Kamis, 10 September 2009

HIPERTENSI 3

 




KONSEP PENYAKIT
GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER
DENGAN KASUS HIPERTENSI.


A. PENGERTIAN
 Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang sering dijumpai dan termasuk problema kesehatan yang perlu segera ditanggulangi sebelum terjadi komplikasi dan akibat jelek lainnya. Definisi yang tepat bagi hypertensi masih merupakan persoalan, sebagai pegangan, WHO telah membuat kriteria bahwa seseorang dianggap hypertensi bila tekanan darah 160/95 mmhg atau lebih. Sedangkan tekanan kurang 140/90 mmhg adalah normatif.

 Pembagaian hypertensi :
1. Mild Hypertension : Tekanan diastole 90 – 110 mmhg.
2. Moderate hypertension : Tekanan diastole 110 – 130 mmhg.
3. Severe hypertension : Tekanan diastole lebih dari 130 mmhg.

WHO (1983 ) telah sependapat dan menganjurkan tindakan pencegahan primer terhadap hypertensi ini, karena kira-kira setengah dari penderita ini tidak menyadari akan penyakitnya karena tidaj ada keluhan sama sekali.


B. ETIOLOGI.
Etiologi hypertensi ini merupakan interaksi bermacam-macam faktor, masing – masing faktor tersebut tidak sama kuatnya untuk menimbulkan hypertensi pada individu tertentu. Faktor – faktor tersebut adalah :
1. Atherosklerosis.
2. Meningkatnya pemasukan sodium.
3. Obesitas.
4. Baroreceptor.
5. Renin secretion.
6. Renal exoration dari sodium dan air.
7. Genetik dan lingkungan.

Dari faktor tersebut diatas yang paling sering terjadi adalah karena obesitas dan peningkatan pemasukan sodium.


C. TANDA DAN GEJALA.
Umumnya hypertensi primer tidak memberikan keluhan dan tanda klinis khusus, tetapi mungkin terdapat gejala :
1. Pusing.
2. Sakit kepala.
3. Epitaksis.
4. Blured vision ( penglihatan yang remang-remang ).
5. Shortnes breath ( nafas pendek ).
6. Sinkop.
7. Dizzines.

D. PATOFISIOLOGI.



Peningkatan asupan Genetik Stres Faktor endotel
Natrium
  perubahan sel membran


Retensi natrium luas filtrasi peningkatan Renin obesitas
Pada ginjal menurun aktivitas angio
  Simpatik tensin
  Me  




  hiper 
  insulin 
   
  Kontraksi vena



  volume cairan kontraksi hipertropi
  Meningkat fungsional struktural  



  Preload meningkat kontraktilitas




   
  Curah jantung meningkat tahanan perifer meningkat





  HYPERTENSI
   
   
   





E. PENGOBATAN / INTERVENSI MEDIS.
Tujuan pengobatan hipertensi adalah mengembalikan tekanan darah untuk mencegah komplikasi.
1. Therapi hipertensi ringan – sedang dimulai dengan salah satu obat berikut ini :
a. Hidroklorotiazid ( HCT ) 12,5 – 25 mg / hr, dosis tunggal pada malam hari.
b. Reserpin 0,1 – 0,25 sehari sebagai dosis tunggal.
c. Propanolol 2 x 20 – 40 mg sehari.
d. Kaptopril 2 – 3 x 12,5 – 25 mg sehari.

2. Therapi hypertensi sedang berat, diobati dengan kombinasi HCT + propanolol atau HCT + kaptopril.
3. Therapi hypertensi berat yang tidak sembuh dengan kombinasi obat diatas ditambah dengan Metildopa 2 x 125 – 250 mg atau reserpin 0,1 – 0,25 mg / hr.


F. REFERENSI.
1. DEPARTEMEN KESEHATAN R.I. 1992.Pedoman pengobatan dasar di Puskesmas.Jakarta.
2. Doenges.E Marylin. Rencana Asuhan keperawatan. Edisi 3.1999 EGC. Jakarta .
3. Suparman. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. 1990 FKUI. Jakarta.
4. Engram Barbara.Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2.1998. EGC. Jakarta.

   



























KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN HYPERTENSI.

 PENGKAJIAN
1. AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT.
 Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
 Tanda : Frekuensi jantung meningkat.

2. SIRKULASI
 Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, pennyakit jantung koroner /  
  Katup, dan penyakit cardiovaskuler.Episode palpitasi, persepsi
 Tanda : • Kenaikan TD ( pengukuran serial dari kenaikan TD diperlukan untuk menegakan diagnosis.
  • Hipotensi postural ( mungkin berhubungan dengan regimen obat).  
• Nadi, denyutan jelas dari kaarotis, radialis, perbedaan denyut. Seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan radialis atau brachialis ; denyut popliteal, tibialis posterior, pedialis tidak teraba atau lemah.
• Denyut apikal, PMI kemungkinan bergeser dan / atau sangat kuat.
• Frekuensi / irama ; takikardia, berbagai disritmia.
• Bunyi jantung, terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini ): S4 (pengerasan ventrikel kiri / hipertropi ventrikel kiri).
• Murmur stenosis valvular.
• Desiran vaskuler terdengar diatas karotis, femoralis atau epigastrium, ( stenosis arteri ). Distensi vena jugularis.
• Ekstremitas ; perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokontriksi feriper) ; pengisisan kapiler mungkin lambat/ tertunda.
• Kulit, pucat, sianosis dan diaforesis ( kongesti, hipoksemia ) kemerahan (feokromositoma).]

3. INTEGRITAS EGO.
 Gejala : • Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, eliporia atau marah kronik ( dapat mengindikasikan kerusakan serebral ).
  • Faktor stres multipel ( hubunan, keuangan, yang berkaitan dengan pengobatan.
 Tanda : • Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang meledak.
  • Gerak tangan empati, otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ), gerakan fisik cepat, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
 




4. ELIMINASI.
 Gejala : • Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( seperti infeksi / obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu )  
5. MAKANAN.
 Gejala : • Makanan yang disukai, yang daoat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol ( seperti makanan yang digoreng,keju, telur ) gula – gula berwarna hitam : kandungan tinggi kalori.
  • Mual, muntah.
  • Perubahan berat badan.
  • Riwayat pengguna diuretik.

 Tanda : • Berat badan normal atau obesitas.
  • Adanya edema ; kongesti vena DJV, glukosuria.
 
6. NEOROSENSORI.
 Gejala : • Keluhan pening, pusing.
  • Berdenyut, sakit kepala suboksipital, (terjadai saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam )
  • Kebas atau kelemahan pada satu sisi tubuh.
  • Gangguan penglihatan ( diplopia, penglihatan kabur ).
• Episode epitaksis.

 Tanda : • Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, prosses fikir, atau memori (ingatan).
• Respon motorik ; penurunan kekuatan genggaman tangan dan / refleks tendon dalam.
• Perubahan retina optik ; dari sklerosis / penyempitan arteri ringan sampai berat dan perubahan sklerotik dengan edema atau papiledema, eksudat dan hemoragi tergantung berat / lamanya hypertensi.

7. NYERI / KETIDAKNYAMANAN.
 Gejala : • Angina ( penyakit arteri koroner / keterlibatan jantung ).
• Nyeri hilang timbul pada tungkai / klaudikasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah ).
• Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi.
• Nyeri abdomen / massa ( feokromositoma )

8. PERNAFASAN.
 Gejala : • Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas / kerja.
• Takipnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal
• Batuk dengan / tanpa pembentukan sputum.
• Riwayat merokok.

 Tanda : • Distres respirasi / penggunaan otot aksesori pernafasan.
• Bunyi nafas tambahan ( jrakles / mengi ).
• Sianosis.

9. KEAMANAN.
 Gejala / : • Gangguan koordimasi / cara berjalan
  Keluhan • Episode parastesia unilateral transien. Hipotensi postural.

10. PEMBELAJARAN / PENYULUHAN.
 Gejala : • Faktor – faktor resiko keluarga, hipertensi, aterosklerotik, penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit serebrovaskuler / ginjal
• Faktor – faktor resiko etnik, seperti orang Afrika, Amerika, Asia Tenggara.
• Pengguna pil KB / hormon lain, obat-obat / alkohol.


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.

 Darah : • Hemoglobin dan Hematokrit.
  • BUN dan Kreatinin.
• Kadar glukosa.
• Kalium serum.
• Kolesterol dan Trigeliserida serum.
• Hormon ; Aldosteron serum.

 Urien : • Urien lengkap.
• Asam urat.
• Steroid urien.

 Radiologi : • IVP
• Thorax AP.
• EKG.

   
  
 



 DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung.
Faktor resiko meliputi ; peningkatan afterload, vasokontriksi, ischemia, miokardia, hipertropi / rigiditas vantrikuler.


 Tujuan jangka pendek ;
Berpartisipasi dalam aktifitas yang menurunkan TD / beban kerja jantung.

 Tujuan jangka panjang ;
 Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima individu.
 Memperlihatkan irama dan frekuensi irama jantunng stabil dalam rentang normal.

 Rencana intervensi.
• Pantau TD, ukur pada kedua lengan dengan alat dan tehnik yang adekuat.
• Amati warna kulit, turgor, kelembaban dan kapiler refill.
• Pertahankan pembatasan aktivitas, bantu klien melakukan perawatan diri sesuai kebutuhan.
• Pantau respon obat untuk mengontrol tekanan darah.
• Kolaborasi untuk pemberian obat.

 Rasionalisasi.
• Untuk membandingkan & menentukan klasifikasi / derajat hipertensi.
• Memantau kemungkinan adanya decomp / penurunan curah jantung.
• Untuk mengurangi stress atau ketegangan.
• Untuk memantau ada / tidaknya respon obat yang tidak menguntungkan.


2. Intoleransi aktivitas, mungkin berhubungan dengan ;
 Kelemahan umum.
 Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.

Mungkin dibuktikan oleh ;
 Laporan verbal tentang keletihan atau kelemahan.
 Frekuensi jantung atau respon tekanan darah terhadap aktivitas abnormal.
 Rasa tidak nyaman saat bergerak / dispnea.
 Perubahan gambaran EKG mencerminkan adanya ischemia, disritmia.


 Tujuan jangka pendek ;
 Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
 Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur.

 Tujuan jangka panjang ;
Menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologis.


 Rencana intervensi.
• Kaji respon pasien terhadap aktivitas,
 Perhatikan frekuensi nadi 20 x /mt diatas frekuensi istirahat.
 Peningkatan TD yang nyata selama / sesudah aktifitas ( sistole diatas 40 mmhg, diastole diatas 20 mmhg ).
 Adanya dispnoe, keletihan, kelemahan, berkepanjangan / berlebihan, pusing, diaforesis atau pingsan.
• Instruksikan / ajarkan tehnik menghemat energi, misalnya ; mandi dengan kursi, duduk saat sikat gigi / menyisir rambut, melakukan aktifitas secara perlahan.
• Catat oedema umum / tertentu.
• Pertahankan pembatasan aktivitas, misalnya ; istirahat ditempat tidur / kursi. Bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
• Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi.


 Rasionalisasi.
• Membantu mengkaji stress terhadap aktivitas dan bila ada merupakan indikator terhadap kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
• Mengurangi penggunaan energi & membantu keseimbangan antara suplai & kebutuhan O2.
• Indikasi gagal jantung, kerusakan vaskular / ginjal.
• Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah & perjalanan hypertensi.

3. Nyeri (akut) sakit kepala, kemungkinan berhubungan dengan peningkatan tekana vaskuler serebral, kemungkinan dibuktikan oleh ;
 Melaporkan tekanan nyeri berdenyut terletak pada region sub oksipital, terjadi pada saat bangun dan hilang spontan setelah beberapa waktu berdiri.
 Segan untuk menggerakan kepala, menghindari sinar terang dan keributan, mengerutkan kening, menggenggam tangan.
 Melaporkan kekakuan leher, pusing, penglihatan kabur, mual dan muntah.

 Tujuan jangka pendek ;
• Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan nyeri.
• Melaporkan nyeri / ketidaknyamanan hilang / terkontrol.

 Tujuan jangka panjang ;
Mengikuti jadwal minum obat sesuai dosis & waktu yang ditetapkan.

 Rencana Intervensi,
• Pertahankan tirah baring selama fase akut.
• Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya ; BAB & batuk.
• Untuk mengurangi / menghilangkan sakit kepala dapat dilakukan kompres dingin di dahi, pijat punggung dan leher, tehnik relaksasi dan aktivitas waktu senggang.
• Kolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi medis.

 Rasionalisasi,
• Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi.
• Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi dapat meningkatkan tekanan vaskuler serebral.
• Menurunkan tekanan vaskular serebral & memperlambat / memlokade respon simpatis.































   
 
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI 



1. PENGKAJIAN
I. BIODATA.
4. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Amin.
Umur : 48 th. 
Jenis kelamin : laki-laki
Pendidikan : Sarjana.
Agama : Islam.
Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia.
Status perkawinan : Kawin
Alamat : Jl. Ir . P.M. Noor. Komp Barata No 23 Banjarbaru.
Tgl masuk RS / Pusk : 5-10-2001
Tgl pengkajian : 5-10-2001
Nomor register : 1305 / A
Dignosa medis : Hipertensi


A. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.
Nama : Tn. Amin.
Umur : 48 th.
Jenis kelamin : laki-laki.
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Alamat : Jl. Ir. P.M. Noor. Komp Barata No 23 Banjarbaru.


II. RIWAYAT PENYAKIT.
A. Keluhan utama.
Rasa pusing berputar serta pegal didaerah tengkuk.

B. Riwayat penyakit sekarang.
Rasa pusing mulai dirasa pasien sejak tanggal 4-10-01, setelah pulang kerja jam 13, 30 karena terik matahari yang sangat panas. Setelah itu pasien coba minum obat tradisional Emping Melinjo yang direndam dengan air putih & rasa pusing mulai berkkurang. Kemudian tanggal 5-10-2001, saat pasien bangun tidur, pandangan terasa berkunang-kunang. Rasa pusing serta pegal di daerah tengkuk, akan bertambah sakit bila dibawa beraktifitas & berkurang bila pasien istirahat & rebahan. Atas inisiatif pasien sendiri kemmudian pasien berobat ke Puskesmas.

  C. Riwayat penyakit terdahulu.
Sebelumnya pasien pernah ada riwayat HT sejak 1 tahun yang lalu, namun bila ada gejala HT px langsung kontrol ke PKM,tensi tertinggi selama 1 th terakhir ini yaitu 170/120 mmhg. Namun hanya 1 x pada 4 bulan yang lalu. 
III. PEMERIKSAAN FISIK.
A. Keadaan umum.
Kesadaran : Kompesmentis.
Vital sign • TD : 150 / 100 mmhg • Temp : 37° C  
 • Nadi : 100 x / mt • Resp : 28 x / mt.  
B. Kulit.
• Elastisitas kulit baik, turgor cepat kembali, kelembaban kulit cukup.
• Lesi (+). WKK. (+).
• Tidak ad tanda dan gejala peradangan.

C. Kepala.
• Bentuk simetris, warna rambut hitam & tipis, tampak adanya uban.
• Distribusi merata.
• Kotoran kulit kepala / ketombe (+), kepasa pusing rasa berputar.

D. Penglihatan.
• Gerakan bola mata simetris.
• Refleks terhadap cahaya (+).
• Pasien menggunakan alat bantu kaca mata minus. 

E. Penciuman & Hidung.
• Bentuk hidung simetris.
• Pernafasan cuping hidung (+).
• Penciuman berfungsi baik, dapat membedakan bau alkohol dan minyak angin

  F. Pendengaran & Telinga.
• Bentuk telinga dextra dan sinistra simetris.
• Tidak terdapat adanya sekret.
• Pendengaran berfungsi baik, pasien mampu menjawab pertanyaan perawat tanpa pengulangan kalimat.

  G. Mulut.
• Mukosa bibir lembab. Lidah bersih, warna merah muda.
• Warna gusi merah muda, gejala peradangan (+).
• Jumlah gigi lengkap, tidak terdapat adanya plak atau karang gigi.

  H. Leher.
• Pulsasi vena jugularis (+), teraba kuat.
• Jugularis vena preasure (-)..
• Bagian belakang leher / tengkuk terasa pegal.

I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
• Bentuk simetris, retraksi dinding dada (+).
• Fremitus vokal dextra sinistra simetris.
• Auskultsi Bj 1 & Bj 2 tunggal, tidak terdengar bunyi gallop (Bj 3).
• Tidak terdengar bunyi nafas tambahan.
• Menurut pasien jantung terasa berdebar-debar.

J. Abdomen
• Bentuk simetris, kembung (-).
• Tidak teraba, pembesaran hati / limfe.
• Terdengar bunyi timpani (+). Bising usus normal

K. Sistem reproduksi.
• Jenis kelamin laki-laki.
• Mempunyai anak 2 orang, keduanya laki-laki, berusia 17 th dan 14 th.

L. Ekstremitas atas & bawah.
• Akral hangat, bentuk tangan simetris, jumlah jari lengkap, pertumbuhan kuku baik, tidak ada pembatasan gerak ekstremitas atas.
• Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala / tanda odema. Bentuk simetris dextra sinistra, jumlah jari lengkap, pertumbuhan kuku baik dan tidak ada pembatasan gerak ekstremitas bawah.


IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.
A. Aktivitas & Istirahat.
• Aktivitas sehari-hari sebagai staf Fakultas Pertanian UNLAM banjarbaru.
• Bekerja dari jam 08.00 – 13.30 wita.
• Istirahat siang ± 2 jam sehari, istirahat malam ± 6 – 7 jam setiap malam

B. Personal hygiene.
• Pola mandi 2 x sehari, gosok gigi 2 x sehari.
• Sumber air bersih dari PDAM.
• Pola ganti baju 2 x sehari.

C. Nutrisi.
• Pola makan 3 x sehari, terdiri dari lauk & pauk.
• Minum air putih ± 5 – 7 gelas perhari.
• Suka minum air kopi setiap pagi hari.

D. Eliminasi.
• Pola BAB 1 x sehari, biasanya pada pagi hari.
• Pola BAK 5 – 7 x sehari, tidak pernah mengalami gangguan dalam BAK.

E. Sexualitas.
• Lamanya menikah 23 tahun.
• Mempunyai isteri 1 orang yang berusia 44 tahun.

F. Psikososial.
• Pasien tampak cemas akan penyakitnya takut jikalau HHT yang dideritanya sampai ke tahap HT berta & sampai menderita stroke.

G. Spiritual.
• Pasien beragama Islam, menurut pasien ia tetap melaksanakan ibadah salat 5 waktu meskipun dalam kondisi seperti ini.
• Pasien percaya penyakti ini cobaan dari Tuhan YME.
V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.
A. Laboratorium.

 
NO HARI & TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN KATEGORI NORMAL HASIL PEMERIKSAAN
- - Tidak dilakukan pemeriksaan - -


  B. Pengobatan :
• Reserpin 3 x 1 tab.
• HCT 3 x 1 tab.
• PCT 3 x 1 tab


 ANALISA DATA 


DATA SUBYEKTIF & OBYEKTIF
 
ETIOLOGI
 MASALAH
1. Data Subyektif.
Pasien mengatakan rasa pegal pada daerah tengkuk, dan sakit kepala. Penglihatan kabur / berkunang – kunang pada saat bangun tidur.

  Data Obyektif .
  Raut muka tampak tegang.
  TD 150 / 120 mmhg.


2. Data Subyektif.
Pasien mengatakan badannya terasa lemah dan letih.

Data Obyektif.
K / U tampak lemah.

3. Data Subyektif.
Pasien mengatakan takut terhadap HT yang dideritanya jikalau sampai pada fase stroke.

  Data Obyektif.
  Raut muka pasien tampak tegang. Peningkatan tekanan vaskuler serebral







Kelemahan umum.






Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi & rencana pengobatan. Sakit kepala









Intoleransi aktivitas.






cemas
 
INTERVENSI KEPERAWATAN


NO HARI & TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
 PERENCANAAN IMPLEMENTASI
  TUJUAN TINDAKAN RASIONALISASI 
1














2.



















3.
 Jum’at
5-10-01
















Jum’at 
5-10-01
























Jum’at
5-10-01
 Gangguan rasa nyaman sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral, ditandai dengan rasa pegal di daerah tengkuk, penglihatan kabur, / berkunang-kunang saat bangun tidur.
TD ; 150 / 120 mmhg.








Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ditandai dengan pernyataan pasien yang mengatakan badan terasa lemah dan letih.



















Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan karena kurangnya informasi yang diberikan kepada pasien.
 Jangka pendek.
Melaporkan sakit kepala hilang / terkontrol.

Jangka panjang
Menyatakan metode yang memberikan rasa pengurangan nyeri.







Jangka pendek
Melaporkan peningkatan dalam intoleransi aktivitas yang dapat diukur



Jangka panjang
Pasien mampu kembali beraktivitas secara fisiologis.












Jangka pendek
Menyatakan pemahaman terhadap penyakitnya.

Jangka panjang
Mengikuti instruksi dan mempertahankan TD dalam parameter normal.
 1. Pertahankan tirah baring selama fase akut.


2. Meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.

3. Untuk mengurangi sakit kepala dapat dilakukan tehnik relaksasi di aktivitas waktu senggang.


1. kaji respon pasien terhadap aktivitas ;
• observasi frekuensi nadi.
• Peningkatan TD selama / sesudah beraktifitas.


2. Ajarkan tehnik menghemat energi.




3. Observasi adanya gejala oedema.




4. Pertahankan pembatasan aktivitas.



1. Kaji kesiapan & hambatan dalam belajar, termasuk orang terdekat.





2. Nyatakan batasan TD normal, jelaskan tentang HT dan efeknya pada jantung, pembuluh darah dan ginjal.





3. Bantu pasien mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat dirubah.





4. Anjurkan pasien untuk memantau respon fisiologi sendiri terhadap aktivitas.




5. Anjurkan untuk sering mengubah posisi, & olah raga kaki saat berbaring. 
 1. Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi.

2. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi dapat meningkatkan tekanan vaskuler serebral.

3. Menurunkan tekanan vaskuler serebri dan memperlambat / memblok respon simpatik.


1. Membantu mengkaji stres terhadap aktifitas dan bila ada merupakan indikator terhadap kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.


2. Mengurangi penggunaan energi dan membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
3. Indikasi gagal jantung, kerusakan vaskuler / ginjal.



4. Menurunkan stres dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah & perjalanan HT

1. Menyangkal konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera dapat mempengaruhi pasien / orang terdekat untuk mempelajari penyakit.

2. Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD & pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala, ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat.

3. Faktor resiko tsb menunjukan hubungan dalam penyakit.







4. Melibatkan pasien dalam memantau toleransi aktivitasnya





5. Dapat mencegah vasodilatasi yang tidak perlu dengan bahaya efek samping 1. Anjurkan pasien untuk beristirahat / berbaring selama fase sakit kepala berlangsung.

2. Anjurkan pasien untuk tidak terlalu beraktivitas selama sakit kepala.


3. Anjurkan pasien untuk melakukan kompres dingin di dahi, pijat punggung dan leher.



1. Memeriksa TD dan nadi yang diulang 2 x dengan sela waktu 30 menit.





2. Anjurkan pasien untuk menghemat energi misalnya pada saat gosok gigi dengan menggunakan kursi.

3. Mengobservasi keadaan umum pasien dari tanda dan gejala apakah ada oedema pada tubuh pasien.

4. Anjurkan pasien untuk istirahat di tempat tidur atau kursi dengan relaksasi

1. Menanyakan pada pasien apakah ia menghadapi kesulitan dalam memahami penyakitnya.




2. Memberitahu pasien batasan TD Normal adalah tidak lebih dari 140 / 90 mmhg.







3. Memberitahu pasien tentang faktor penyebab dari HT, tentang diet rendah garam dan menghindari diet tinggi lemak, kolesterol, merokok dan alkohol.

4. Menganjurkan pasien untuk segera memeriksa kesehatannya jika ia merasa ada gejala HT untuk mencegah bahaya lanjut.  

5. Menganjurkan dan memberi dorongan untuk mengubah posisi baring.
 

 
 CATATAN PERKEMBANGAN.

NO HARI / TANGGAL NO DXN PERKEMBANGAN PARAF
1.








2.









3. Selasa 
10-10-01







SDA









SDA No 1








No 2









NO 3 S : Pasien mengatakan rasa pusing sudah berkurang
O : TD 130 / 90 mmhg.
A : Masalah pasien dapat teratasi.
P : Lanjutkan intervensi diagnosa No 3.


S : Pasien mengatakan ia sudah mampu melakukan aktivitas seperti biasanya.
O : Pasien sudah kembali bekerja seperti biasanya.
A : Masalah pasien teratasi.
P : Pertahankan keadaan umum.

   
S : Pasien mengatakan ia sudah mengerti tentang penyakit HT.
O : Raut muka sudah tidak menampakan kecemasan lagi.
A : Masalah pasien dapat teratasi.
P : Berikan reward & support atas keberhasilan pasien.

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar