang :
Menunjukan tehnik / perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.










Jangka panjang :
Pasien dapat menunjukan perilaku untuk mempertahankan berat badan.

Jangka pendek :
Tidak terjadi anorexia berkepanjangan























Jangka pendek :
Menyatakan pemahaman terhadap faktor resiko.

Jangka panjang :
Menunjukan tehnik & melakukan perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi ulang / transmisi ke orang lain.
  1. Tingkatkan tirah baring duduk beri lingkungan tenang dan batasi jumlah pengunjung.



2. Tingkatkan aktivitas sesuai dengan toleansi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif / aktif.

3. Ubah posisi sesering mungkin serta berikan perawatan kulit yang baik.


4. Dorong penggunaan tehnik manajemen stres, berikan hiburan yang tepat.

1. Awasi terulangnya anorexia & nyeri tekan pembesaran hati.


2. Awasi masukan dan haluaran,bandingkan dengan BB harian, catat kehilangan cairan baik lewat oral – usus.

3. Kaji tanda-tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa 


4. Kolaborasi ;
Observasi nilai laboratorium setiap hari.
  









1. lakukan tehnik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasn termasuk cuci tangan efektif.


2. Awasi / batasi jumlah pengunjung.





3. Jelaskan prosedur isolasi pada pasien dan keluarga.




4. Berikan informasi tentang adanya Gama Glabulin, ISG HBIG. Vaksin HB.
 1. Meningkatkan istirahat dan ketenangan menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.posisi duduk tegak dapat menurunkan aliran darah kekaki.

2. Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu


3. Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan kerusakan jaringan.

4. Meningkatkan relaksasi & penghematan energi, memusatkan perhatian dan dapat meningkatkan koping 

1. Menunjukan kurangnya resolusi / eksaserbasi penyakit memerlukan istirahat lanjut.

2. Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti / efek therapy.



3. Sebagai indikator volume sirkulasi / perfusi.




4. Dapat menunjukan hidrasi dan mengidentifikasikan retensi natrium / kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan oedema. Defisit pada pembekuan potensial beresiko perdarahan.




1. Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain melalui cuci tangan efektif dapat mencegah transmisi virus.

2. Pasien terpajan terhadap proses infeksi ( khususnya respiratorius ) potensial resiko kompliksi sekunder.

3. Pemahaman alasan untuk perlindungan diri dan orang lain dapat mengurangi perasaan isolasi dan stigma.

4. Efektif dalam mencegah Hepatitis virus pada orang yang terpajan tipe hepatitis dan periode inkubasi.

 1. Menganjurkan pasien untuk istirahat di tempat tidur dan duduk perlahan-lahan sesering mungkin.


2. Menganjurkan pasien untuk dapat menggerakan bagian tubuhnya sesering mungkin


3. Mengubah posisi tidur px sesering mungkin, serta memberikan bedak di punggung pasien

4. Menganjurkan pasien untuk tidur sambil membaca buku / nonton TV

1. Observasi keadaan umum pasien, dan saat makan pasien. Observasi derajat anorexia pasien.

2. Catat jumlah masukan dan haluaran pasien dalam lembar BCP,
 


3. Observasi tanda-tanda vital setiap 6 jam sekali.

 
















1. Lakukan cuci tangan setelah kontak dengan pasien.



2. Mmbatasi jumlah pengunjung dengan alasan yang tepat.




3. Menjelaskan pada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya serta proses penyebaran virusnya.

4. HE kepada pasien dan keluarga tentang imunisasi pencegahan terhadap virus HB.

 
CATATAN PERKEMBANGAN
NO HARI / TGL NO
DIAGNOSA PERKEMBANGAN PARAF
1

















2











3 Kamis
20 – 9 - 2001
16.00















Kamis
20 – 9 - 2001
17.00









Kamis
20 – 9 - 2001
17.30






 No 1

















No 2











No 3 S : Pasien mengatakan kelemahan tonus otot berkurang.
O : Pasien sudah mampu bangun tidur / duduk sendiri tampa bantuan orang lain.
A : Kelemahan tonus otot mulai teratasi.
P : Pasien mampu melakukan peningkatan toleransi aktivitas serta tidak tergantung pada orang lain.
I : Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan gerak sendi pasif dan aktif.
E : Pasien mampu bangun tidur dan berdiri tanpa dibantu, tapi untuk berjalan ke WC tetap dibantu.
R : Masalah teratasi.


S : Rasa mual mulai berkurang.
O: Nafsu makan tampak mulai membaik
A: Masalah mulai teratasi.
P: Pertahankan intake nutrisi pasien.
I: Kolaborasi dengan tim medis untuk meneruskan terafi dan suport pasien untuk mempertahankan intake yang adekuat
E: Pasien mampu menunjukan bebas tanda malnutrisi.


S : Tidak ada keluhan dari gejala / tanda tanda infeksi, contoh panas.
O : Tidak terdapat gejala infeksi
A : Tidak terjadi infeksi sekunder
P : Teriskan rencana dan tindakan septik dan sterilisasi.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar