Kamis, 10 September 2009

Diare akut

KONSEP DASAR 
PENYAKIT GASTRO ENTERITIS /DIARE


I. Pengertian 

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-2—ml perjam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat.

Menurut WHO (1980) Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari.

Diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan diare kronik.

a. Diare Akut
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat,dalam beberapa jam sampai 7-14 hari.

Etiologi.
Infeksi merupakan penyebab utama, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain adalah toksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi lain.

Patogenesis.
Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Penularannya adalah transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk,rotavirus), tangan yang terkontaminasi (clostridium difficile),atau melalui aktifityas seksual.
Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor pejamu (host).

Patogenesis diare yang disebabkan infeksi bakteri terbagi dua, yaitu:

1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)
Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada mukosa usus halus, namun tidak merusak mukosa.
Bakteri yang termasuk golongan ini adalah V.cholerae, enterotoksigenik E.Coli (ETEC), C.Perfringers, S.Aureus dan Vibrio-nonaglutinabel.
Secara klinis dapat ditemukan diare berupa air seperti cucian beras dan meninggalkan dubur secara deras dan banyak. 






2. Bakteri enteroinvasif  
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi, dan bersifat sekretorik eksudatif.
Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah enteroinvasive E.Coli (ETEC)S.Paratyphi B, S.Typhimorium, S.Enteriditis, S.Choleraeus, Shigella, YErsinia, dan C.Perfringens tipe C.

Manifestasi klinis
Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang, perut, demam dan diare.
Kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak.
Gangguan kimiawi seperti asidosis metabolic akan menyebabkan frekuensi pernafasan menjadi lebih cepat, tekanan darah menurun, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis.

Diagnosis 
1. Anamnesis
- Siapa yang terkena diare?
- Dimana terjadinya kontak dengan mikroorganisme ?
- Adakah orang lain disekitar yang terkena ?
- Apa yang dimakan atau diminum sebelum terkena diare ?

2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan muntah, nausea, demam dan nyeri perut.
Pada infeksi bakteri invasive akan ditemukan nyeri perut yang hebat, demam yang tinggi, dapat ditemukan tanda perforasi yang membutuhkan pembedahan.

3. Pemeriksaan Penunjang 
- Pemeriksaan darah tepi lengkap
- Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan berat jenis plasma.
- Pemeriksaan urine lengkap.
- Pemeriksaan tinja lengkap dan biakan tinja dari colok dubur.
- Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik.
- Pemeriksaan sediaan darah malaria.








Penatalaksanaan 
1. Rehidrasi sebagai prioritas pengobatan.
2. Identifikasi penyebab diare akut karena infeksi.
Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform, selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah.
3. Terapi simtomatik.
Obat anti diare bersifat simtomatk dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan rasional
4. Terapi definitif
Pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vaksinasi.

b. Diare kronik
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu.

Etiologi
Diare kronik memiliki penyebab yang bervariasi dan tidak seluruhnya diketahui

Patofisiologi
Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu konsistensi usus dan motilitas usus. Gangguan proses mekanik dan enzimatik, diserati gangguan mukosa, akan mempengaruhi pertukaran air dan elektrolit, sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang terbentuk. Sedangkan peningkatan motilitas berakibat terganggunya proses cerna secara enzimatik yang akan mempengaruhi pola defekasi.

Diare kronik dibagi tiga, yaitu :
1. Diare osmotik
Faktor malabsorpsi akibat adanya gangguan absorpsi karbohidrat, lemak, atau protein dan tersering adalah malabsorpsi lemak. Feses berbentuk steatore.
2. Diare sekretorik
Gangguan transfor akibat adanya perbedaan osmotik intralumen dengan mukosa yang besar sehingga terjadi penarikan cairan dan elektrolit kedalam lumen usus dalam jumlah besar. Feses berbentuk air.
3. Diare inflamasi
Terjadinya kerusakan dan kematian eritrosit disertai peradangan. Feses berdarah.








Penatalaksanaan 
a. Simtomatis
1. Rehidrasi 
2. Antispasmodik, antikolinergik (antagonis stimulus kolinergik pada resptor muskarinik )
3. Obat anti diare
- Obat antimotilitas dan sekresi usus
- Ooklreatid (sandostatin)
- Obat antidiare yang mengeraskan tinja dan absorpsi zat toksik.
4. Antiemetik (metoklopramid, proklorprazin, domperidon )
5. Vitamin Dan Mineral
6. Obat Ekstrak Enzim Pancreas
7. Alumunium Hidroksida
8. Fenotiazin dan asam nikotinat.

b. Kausal
Pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun noninfeksi. Pada diare kronik dengan penyebab infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.





Daftar pustaka
Mansjoer,Arif,Dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1,Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ,Jakarta 1999


















KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian 

1. Identitas Pasien
 Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, status marital, suku / bangsa, keluarga, nomor registrasi, alamat, tanggal MRS.

2. Keluhan Utama
 Biasanya pasien datang dengan keluhan diare maupun muntah-muntah terkadang sampai ketingkat dehidrasi, syok.

3. Riwayat Penyakit Sekarang 
 Dalam hal ini ditanyakan pada pasien / keluarga mengapa sampai mengalami diare? Apakah karena bahan makanan yang terkontaminasi virus, bakteri, racun atau karena mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu.
 Juga tanyakan apa saja yang sudah dilakukan pasien atau keluarga untuk mengatasi keadaan tersebut.

4. Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah keluarga pasien ada yang pernah mengalami sakit yang sama dengan yang dialami pasien.

5. Pengkajian Fisik
a. Inspeksi
Perahatikan apakah pasien tampak pucat, lesu lemah kualitas suara, kesadaran dan BB pasien, mukosa mulut.
b. Palpasi
Periksa turgor kulit dan keadan otot.
c. Auskultasi dan perkusi jika diperlukan. 
6. Pemerikasaan Tanda Vital
Untuk ini diperiksa tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan suhu tubuh.
7. Pengakajian Kebutuhan Fisik, Mental Dan Sosial
Digali data tentang :
- Aktifitas dan istirahat pasien setiap hari
- Kebersihan diri, pola nutrisi tubuh
- Eliminasi
- Hubungan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat
- Kemampuan beradaptasi
- Keadaan tempat tinggal dan kebersihan lingkungan.




8. Pemeriksaan Diagnostik
Biasanya diperiksa :
- Feses dan kalau ada muntahnya
- Periksa darah untuk mengukur BJ plasma (bila perlu )

9. Rencana Diagnosa

Diagnosa 1 
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan pasien mengalami diare dan muntah yang ditandai dengan pasien BAB encer lebih dari 3 kali perhari dan turgor kulit jelek.pasien lemah.

Tujuan : mengembalikan keseimbangan cairan tubuh dengan patokan BAB pasien kembali normal dalam waktu 6 jam setelah diberikan tindakan.
Intervensi
- Menimbang berat badan
- Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang (rehidrasi) baik secara infuse maupun peroral (sesuai kebutuhan diperhitungkan 0
- Pemberian obat-obatan sesuai pesanan doter
- Kontrol BAB pasien dan vital sign
- Control input dan output cairan.

Diagnosa 2
Gangguan pemenuhan nutrisi tubuh berhubungan dengan pasien mengalami mual dan muntah atau syok dan gangguan kesadaran yang ditandai dengan pasien tidakdapat makan.

Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi selama pasien mengalami GE

Intervensi :
- Beri obat anti mual dan muntah sesuai rencana dokter
- Beri nutrisi lewat NGT bila pasien mengalami gangguan kesadaran
- Berikan diet bubur saring

Diagnosa 3
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa tidak enak pada anus karena sering BAB encer

Tujuan : kebutuhan rasa nyaman pasien dapat terpenuhi





Intervensi
- Sarankan bila selesai BAB mengeringkan daerah anus
- Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian dalam keadaan kering, bersih dan nyaman.
- Berikan terapi sesuai dengan instruksi dokter.
Diagnosa 4
Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyakit yang dideritanya ditandai pasien mengalami gangguan psikis seperti marah, nonkooperatif terhadap tindakan perawat dan medik.

Tujuan : mengembalikan konsep diri pasien

Intervensi 
- Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita juga tentang proses penyembuhannya.
- Berikan dorongan pada pasien agar tidak terganggu psikisnya karena penyakit ini biasanya tidak berlangsung lama asal pasien mentaati aturan terapi yang diberikan.
- Anjurkan keluarga pasien untuk tetap lebih memperhatikan pasien agar ia tidak merasa terasing.

Diagnosa 5 
Potensial terjadinya penularan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan personal hygiene .

Tujuan : tidak terjadinya penularan penyakit terhadap keluarga pasien dan petugas kesehatan yang bersangkutan.

Intervensi :
- Berikan informasi tentang penyakit kepada pasien dan keluarga baik secara diskusi maupun penjelasan, serta tentang pentingnya personal hygiene dalam kaotannya pengan penyakit.
- Mengisolasikan pasien, isolasi tentang muntahan, pakaian.
- Petugas kesehatanyang terkait dalam perawatan pasien harus selalu menjaga personal hygiene.

Diagnosa 6
Potensial terjadinya obstruksi jalan nafas berhubungan dengan pasien muntah baik dalam keasaan sadar maupun pada pasien yang mengalami gangguan kesadaran.






Tujuan : tidak terjadi obstruksi jalan nafas

Intervensi :
- Kalau pasien muntah berikan / atur posisi yang tepat, agar tidak menghambat jalan nafas saat muntah
- Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat anti muntah

Evaluasi
1. Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai maksimum 6 jam setelah diberikan tindakan
2. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
3. Kebutuhan rasa nyaman tidak terganggu
4. Tidak ada gangguan konsep diri
5. Tidak terjadi penularan penyakit.
6. Tidak terjadi gangguan jalan nafas

Sumber pustaka :

Doengoes, Marilynn E, et al.1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3,EGC, Jakarta.
 
























ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
DIAGNOSA MEDIS GASTROENTERITIS AKUT

A. Gambaran Kasus.
Tn, SW usia 45 thn, jenis kelamin Laki- laki , pendidikan SLTP, pekerjaan , Tani / Swasta alamat Desa Desa Pelajau Kecamatan Pandawang , status klien kawin dengan 3 anak, Istri masih ada, agama klien Islam, suku Banjar bangsa Indonesia, no CM 29 96 50, tanggal MRS 12 – 12 – 04 dengan diagnosa medis gastroenteritis akut.
Penangguang jawab klien adalah Istri beliau Tn. N, 40 thn, Perempuan, pendidikan SD, Ibu rumah tangga , hubungan klien dekat, tetapi karena sering sakit beliau tidak ikut menjaga klien selama dirumah sakit.
Keluhan utama klien masuk rumah sakit adalah pada hari Jum’at tanggal 12 – 12 – 04 klien mengeluh mual berat, muntah dan berak tiba-tiba, klien mengatakan sebelumnya , klien makan sayur nangka, dan terong bakar, padahal klien sudah merasa perutnya mual. Setelah itu pagi harinya hingga siang hari klien mengeluh mual dan akhirnya muntah serta berak-berak, karena tidak tahan lagi klien masuk Rumah Sakit Umum Daerah H.Daman Huri Barabai Riwayat penyakit terdahulu klien mengatakan tidak pernah dirawat di Rumah Sakit, sedangkan klien pernah mengalami muntaber beberapa kali sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga, Istri klien dikatakan sering sakit batuk dan sudah berobat ke puskesmas, tetapi bukan TBC.

B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum klien terlihat masih lemah, kesadaran compos mentis, GCS : 456, vital sign pada pengukuran tanggal 14 – 12 – 04 jam 04.00 TD = 130/90 mmHg, temperatur 37 C, nadi 98 x /menit, pernafasan 16 x /menit, TB = 148 cm, BB = 43 kg.
Warna kulit klien agak pucat, baik, tidak ada edema, suhu 37 C, turgor sedang, tekstur agak lembab, lesi tidak ada, massa tidak ada, bentuk kuku normal (agak kotor).
Kepala dan leher struktur normal, nyeri dan vertigo tidak ada, tidak ada bekas trauma kepala, pergerakan leher baik, tidak ada kesulitan menelan, struktur simetris, kelenjar thyroid tidak terjadi pembesaran.
Struktur mata simetris, bersih tidak ada sekresi, ketajaman mata baik, klien dapat melihat jarak jauh dan dekat (membaca Al-Qur’an), gerakan bola mata simetris. Konjungtiva agak anemis, sklera agak kemerahan, pupil miosis bila terkena cahaya, klien tidak memakai alat bantu penglihatan.
Pendengaran dan telinga klien. Telinga klien simetris antara telinga kanan dan kiri, tidak ada perdarahan, peradangan/nyeri tidak ada sekresi, klien tidak mengeluh tinitus/vertigo. Fungsi pendengaran baik, klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran.





Warna mukosa bibir agak kemerahan, kebersihan lidah dan mulut kurang, tidak terdapat perdarahan atau lesi, kebersihan gigi kurang, tidak terdapat caries, gigi dan gusi tidak nyeri, fungsi mengunyah baik, klien tidak memakai gigi palsu.
Bentuk dada normal, gerakan dada simetris, frekwensi nafas 16 x / menit, klien tidak batuk, tactil fremitus normal, bunyi perkusi dada resonan, hepar dan lien tidak teraba, bunyi nafas lembut, tidak ada bunyi tambahan, frekwensi jantung 98 x / menit, tidak terdapat bunyi jantung tambahan.
Abdomen tampak simetris, tidak ada pembesaran hati dan limpa, bunyi perkusi hati redup, batas hati tidak teraba, bising usus hiperaktif, ada nyeri tekan, mual dan muntah apabila dipaksa makan.
Genetalia dan reproduksi, klien mengatakan tidak mengalami kelainan genetalia, tidak nyeri waktu BAK, agak nyeri waktu BAB.
Eksterimitas atas struktur normal, tidak ada bekas trauma, pada ekstermitas bawah struktur normal, tidak ada bekas trauma.

Kekuatan otot 4 4 , pada ekstremitas kanan atas terpasang infus. 
  3 3
Klien dibantu selama beraktivitas di rumah sakit.

C. Kebutuhan Fisik, Psikologis, Sosial dan Spritual.
Aktivitas dan istirahat klien selama dirumah biasanya tidur jam 22.00, selama dirumah sakit klien hanya berbaring ditempat tidur dan tidak melakukan aktivitas yang berarti, skala aktivitas = 2 (dibantu oleh orang).
Personal hyegiene, selama dirumah sakit klien tidak dapat mandi, hanya diseka, gosok gigi dibantu oleh anak beliau, kuku tidak terpotong, klien selama dirumah sakit tidak keramas.
Frekwensi makan selama dirumah selama bulan puasa klien makan pada sahur dan berbuka, sebelum bulan puasa 3 kali sehari. Jenis makanan selama dirumah nasi biasa ditambah lauk dan sayuran. Nafsu makan selama dirumah sakit, klien mengeluh kurang nafsu makan.
Eleminasi fecal, keluhan pada waktu masuk rumah sakit, klien BAB > 6 kali, konsistensi cair, tidak berdarah, tidak berlendir. Pada saat pengkajian klien tidak BAB cair lagi.
Eleminasi urine selama dirumah sakit klien mengatakan tidak mengeluh sakit, frekwensi antara 2 – 3 x sehari, dibantu dengan menggunakan pispot waktu BAB dan BAK. Warna BAK kuning jernih, klien tidak menggunakan kateter.
Klien menikah dan memiliki 5 anak, 2 diantaranya sudah meninggal dunia. Klien tinggal dengan Istrinya dan kedua anaknya yang sudah berkeluarga.
Selama di rumah sakit, klien tidak dapat melakukan ibadah shalat karena merasa lemah dan kadang-kadang pusing dan mual. Klien meyakini dirinya akan sembuh, tetapi takut apabila berlama-lama di rumah sakit dan klien mengatakan selalu berdoa agar diberikan kesembuhan.





D. Data Fokus.
Inspeksi : Klien tampak lemah, pucat, mukosa bibir agak kering.
Perkusi : Perkusi abdomen timpani (pada bagian lambung)
Palpasi : Adanya nyeri tekan pada kuadran kiri bawah atas. Skala nyeri 1 atau nyeri ringan.
Auskultasi : Terdapat bising usus yang meningkat.

E. Terapi Obat-obatan.
- Infus ringer laktat digrojok 1 kolf kemudian dilanjutkan 20 tts/menit.
- Inj. Kedacillin 3 x 1 gr IV.
- Inj. Kalmethason 3 x 1 amp IV
- Inj. Piralen 3 x 1 amp IV.
- Immodium 4 x 1 tablet.
- Sanlin 500 mg 4 x 1 kapsul
F. Analisa Data.
No Data Masalah Etiologi
1


















2.


 Data objektif
- Klien tampak lemah, pucat, mukosa bibir agak kering.
- TTV. TD : 130/90 mmHg
  Temp : 37 C
  Pols : 98 x/menit
  Resp : 16 x/menit
  BB : 43 kg
  TB : 147 cm
- Terpasang infus RL 20 tetes/menit
- Turgor sedang
Data sujektif
- Klien mengeluh masih mual bila makan dan minum.
- Adanya nyeri tekan pada perut, skala 1.
- Bising usus meningkat.
- Muntah 2 x

Data objektif
- Klien tampak kurang bisa merawat dirinya sendiri.
- Kelihatan kotor.
- Kuku kotor dan kulit agak lembab. Resiko terhadap kekurangan volume cairan
















Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang 
 Muntah / mual


















Kurangnya mengingat dan salah interpretasi
















- Klien bingung bila ditanyakan tentang penyakit dan penyebabnya.
- Muka tampak bingung.
- Gerak bola mata kesana kemari
Data subjektif.
- Klien mengatakan tidak tahu tentang penyebab, tanda dan gejala serta penceghan penyakitnya.
- Klien mengatakan sudah berkali-kali mengalami penyakit seperti dideritanya sekarang.

Data objektif.
- Klien tampak gelisah, pucat, kulit agak lembab, nadi cepat.
- Klien mengeluh diare sebelumnya.
- Klien mengeluh mual, ingin muntah
- TTV : TD : 130/90 mmHg
  Nadi : 98 x/menit
  Resp : 16 x/menit
  Temp : 37 C


penatalaksanaan program terapeautik dan penyakit.


Perubahan kenyamanan : Mual

 










Gastroenteritis akut.


















G. Rencana Asuhan Keperawatan.
No Diagnosa keperawatan Perencanaan
  Tujuan Intervensi Rasional
1














2



















 Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah/mual











Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) penatalaksanaan program terapeutik berhubungan kurangnya mengingat dan salah interpretasi ditandai 
- Klien tampak kurang bersih, kuku kotor.
- Klien tampak bingung bila ditanyakan tentang proses penyakit, penyebab, dan pencegahannya.
- Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya. Resiko kekurangan volume cairan dapat diatasi dengan kriteria 
- Klien tidak lemah, pucat berkurang, mukosa bibir lembab.
- TTV dalam batas normal.
- Klien tidak mengeluh mual dan muntah bila makan/minum.

Klien lebih mengerti tentang penyakit dan penatalaksanaannya dengan kriteria
- Klien dapat menjaga kebersihan tubuhnya.
- Dapat mengungkapkan tentang penyakitnya









- - Kaji yang disukai dan tidak disukai klien, berikan cairan kesukaan yang tidak bertentangan dengan proses pengobatan.
- Berikan sedikitnya 4 gelas/hari.
- Jelaskan pada klien tentang pentingnya hidrasi, dan tidak mempercayai rasa haus sebagai tanda kebutuhan terhadap cairan.

- Mengkaji tingkat pengetahuan klien



- Ciptakan lingkungan (kondisi saling percaya)

- Beri pendidikan kesehatan


- Libatkan keluarga dalam menjaga kebersihan klien dan menganjurkan untuk mengingatkan klien terhadap perawatan dan pengobatan.

 - Untuk mengetahui yang disukai klien, sehingga asupan cairan lebih mudah diterima klien.


- Agar kebutuhan cairan terpenuhi.
- Agar klien mengerti pentingnya hidrasi untuk proses penyembuhan.




- Agar dalam Penkes tidak terjadi salah interpretasi tentang apa yang disampaikan dan apa yang diterima.
- Diharapkan klien dapat bersedia mengambil bagian dalam Penkes
- Agar klien dapat lebih bekerjasama dalam optimalisasi proses penyembuhan.
- Fungsi dari perawatan keluarga sangat penting dalam proses perawatan dan pengobatan









- Klien mengatakan sudah berkali-kali mengalami penyakit seperti yang dideritanya sekarang.

Mual berhubungan dengan gastroenteritis akut ditandai.
- Klien tampak gelisah, pucat, kulit agak basah dan lembab, nadi cepat.
- Sehari sebelumnya klien mengeluh diare.
- Klien mengeluh ingin muntah.
- Tanda-tanda vital :
TD : 130/90 mmHg
Pols : 98 x /menit.
Resp : 16 x/menit



 





Mual dapat berkurang dengan kriteria 
- Klien lebih tenang.
- Klien tidak mengeluh ingin muntah. 





- Jelaskan penyebab mual


- Dorong klien untuk makan sedikit- sering dan untuk makan perlahan dengan porsi lembut dan tidak panas

- Dorong klien untuk istirahat pada posisi semi fowler dan mengganti posisi baring dengan pelan.
- Anjurkan tehnik mengurangi mual.


- Konsultasi dengan dokter : pemberian obat-obatan anti mual


- Agar klien dapat mengidentifikasi penyebab mual.
- Makan sedikit tetapi sering dan makan perlahan serta dengan porsi lembut dan tudak panas biasanya akan ditoleransi baik.
- Diharapkan lambung tidak tertekan dan tidak terangsang untuk muntah.

- Diharapkan klien dapat mengerti dan dapat mengurangi perasaan mual.
- Mual dapat teratasi









H. Implementasi
No Hari/tanggal Jam No
Dx Implementasi Evaluasi tindakan
1














2

















 Minggu
12 – 12 – 04













Minggu
12 – 12 – 04
















 09.00














09.30

















 I














II

















 - Mengkaji asupan cairan yang disukai klien.
- Memberikan minum 2 gelas.
- Menjelaskan kepada klien tentang pentingnya hidrasi dan tidak mempercayai rasa haus sebagai tanda kebutuhan terhadap cairan.







- Mengkaji tingkat pengetahuan klien dengan menanyakan pendidikan terakhirnya.
- Menciptakan lingkungan saling percaya.
- Memberikan Penkes tentang pengertian diare, penyebab diare, cara mencegah, penatalaksanaan sejak dini dan resiko yang mungkin timbul akibat diare.
- Melibatkan keluarga dengan menjaga kebersihan diri klien dan menganjurkan agar selalu mengingatkan klien agar selalu ingat terhadap perawatan dan pengobatan diare muntaber yang dideritanya.
 Kamis, jam 11.30
Tanggal 14 – 11 – 02
S : Klien mengatakan dapat mulai mengatasi rasa mual dan dapat minum.
O : Klien sedikit tampak lebuh segar, mokusa mulut agak basah dan lembab, TTV normal.
A : Masalah mulai teratasi.
P : Intervensi berlanjut.

Kamis, jam 11.30
Tanggal 14 – 11 – 02
S : Klien masih tampak bingung dan tidak dapat mengulang penjelasan.
O : Klien masih lemah (sulit menerima informasi)
A : Masalah belum teratasi.
P : Intervensi berlanjut.







3

















2 Minggu
12 – 12 - 04
 09.00



 III - Menjelaskan penyebab mual.
- Mendorong klien untuk makan sedikit dan sering serta perlahan dan dengan porsi lembut dan tidak panas,
- Mendorong klien untuk istirahat pada posisi semi fowler dan mengganti posisi baring dengan perlahan.
- Menganjurkan tehnik mengurangi mual dengan cara :
 Menghindari bau yang merangsang muntah.
 Kendorkan pakaian sebelum makan.
 Ventialasi yang cukup untuk mendapatkan udara yang segar.
 Menghindari berbaring telentang sedikitnya 2 jam setelah makan.
- Konsultasi dengan dokter untuk pemberian obat anti emetik:
Inj. Primperan 1 amp IV Kamis, jam 10.30
Tanggal 14 – 11 – 02.
S : Klien mengatakan mual mulai berkurang.
O : Klien tampak lebih tenang, nadi lebih lambat, TTV :
  TD : 130/80 mmHg
  Pols : 82 x/menit
  Resp : 16 x/menit
  Temp : 37 C
A : Masalah mulai teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan



















KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan.
1. Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny. K, dengan diagnosa medis Gastroenteritis akut diruang Al Kindi RS Muhammadiyah Banjarmasin pada hari kamis 14 november 2002 yang dilakukan secara bertahap mulai dari langkah pengkajian, analisa, perencanaan, implementasi dan diakhiri dengan tahap evaluasi.
2. dari hasil pengkajian dan analisa data maka ditemukan beberapa diagnosa keperawatan yang sangat menonjol dalam kasus ini, diantaranya :
a. Resiko terhadap kekurangan volume cairan b/d mual/muntah .
b. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) penatalaksanaan program terapeutik b/d kurangnya mengingat dan salah interpretasi.
c. Perubahan kenyamanan : mual b/d gastroenteritis akut.
Setelah semua tahap dilaksanakan dan asuhan keperawatan ditegakkan yaitu dari jam 08.30 s/d 11.30 WITA, dengan situasi yang ada maka masalah-masalah keperwatan pada klien tersebut masih belum teratasi dan terpenuhi secara optimal sehingga memerlukan tindakan keperawatan lanjutan dari tim medis dan atau perawat yang bertugas
B. Saran.
1. Berdasarkan dari kesimpulan tersebut, perlu diambil beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti, perlu dan pentingnya pendidikan kesehatan bagi klien dan keluarga, dan perawat seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup memadai dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
2. Keluarga dan lingkungan sekitar yang bersih dan perilaku hidup sehat akan dapat mendukung usaha pencegahan gastroenteritis.







PENYULUHAN KESEHATAN

Nama Mahasiswa : Muhammad Yusuf
NPM : 04027 K.
Nama Pasien : Ny. K.
Diagnosa Medis : Gastroenteritis Akut.
Judul : Penyuluhan Kesehatan Tentang Gastroenteritis.
TIU : Klien dapat memahami tentang Gastroenteritis setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
TIK : - Klien mengerti secara umum tentang proses penyakit.
- Klien dapat mengerti tentang cara mencegah.
- Klien dapat megerti tentang penatalaksanaan gastroenteritis
Materi : - Tanda dan gejala Gastroenteritis
  - Patofisiologis Gastroenteritis
  - Pencegahan Gastroenteritis
Metode : Ceramah dan tanya jawab
KBM : - Salam dan perkenalan serta penjelasan kontrak waktu.
  - Menjelaskan tentang penyakit Gastroenteritis
  - Menjelaskan penatalaksanaan Gastroenteritis
  - Terminasi
Evaluasi : 1. Klien dapat menyebutkan kembali penjelasan tentang penyakitnya.
  2. Klien terlihat tidak bingung dan bertanya-tanya tentang penyakitnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar