Kamis, 10 September 2009

FRAKTUR FEMURALIS

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Konsep Dasar Fraktur
a. Pengertian
  Ada beberapa pengertian tentang fraktur menurut beberapa ahli yakni sebagai berikut :
  Fraktur adalah terputusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (Mansjoer, 2000 : 346).
  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan tulang rawan. (Engram, 1998 : 266).
  Fraktur juga dapat terjadi karena keadaan patologik dimana sering terjadi pada daerah tulang yang menjadi lemah oleh karena tumor, degeneratif, dan pada keadaan menopause. (Price, 1995 : 1184).
  Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. (Reeves, 2001 : 248).
  Fraktur adalah patah atau gangguan kontinuitas tulang. (Pusdiknakes, 1995 : 75).
  Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah putusnya hubungan normal dari tulang baik hanya retak maupun sampai patah yang disebabkan oleh kekerasan, tumor, degeneratif, dan pada keadaan menopause.

2. Klasifikasi Fraktur
  Fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan patahnya, integritas kulit, lokasi, bentuk dan patahan serta status kelurusan, adapun jenis fraktur yang biasanya pada fraktur adalah :
a. Fraktur Tertutup (closed fracture) :
  Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit. (Reeves, 2001 : 298).
b. Fraktur Terbuka (open fracture) :
  Tulang mengalami fraktur, kulit terbuka dan banyak jaringan lunak yang dapat mengalami trauma. (Rachmadi, 1993:79). 
Komplit (complete) :
  Retak atau patah tulang yang luas dan melintang melalui seluruh penampang tulang sehingga patahan tulang terpisah antara satu dengan lainnya.
c. Tidak komplit (incomplete) :
  Garis patah tidak melewati seluruh penampang tulang.
d. Kominuvita :
  Fraktur yang mempunyai lebih dari dua fragmen dan saling berhubungan. 
e. Transverse :
Fraktur luas tulang melintang dari tulang, menyilang kedua korteks. 
f. Oblique
  Fraktur yang mempunyai arah miring. 
g. Greenstick :
  Keretakan pada salah satu sisi dari tulang yang dikarenakan pembengkakan parsial. 
h. Multiple
  Garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya.

3. Penyebab Fraktur
  Fraktur dapat ditimbulkan oleh beberapa macam, antara lain :
a. Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan fraktur pada titik terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki membentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di benturan.

b. Trauma tidak langsung
 Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari terjadinya kekerasan, misalnya jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga, maka dapat menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.

c. Trauma ringan
 Trauma yang dapat mengakibatkan fraktur bila tulang itu sudah rapuh, biasanya terjadi pada lansia.
  Penyebab lain yang bisa membuat tulang menjadi patah adalah karena penyakit yang menyebabkan tulang menjadi rapuh seperti pada tumor baik primer maupun tumor metastasis. Juga pada wanita yang sudah menopause mempunyai resiko tinggi mengalami fraktur termasuk lansia dengan masalah osteoporosis. (Price, 1995 : 1184).
  Berdasarkan beberapa penyebab diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab fraktur adalah trauma, penyakit seperti tumor dan pada wanita menopause.

4. Patofisiologi
  Tulang “dipegang” secara relatif kuat pada posisi anatomisnya yang normal oleh bentuknya. Otot yang mengelilingi tulang sepanjang batangnya juga menciptakan perlindungan. Tetapi, jika suatu daya yang kekuatannya lebih superior daripada tulang, otot, tendon dan ligamen diterapkan secara langsung maupun tidak langsung, maka daya tersebut akan menyebutkan jaringan “melawan” atau menantangnya. Jika tulang tidak mampu melawan kekuatan, maka tulang akan patah. 
  Trauma pada tulang baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat terjadi fracture baik itu tertutup ataupun terbuka. Menimbulkan kerusakan kulit (pada fraktur terbuka), edema jaringan, perdarahan, emboli lemak yang akan mempengaruhi perfusi jaringan, menekan saraf perifer, ketidakadekuatan sirkulasi mengakibatkan nyeri, penurunanan sensasi (kebas, kesemutan), hipotensi dan penurunan kesadaran, syok, keterbatasan/kehilangan fungsi pergerakan dimana akan timbul respon berupa intoleransi aktivitas, perubahan perfusi jaringan, kerusakan mobilitas fisik, kerusakan intergritas kulit.
   
5. Proses Penyembuhan Tulang
  Jika tulang mengalami fraktur, beberapa atau seluruh peristiwa di bawah ini terjadi sebagai rangkaian dari trauma. Peristiwa – peristiwa tersebut terjadi sesudah injury tetapi terus berlangsung selama beberapa minggu, bulan bahkan tahun, pada situasi tertentu sampai peristiwa tersebut lengkap.

a Tingkatan – tingkatan pertumbuhan tulang sebagai berikut :
1) Hematoma Formation (Formasi Hematoma)
2) Konsolidasi
3) Granulasi
4) Callus Formation
5) Remodelling
b Penyembuhan tulang itu sendiri tergantung pada :
1) Fraktur lokal / setempat
Tingkat keparahan injury, suplai nutrisi, besarnya “gap” atau jembatan tulang, tingkat imobilisasi, infeksi atau nekrosis sel – sel tulang, tipe fraktur dimana fraktur tulang rawan lebih cepat disembuhkan daripada fraktur pada tulang keras karena adanya darah dan pembekuan darah dalam jumlah yang lebih banyak pada tulang keras.
2) Faktor – faktor sistemik
Usia, penyakit–penyakit seperti Diabetes Melitus dan ketidakseimbangan hormon, stress, imobilitas, mobilitas pada tulang yang terfraktur.
c Beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan callus adalah:
1) Union adalah bila patah tulang tidak sembuh dalam periode penyembuhan yang disebabkan callus terputus atau remuk karena aktivitas berlebihan, udem pada lokasi fraktur yang menghalang atau menghambat penyaluran nutrisi, imobilisasi yang tidak efisien, infeksi terjadi pada lokasi dan kondisi gizi yang buruk.
2) Non Union adalah bila penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu yang lama yang disebabkan oleh terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang menjembatani fragmen, terjadi nekrosa karena tidak ada aliran darah, anemi, ketidakseimbangan endokrin, atau penyebab sistemik lainnya. 

6. Tanda dan Gejala
  Nyeri pada daerah yang patah, tampak adanya kelainan bentuk (deformity), anggota tubuh yang terkena akan mengalami gangguan fungsi (tidak dapat digerakkan) dan perubahan warna (hematoma), krepitasi, udem setempat (tidak jelas dalam beberapa jam).
   
7. Komplikasi yang ditimbulkan fraktur
  Shock, sidroma embolisme lemak, sindroma kompartemen, nekrosis tulang avaskuler, osteomyelitis, gangren gas, borok akibat tekanan (“Pressure Sores”)
   
8. Pemeriksaan / Pengkajian.
a. Anamnesis
  Bila tidak terdapat riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci kapan terjadinya, dimana, jenis berat ringan trauma, posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan. 
b. Pemeriksaan Status Lokalis
  Tanda – tanda klinis pada fraktur seperti :
1) Look, cari apakah terdapat deformitas seperti penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, dan pemendekan, functio laesa (hilangnya fungsi).
2) Feel, apakah terdapat nyeri tekan, udem, atau adanya massa.
3) Move, untuk mencari krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan, pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena menambah trauma, nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif, seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan yang tidak mampu dilakukan, ROM, dan kekuatan. 
c. Pemeriksaan Umum
  Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multiple, fraktur pelvis, fraktur terbuka, tanda – tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi.
d. Pemeriksaan Status Sirkulatori dan Neurologis
  Setelah bagian yang retak di immobilisasi dengan baik, maka dilakukan pemeriksaan status sirkulatori dan neurologis yaitu 5 P antara lain Pain (rasa sakit), Paloor (kepucatan/perubahan warna), paralisis (kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak), parasthesia (rasa kesemutan) dan pulsessness (tidak ada denyut nadi) untuk menentukan status neurovaskuler dan fungsi motorik pada bagian distal fraktur.
e. Pemeriksaan dengan Rontgen (sinar X)
   
9. Penatalaksanaan
  Pentingnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernapasan (breathing), dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara terperinci. Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di Rumah Sakit, mengingat golden period 1 – 6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat, dan lengkap. Kemudian, lakukan foto radiologi, pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. 
Pengobatan fraktur tertutup bisa konsevatif atau operatif. 
a. Terapi konservatif, terdiri dari :
1) Proteksi saja.
2) Imobilisasi saja tanpa reposisi.
3) Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips.
4) Traksi, untuk reposisi secara perlahan. 
b. Terapi operatif, terdiri dari :
1) Reposisi terbuka, fiksasi interna.
2) Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi eksterna.
Tindakan pada fraktur terbuka sebelum 6 – 7 jam (golden period). Bersihkan luka, tindakan debridemen, berikan toxoid anti tetanus serum (ATS) atau tetanus human globulin. Berikan antibiotik untuk kuman gram positif dan negatif dengan dosis tinggi. Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup1 minggu kemudian setelah edema menghilang (secondary suture) atau dapat juga hanya dijahit situasi (jahit luka jarang) yang berguna meminimalkan kontaminasi luka, fiksasi fragmen fraktur dan mengurangi perdarahan. 
   
 Adapun metode penanganan fraktur yang lain adalah :
a. Penanganan dengan Traksi
1) Pengertian
  Traksi adalah penerapan tenaga / daya pada kulit, otot, dam tulang untuk membantu reduksi fraktur, memegang tulang-tulang yang direduksi agar bersatu untuk penyembuhan, meredakan rasa nyeri dan spasme otot, serta mengadakan tarikan yang cukup pada otot dan tulang untuk mengurangi tekanan pada saraf spinal peritenal.
2) Jenis-jenis Traksi
  Jenis traksi yang digunakan untuk fraktur kruris adalah traksi skeletal dikombinasikan dengan pemasangan pen Steinmann pada distal dan proksimal tibia dan fibula.(Gambar 5) dan untuk fraktur antebrachi dengan lateral skeletal traction (over head).
3) Perawatan Traksi
  Mempertahankan tarikan konstan dalam garis dengan deformitas, mempertahankan tali dan penariknya, beban tergantung bebas diatas penarik, observasi sisi pemasangan adanya tanda infeksi
b. Penanganan dengan Gips
1) Pengertian
  Gips adalah struktur yang keras dan terbuat dari material plester, fiberglass atau plastik, yang digunakan untuk mengimobilisasi jaringan muskuloskeletal setelah terjadi injury. (Rachmadi, 1993 : 135).
2) Jenis –jenis Gips
  Jenis gips yang digunakan pada fraktur kruris adalah :
a) Long Leg Plester
Balutan gips dari metatarsophalangeal sampai proximal paha.
b) Short Leg Cast
  Balutan gip dari metatarsophalangeal sampai distal paha, jenis gips yang sering digunakan.
Jenis gips yang digunakan untuk fraktur antebrachi adalah long arm cast dan short cast .
3) Perawatan Gips
  Memantau adanya keluhan nyeri, panas/rasa terbakar, meninggikan ektremitas, gips jangan dipelitur karena gips adalah material yang porus sehingga udara bisa masuk ke dalam gips, tekanan dari gips terutama pada tonjolan tulang dan adanya luka jahitan yang memerlukan perawatan dapat dibuat jendela. 
c. Penatalaksanaan Obat-obatan
  Pemberian obat-obatan seperti : analgesik – narkotik, analgesik – antipiretik, transquilizer, agen antiinfektif, sedatif – hipnotik.
d. Supportif
  Pemberian kompres es untuk mengurangi perdarahan dan udem, meninggikan ekstremitas yang terkena, gunakan “sling” atau “splint” untuk mengurangi kerusakan pada jaringan yang berdekatan, opname jika mungkin, diet seimbang dan infus.


B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.

Proses keperawatan adalah suatu proses pemecahan masalah yang dinamis selama upaya memperbaiki atau memelihara klien sampai betarap optimum melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal atau membantu kebutuhan klien.
Proses perawatan adalah cara yang teratur dan sistematis dan menentukan masalah serta memenuhi kebutuhan klien.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan dimana suatu data dan informasi dikumpulkan untuk menentukan masalah kesehatan atau keperawatan baik aktual ataupun potensial.
Pada langkah ini data yang diperlukan pada klien tersebut adalah :
a. Identitas klien meliputi, nama, umur, pekerjaan , agama, alamat, pendidikan terakhir , No. Register dan diagnosa medis.
b. Identitas penanggung jawab meliputi ; nama, umur, pekerjaan , agama, alamat dan hubungan dengan klien.

c. Riwayat penyakit.
1) Keluhan utama : Biasanya klien mengalami fraktur terbuka atau tertutup akan mengeluh rasa nyeri atau sakit terlebih saat digerakan.
2) Riwayat penyakit sekarang ; biasanya klien mengalami suatu trauma seperti kecelakaan lalu lintas , jatuh terpukul dan sebagainya disamping itu perlu ditanyakan beberapa lama sudah terjadi.
3) Riwayat penyakit dahulu ; ditanya penyakit penyerta dan kondisi yang memberatkan seperti : DM, jantung, hypertensi, kerapuhan tulang dan sebagianya.
4) Riwayat penyakit keluarga : hal ini tidak terlalu berhubungan dengan keadaan klien yang ,mengalami fraktur.
5) Pengakajian fisik.
- Inspeksi : Meliputi data tingkat kesadaran klien, keadaan umum, dan pada daerah yang terinjuri atau mengalami fraktur misalnya edema, adanya peradangan ,luka, sianosis dan apakah terdapat dislokasi dan klien tampak gelisah.
- Palpasi : untuk mengetahui peningkatan suhu tubuh , turgor kulit dan penekanan pada exstremitas yang mengalami fraktur apakah ada terdapat rasa nyeri.
- Auskultasi : untuk mendengarkan peristaltik pada abdomen , bunyi pernafasan dan bunyi jantung.
- Prosedur diagnostik : Pada pemeriksaan laboratorium yang perlu dikaji adalah darah lengkap ( Hb, leukosit, eritrosit , LED , dll ).
- Perkusi : untuk menegtahui bunyi tympani apabila terdapat kembung pada abdomen.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan kesimpulan yang dibuat oleh perawat berdasarkan data yang telah dikumpulkan mengenai respon klien terhadap penyakitnya, baik perawatan yang aktual maupun potensial. Pada klien yang mengalami fraktur terbuka atau tertutup pada femur adalah dilakukan immobilisasi, maka diagnosa yang ditegakkan adalah sebagai berikut :
a. Nyeri berhubungan dengan adanya fraktur terbuka / tertutup .
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan peradangan.
c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan klien tentang prosedur dan tindakan operasi.
d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka.

3. Rencana perawatan
Dalam memenuhi kebutuhan klien perawat perlu memikirkan cara pemenuhan kebutuhan klien tersebut sehingga dalam pemenuhan ini perawat hendaknya merencanakan tindakan yang ingin dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan klien. Adapun rencana perawatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :
Pre Op :
a. Nyeri berhubungan dengan fraktur terbuka / tertutup pada femur.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria nyeri berkurang atau hilang.
Intervensi : - Observasi type nyeri
- Beri posisi yang nyaman
- Beri kompres es pada daerah fraktur
- Beri analgetik sesuai terapi
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya nyeri dan peradangan.
Tujuan : Pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan mobilitasnya.
Intervensi : - Dorong klien untuk melakukan latihan ROM aktif maupun pasif.
- Beri bantuan untuk pemenuhan gizi sehari-hari.
- Beri nutrisi yang adekuat.
- Libatkan keluarga klien dalam pemenuhan ADL.

c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur dan tindakan operasi.
Tujuan : Rasa cemas klien hilang atau berkurang.
Intervensi : - Observasi keadaan klien dan tingkat kecemasan
- Berikan penjelasan dan pengertian tentang proses penyembuhan klien
- Pertahankan lingkungan yang tenang.

d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka.
Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi
Intervensi : - Rawat luka klien secara aseptik dan antiseptik.
- Observasi tanda-tanda infeksi
- Berikan obat antibiotik sesuai terapi





ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. M DENGAN
CLOSE FRAKTUR ⅓ DISTAL FEMUR DEXTRA, DISLOKASI ELBOW (D) DAN FRAKTUR LINIER OS FRONTAL
DI RUANG ORTHOPEDI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN
BANJARMASIN


A. PENGKAJIAN.
BIODATA
Nama Klien : An. M.
Umur : 4 Tahun
Pekerjaan : -
Pendidikan Terakhir : -
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Dayak / Indonesia
Alamat : Jl. P.T Swadaya Andika I. Divisi III. Rt. 6 No. 66. Kec. Sei Durian, Kotabaru.
Tanggal MRS : 2 Maret 2004
No. RMK : 51 86 12
Diagnosa Medis : Close Fr. ⅓ Distal Femur Dextra, Dislokasi Elbow Dextra dan Fr. Linier Os Frontal.
Tanggal Wawancara : 10 Maret 2004. Jam 12.30 Wita. 
Penanggung Jawab : PT. Swadaya Andika

RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Nyeri pada bagian patah tulang paha sebelah kanan dan nyeri pada siku kanan serta kepala bagian dahi.

2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada hari Minggu, tanggal 29 Februari 2004, klien bersama orang tuanya (ayahnya) naik kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan (tabrakan dengan sebuah truk). Klien yang berada di belakang jatuh terpental, sehingga paha kanannya mengalami patah dan sikunya sakit digerakkan, disertai adanya luka pada daerah dahi (frontalnya). Kemudian klien dibawa ke RS Kotabaru. 
Pada tanggal 2 Februari 2004 klien dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin serta mendapat terapi dan dirawat di ruang Orthopedi.

3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya belum pernah mengalami kecelakaan yang sama dan klien tidak mempunyai riwayat penyakit DM, jantung, alergi dan penyakit menular lainnya.

4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit DM, hypertensi, jantung maupun penyakit menular.

PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum
Penampilan : Klien tampak lemah
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital :  
  Nadi : 72 x/menit
  Resp : 20 x/menit
  Temp : 365 0C

2. Kulit
Keadaan umum kurang bersih, turgor kulit dapat kembali dalam kurang dari 2 detik, warna kulit sawo matang, terdapat lesi (lecet) pada daerah lutut kiri dan bagian frontal terdapat luka yang sudah menutup dan kering, terdapat edema pada daerah siku kanan dan sekitar paha kanan.

3. Kepala dan Leher
Bentuk kepala simetris, kulit kepala secara umum kurang bersih, warna rambut hitam, distribusi rambut merata, terdapat lesi pada daerah frontal. Bentuk leher simetris, tidak terdapat pembesaran vena jugularis, kelenjar limfe atau thyroid, pergerakan leher cukup baik, tidak ada keluhan nyeri kepala atau pusing.

4. Penglihatan atau Mata
Penglihatan berfungsi dengan baik, dapat melihat atau membaca dengan jarak 30 cm tanpa alat bantu. Keadaan mata bersih, konjungtiva tidak anemis, keadaan refleks pupil miosis bila melihat cahaya, sklera tidak ikterik, pergerakan bola mata dapat bergerak bebas.

5. Penciuman dan Hidung
Bentuk simetris, tidak terdapat epitaksis, tidak ada lesi, tidak terdapat polip, tidak terdapat sekret yang keluar, tidak ada nyeri, tidak ada peradangan. Fungsi penciuman baik, dibuktikan klien dapat membedakan bau alkohol dengan kopi.

6. Pendengaran dan Telinga
Bentuk telinga luar simetris, tidak ada cairan yang keluar dari liang telinga, tidak terdapat perdarahan, peradangan ataupun lesi, klien mampu berkomunikasi dan mengikuti pembicaraan perawat.

7. Mulut
Keadaan umum mulut kurang bersih , tahap perkembangan gigi susu , fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis dan asin , tidak ada masalah dalam menelan , maupun mengunyah makanan ,mukosa mulut lembab.


8. Dada / Pernafasan / Sirkulasi
Bentuk dada simetris , pergerakan nafas ekspirasi dan inspirasi berlangsung spontan , keadaan dada kurang bersih ,frekuensi nafas 20 x/menit , pola pernafasan reguler ,bunyi nafas vesikuler ,tidak ada ronchi atau wheezing . Tidak ada keluhan nyeri , bunyi jantung s1 s2 tunggal , tidak ada cyanosis dan perifer hangat.

9. Abdomen 
Keadaan abdomen secara umum kurang bersih, tidak ada ditemukan pembesaran hati , limfa ,vena abdomen , tidak ada nyeri tekan , bising usus (+).

10. Genitalia Dan Reproduksi
Keadaan pada daerah genitalia kurang bersih , tidak ada keluhan nyeri , BAK normal tanpa alat bantu.

11. Ekstremitas Atas Dan Bawah
Atas : Inspeksi / Palpasi : tangan kiri normal dapat bergerak sesuai fungsi, tangan kanan terdapat nyeri bila digerakkan, terpasang spalk, edema pada daerah siku, nyeri tekan (+).
Bawah : Inspeksi / Palpasi : kaki kiri dapat bergerak sesuai fungsi, kaki kanan terpasang skin traksi dengan berat 2 Kg, edema (+) pada daerah paha, dan nyeri bila digerakkan (skala nyeri 3 dari skala 0-5).

KEBUTUHAN FISIK , PSIKOLOGIS, SOSIAL, DAN SPIRITUAL .
1. Aktivitas dan istirahat
Di rumah : klien adalah seorang anak yang berumur 4 tahun. Sebelum sakit klien aktif bermain. Klien biasa tidur malam ± 8 – 9 jam dan tidur siang ± 1 - 2 jam sehari.
Di Rumah Sakit : Klien bedrest dengan aktivitas minimal. Semua aktivitas perawatan klien dibantu oleh keluarganya. Klien tidur malam ± 6 - 7 jam dan tidur siang ± 1-2 jam sehari.
2. Personal Hygiene
Di rumah : Mandi 2 x sehari pagi dan sore hari, ganti pakaian 2 x sehari , gosok gigi 2 x sehari pagi dan habis makan malam.
Di rumah sakit : Klien tidak dapat mandi, gosok gigi dan menolak bila mau diseka karena merasa nyeri bila dipegang.

3. Nutrisi
Di rumah : Makan 3 - 4 x sehari , dengan jenis nasi putih, sayur dan lauk pauk, tidak ada pantangan dalam makanan. Dan klien lebih senang dengan makanan ringan (snack). Klien minum 4 – 6 gelas sehari dengan jenis air putih, teh dan kadang susu.  
Di rumah sakit : Makan 3 x sehari dengan diet TKTP , makanan yang disediakan hanya ½ yang dihabiskannya dan lebih suka dengan makanan yang dibeli diluar RS. Minum 4-5 gelas / hari dengan jenis air putih dan teh.

4. Eliminasi
Di rumah : BAB 1 x sehari , warna kuning dengan konsistensi lembek , BAK 4-5 x sehari dengan warna kuning jernih.
Di rumah sakit : BAK 2-4 x sehari dengan warna kuning jernih.

5. Seksualitas
-

6. Psikososial
a. Sosialisasi
Klien selama di RS didampingi oleh ibunya dan kadang oleh kakek dan neneknya. Klien sangat disayang oleh keluarganya dan banyak keluarganya yang lain membezuknya selama klien di rawat di RS.
b. Adaptasi
Klien mau diajak berkomunikasi , setiap pertanyaan diajukan oleh perawat dapat dijawab dengan baik . 
7. Spiritual
-

DATA FOKUS :


Terpasang Spalk
 
Skin Traksi 

DATA DIAGNOSTIK
Rontgen :
 - Fraktur ⅓ Distal Femur Dextra dan Dislokasi Elbow Dextra.

Laboratorium tanggal 5 Maret 2004 :
- Hb : 10,2 Gram % ( N : 11,5 – 15,5 Gram % )

Pengobatan :
- Cefat Syrup 3 x 1 cth.
- Elkana Syrup 3 x 1 cth.
- Skin Traksi dengan beban 2 Kg.

B. ANALISA DATA

NO DATA SUBYEKTIF DAN OBYEKTIF ETIOLOGI MASALAH
1. DS : Klien mengatakan nyeri pada tangan kanan dan kaki kanannya bila digerakkan skala 3 dari skala nyeri 0-5.
DO: -Bentuk asimetris.
  -Edema pada tangan kanan dan
  daerah paha kanan.
  -Hasil rontgen : close fraktur
  femur ⅓ distal dekstra dan
  dislokasi elbow dekstra.
 Gerakan fragmen tulang dan edema sekunder terhadap fraktur tertutup pada femur ⅓ distal dekstra dan dislokasi elbow dekstra. Nyeri (akut)
2. DS : Klien mengatakan nyeri pada tangan kanan dan kaki kanannya bila digerakkan.
DO: - Hasil Rontgen : fraktur
  tertutup femur ⅓ distal dekstra
  dan dislokasi elbow dekstra.
  - Tangan kanan klien terpasang
  spalk dan kaki kanan klien
  terpasang skin traksi dengan
  beban 2 Kg.
 Keterbatasan rentang gerak sekunder terhadap fraktur tertutup pada femur ⅓ distal dekstra dan dislokasi elbow dekstra. Kerusakan mobilitas fisik
3. DS : - Klien mengeluh nyeri bila
  bergerak. 
DO: - Hygiene umum klien kurang
  bersih.
  - Semua aktivitas perawatan
  dibantu oleh keluarga. Keterbatasan untuk beraktivitas sekunder terhadap adanya fraktur femur ⅓ distal dekstra dan dislokasi elbow dekstra.
 Syndrome kurang perawatan diri 
4. DS : -
DO : - Klien bedrest dengan aktivitas
  minimal.
  - Tangan kanan terpasang spalk
  dan kaki kanan terpasang skin
  traksi. Tirah baring yang lama sekunder terhadap Close Fr. femur ⅓ distal dekstra dan dislokasi elbow dekstra Resiko gangguan integritas kulit (dekubitus)














D. CATATAN PERKEMBANGAN

NO HARI / TANGGAL DX. KEPWTN DATA PERKEMBANGAN
1. Kamis,
11 Maret 2004
Jam 16.00 Wita





















Jum’at, 
12 Maret 2004
Jam 18.00 Wita




















Sabtu, 
13 Maret 2004
Jam 17.00 Wita


 I S : Klien mengatakan rasa nyeri berkurang, skala nyeri 2 (skala nyeri 0-5 ).
O: -Masih terdapat edema pada tangan kanan dan paha kanan.
-Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
A: Rasa nyeri teratasi sebagian.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3 dan 4.
I : 1. Mengobservasi type nyeri.
 2. Mengatur posisi klien dengan memberikan ganjalan pada tangan kanan klien dan mempertahankan skin traksi.
 3. Memotivasi keluarga klien untuk melakukan teknik distraksi pada klien.
 4. Meneruskan pemberian Antibiotik Cefat 1 cth pada jam 16.15 wita.
E : Nyeri sudah berkurang, masalah teratasi
  sebagian.

S : Klien mengatakan rasa sudah tidak dirasakan lagi, skala nyeri 1 (skala nyeri 0-5 ).
O: - Edema pada tangan kanan dan paha kanan berkurang.
-Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
A: Rasa nyeri teratasi sebagian.
P : Pertahankan intervensi 1, 2, 3 dan 4.
I : 1. Mengobservasi type nyeri.
 2. Mengatur posisi klien dengan memberikan ganjalan pada tangan kanan klien dan mempertahankan skin traksi.
 3. Memotivasi keluarga klien untuk melakukan teknik distraksi pada klien.
 4. Meneruskan pemberian Antibiotik Cefat 1 cth pada jam 16.10 Wita.
E : Nyeri sudah berkurang, masalah teratasi
  sebagian.

S : Klien mengatakan rasa nyeri berkurang, skala nyeri 1 (skala nyeri 0-5 ).
O: - Edema pada tangan kanan dan paha kanan sudah berkurang.
-Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
A: Rasa nyeri teratasi sebagian.
P : Pertahankan intervensi 1, 2, 3 dan 4.
I : 1. Mengobservasi type nyeri.
 2. Mengatur posisi klien dengan memberikan ganjalan pada tangan kanan klien dan mempertahankan skin traksi.
 3. Memotivasi keluarga klien untuk melakukan teknik distraksi pada klien.
 4. Meneruskan pemberian Antibiotik Cefat 1 cth pada jam 16.15 Wita.
E : Nyeri sudah berkurang, masalah teratasi
  sebagian.

 Kamis,
11 Maret 2004
Jam 16.00 Wita 


















Jum’at, 
12 Maret 2004
Jam 18.00 Wita























Sabtu, 
13 Maret 2004
Jam 17.00 Wita





















 II S : Klien mengatakan masih tidak bisa untuk menggerakkan tangan kanan dan kaki kanannya.
O: - Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
  - Kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarganya.
A: Kerusakan mobilitas fisik masih terjadi.
P : Teruskan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5.
I : Meneruskan intervensi :
1. Mendorong klien untuk melakukan latihan ROM aktif dan mengajarkan ROM pasif pada keluarganya .
2. Memotivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3. Memberikan diet TKTP.
2. Berkolaborasi untuk tindakan operasi restrukturisasi tulang yang fraktur.
E : Kerusakan mobilitas fisik belum teratasi.

S : Klien mengatakan masih tidak bisa untuk menggerakkan tangan kanan dan kaki kanannya.
O: - Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
  - Kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarganya.
A: Kerusakan mobilitas fisik masih terjadi.
P : Teruskan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5.
I : Meneruskan intervensi :
4. Mendorong klien untuk melakukan latihan ROM aktif dan mengajarkan ROM pasif pada keluarganya .
5. Memotivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
6. Memberikan diet TKTP.
3. Berkolaborasi untuk tindakan operasi restrukturisasi tulang yang fraktur.
E : Kerusakan mobilitas fisik belum teratasi.


S : Klien mengatakan masih tidak bisa untuk menggerakkan tangan kanan dan kaki kanannya.
O: - Tangan kanan masih terpasang spalk dan kaki kanan masih terpasang skin traksi dengan beban 2 Kg.
  - Kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarganya.
A: Kerusakan mobilitas fisik masih terjadi.
P : Teruskan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5.
I : Meneruskan intervensi :
1. Mendorong klien untuk melakukan latihan ROM aktif dan mengajarkan ROM pasif pada keluarganya .
2. Memotivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3. Memberikan diet TKTP.
4. Berkolaborasi untuk tindakan operasi restrukturisasi tulang yang fraktur, klien direncanakan untuk tindakan operasi pada hari Jum’at, Tanggal 19 Maret 2004.
E : Kerusakan mobilitas fisik belum teratasi.

 Kamis,
11 Maret 2004
Jam 16.00 Wita
















Jum’at, 
12 Maret 2004
Jam 18.00 Wita













Sabtu, 
13 Maret 2004
Jam 17.00 Wita















 III S : -
O: - Perawatan diri klien dibantu oleh keluarganya
- Klien diseka 2 x sehari dan diganti pakaiannya serta dirias oleh keluarganya.
- Hygiene umum klien terlihat bersih.
A: Masalah teratasi.
P : Pertahankan intervensi. Dan teruskan motivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan perawatan klien .
I : Memotivasi keluarga untuk selalu membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan perawatan dirinya.
E : Masalah perawatan diri klien teratasi dengan bantuan keluarganya .


S : -
O: - Perawatan diri klien dibantu oleh keluarganya
- Klien diseka 2 x sehari dan diganti pakaiannya serta dirias oleh keluarganya.
- Hygiene umum klien terlihat bersih.
A: Masalah teratasi.
P : Pertahankan intervensi. Dan teruskan motivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan perawatan klien .
I : Memotivasi keluarga untuk selalu membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan perawatan dirinya.
E : Masalah perawatan diri klien teratasi dengan bantuan keluarganya .
S : -
O: - Perawatan diri klien dibantu oleh keluarganya
- Klien diseka 2 x sehari dan diganti pakaiannya serta dirias oleh keluarganya.
- Hygiene umum klien terlihat bersih.
A: Masalah teratasi.
P : Pertahankan intervensi. Dan teruskan motivasi keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan perawatan klien .
I : Memotivasi keluarga untuk selalu membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan perawatan dirinya.
E : Masalah perawatan diri klien teratasi dengan bantuan keluarganya .


 Kamis,
11 Maret 2004
Jam 16.00 Wita









Jum’at, 
12 Maret 2004
Jam 18.00 Wita









Sabtu, 
13 Maret 2004
Jam 17.00 Wita








 IV S : -
O: Tidak terdapat tanda-tanda timbulnya ulkus dekubitus.
Kulit klien pada daerah yang tertekan dalam keadaan kering dan bersih.
A: Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
P : Pertahankan intervensi.
I : Meneruskan intervensi.
E : Masalah gangguan integritas kulit tidak terjadi.

S : -
O: Tidak terdapat tanda-tanda timbulnya ulkus dekubitus.
Kulit klien pada daerah yang tertekan dalam keadaan kering dan bersih.
A: Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
P : Pertahankan intervensi.
I : Meneruskan intervensi.
E : Masalah gangguan integritas kulit tidak terjadi.


S : -
O: Tidak terdapat tanda-tanda timbulnya ulkus dekubitus.
Kulit klien pada daerah yang tertekan dalam keadaan kering dan bersih.
A: Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
P : Pertahankan intervensi.
I : Meneruskan intervensi.
E : Masalah gangguan integritas kulit tidak terjadi
















 
C. RENCANA KEPERAWATAN

NO HARI/TGL DX.KEP TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Rabu,
10 Maret 2004 I Rasa nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria :
- Klien mengatakan rasa nyeri tidak terasa lagi.
- Klien tidak tampak meringis dan merintih lagi. 1. Observasi type nyeri untuk menilai perkembangannya.


2. Berikan posisi yang nyaman pada bagian tangan yang nyeri ( tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena ) dan pertahankan skin traksi pada kaki kanan.


3. Ajarkan teknik distraksi.



4. Berikan analgetik dan antibiotik sesuai terapi dokter dan observasi keefektifannya. 
 1. Untuk mengetahui jenis dan sifat dari rasa nyeri sehingga dapat diberikan keperawatan sesuai dengan respon klien.
2. Meningkatkan aliran balik vena menurunkan odema dan menurunkan rasa nyeri dan skin traksi.





3. Mengalihkan perhatian klien dari nyerinya.


4. Obat analgetik mengurangi persepsi seseorang tentang rasa nyeri terutama daya kerjanya menekan sistem syaraf sentral dan antibiotik mengurangi perluasan peradangan.
 1. Mengobservasi type nyeri untuk menilai perkembangannya dan tindakan selanjutnya skala nyeri 3 ( 0-5 ).
2. Memberikan posisi yang nyaman pada bagian tangan yang nyeri dengan meninggikan bagian yang fraktur (memberikan ganjalan pada daerah tangan dan mempertahankan skin traksi.
3. Mengajarkan teknik distraksi dengan mengajak 


klien bercakap-cakap (cerita).



 Rabu,
10 Maret 2004

Rasa nyeri berkurang. Skala nyeri 2 (dari skala nyeri 0-5 ).
2. Rabu,
10 Maret 2004 II Klien dapat meningkatkan mobilitas fisik dengan kriteria :
Klien mampu menggerakkan tangan – kaki dan jari-jarinya. 1. Dorong klien melakukan latihan ROM aktif maupun pasif.


2. Beri bantuan untuk pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari.
3. Beri nutrisi yang adekuat (diet TKTP dan tinggi kalsium ).

4. Melibatkan keluarga dalam mengambil keputusan.

5. Kolaborasi untuk tindakan operasi restrukturisasi tulang yang fraktur.
 1. Mencegah terjadinya kontraktur pada sendi dan atrofi pada otot.


2. Pemenuhan kebutuhan klien terpenuhi.

3. Mengganti nutrisi yang hilang dan membantu mempercepat penyembuhan.
4. Terjalin suatu kerjasama dalam pengambilan suatu keputusan dalam perawatan. 1. Mendorong klien melakukan ROM aktif maupun pasif dan mengajarkannya kepada keluarga klien.
2. Memberikan bantuan untuk klien yang tidak dapat dilakukan sendiri.
3. Memberikan nutrisi diet TKTP.


4. Melibatkan keluarga dalam mengambil keputusan. Rabu,
10 Maret 2004

Klien belum dapat dapat meningkatkan mobilitas fisik dengan menggerakkan tangan-kaki dan jari-jarinya karena masih merasa nyeri bila digerakkan.
3. Rabu,
10 Maret 2004 III Setelah diberikan tindakan keperawatan klien dan keluarga mampu :
o Mengidentifikasi kesukaran dalam aktivitas perawatan diri.
o Mendemonstrasikan kebersihan optimal.
o Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam aktivitas sehari-hari. 1. Tingkatkan partisipasi optimal dari klien dan keluarga dalam memenuhi perawatan diri.



2. Evaluasi kemampuan klien berpartisipasi.


3. Beri bantuan kepada klien dalam perawatan diri. 1. Kerjasama mempermudah dalam pemenuhan perawatan diri.




2. Tindakan yang dilakukan sesuai dengan kemampuan klien.

3. Memenuhi kebutuhan dengan mendukung partisipasi dan kemandirian. 1. Meningkatkan partisipasi keluarga optimal, keluarga membantu klien dalam pemenuhan perawatan diri, seperti mandi (diseka), berhias ,mengganti pakaian.
2. Mengevaluasi kemampuan klien; klien tampak kooperatif dalam pemenuhan perawatan diri.
3. Memberi bantuan kepada klien dalam perawatan diri, mengganti pakaian dan diseka.
 Rabu,
10 Maret 2004

Keluarga membantu dalam pemenuhan perawatan diri klien.



4. Rabu,
10 Maret 2004 IV Gangguan integritas kulit tidak terjadi dengan kriteria :
- Kulit bersih pada daerah tertekan.
- Tidak ditemukan tanda ulkus dekubitus. 1. Observasi tanda-tanda ulkus dekubitus.

2. Pertahankan area yang tertekan dalam keadaan kering dan bersih. 1. Untuk mengetahui dan memudahkan prosedur perawatan dan tindakan.
2. Area yang lembab dan kurang bersih memudahkan terjadinya ulkus. 1. Mengobservasi tanda-tanda terjadinya ulkus dekubitus.

2. Mempertahankan area yang tertekan dalam keadaan bersih dan kering  mengganti pakaian yang basah / lembab, diseka dan memberikan bedak. Rabu,
10 Maret 2004

Tidak terdapat tanda-tanda gangguan integritas kulit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar