Kamis, 10 September 2009

GAGAL JANTUNG

KONSEP PENYAKIT
  GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER
 GAGAL JANTUNG
 
A. PENGERTIAN

Gagal jantung (heart failure) adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi untuk kebutuhan metabolisme jaringan tubuh pada keadaan tertentu. Sedangkan tekanan pengisisan ke jantung cukup tinggi. ( N. Abdurrahman. 1997 ).

Gagal jantung secara progresif menyebabkan penurunan curah jantung (cardiac out put), kegagalan sirkolasi menyebabkan gangguan metabolisme badan dan faal tubuh seluruh sistem organ dengan segala akibatnya. Kegagalan inilah yang dimanifestasikan sebagai keluhan dan tanda-tanda dari gagal jantung (sindrom gagal jantung).
 
  Ada 2 penyakit gagal jantung :
1. Gagal jantung kiri / gagal jantung ventrikel kiri.
Terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan terakhir diastolek dalam ventrikel kiri dan volume akhir diastolik dalam ventrikel kiri meningkat.

2. Gagal jantung kanan. Dapat terjadi karena gangguan / hambatan pada daya pompa ventrikel kanan, sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri sehingga tekanan dan volume akhir diastolek ventrikel kanan akan meningkatkan dan keadaan menjadi beban bagi atrium kanan dalam kerjanya mengisi ventrikel kanan pada waktu diastolik.

   
B. ETIOLOGI

Secara umum dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain :

1. Disfungsi miocard (kegagalan miocard).
• Primer : Antara lain iskemia miokard, infark miokard, miokarditis, kardiomiopati dan prestikardia.
• Sekunder : Sebagai akibat kenaikan beban, tekanan, beban volume & kebutuhan metabolisme yang meningkat atau gangguan pengisian jantung.

2. Beban tekanan berlebihan / pembebanan sistolik (systolic overload).
Beban sistolik yang berlebihan diluar kemampuan ventrikel, menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup, misalnya pada hipertensi dan stenosis aorta. 

3. Peningkatan kebutuhan metabolik / peningkatan kebutuhan yang berlebihan (demand overload).

4. Beban volume berlebihan / pembebanan diastolik (diastolik overload).
Beban isian kedalam ventrikel yang berlebiahn atau beban isian berlebih pada waktu diastolik dalam batas tertentu masih dapat ditampung oleh ventrikel ( preload yang meningkat ). Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel ( diastolik overload ) akan menyebabkan tekanan dan volume pada akhir diastolik dalam ventrikel meninggi. Curah jantung mula-mula meningkat sesuai regangan otot, bila beban terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung akan menurun kembali, misalnya pada insupisiensi aorta (beban volume ventrikel kiri ). Insupisiensi mitral (beban volume ventrikel kiri ), insupisiensi trikuspid ( beban volume ventrikel kanan ), hipovolemia sekkunder (gangguan eksresi cairan).

5. Kebutuhan metabolik meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung, misalnya pada anemia, tinoktiosis demam, beri-beri.

6. Hambatan pengisian kapiler, menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun. 
  


C. TANDA DAN GEJALA

1. Gagal jantung kiri .
• Keluhan badan lemah, cepat lelah 
• Berdebar-debar
• Sesak napas terutama saat beraktifitas
• Batuk
• Anorexia
• Berkeringat dingin

Dapat pula ditemui tanda :
• Takikardia
• Dipsnea (dyspnea d’effort, orthopnae atau paroxysmal noctural dyspnae).
• Ronchi basah paru dibagian nasal.
• Bunyi jantung III, pulsus alternans.
• Ataupun tanda lain dari penyakit jantung yang menyertai.

2 Gagal jantung kanan.
• Oedem tumit dan dan tungkai bawah.
• Hati membesar dan lunak, nyeri tekan (hepatomegali).
• Bendungan pada vena jugularis (JVP meningklat), pulsasi vena jugularis.
• Gangguan gastrointestinal ~ kembung, anorexia, nausea.
• BB meningkat (oedem)
• Asites
• Perasaan tidak enak pada epigastrium.
• Ataupun tanda lain dari dari penyakit jantung yang menyertai.
   
3 Gagal jantung kongestive.
Merupakan kumpulan gejala atautanda gangguan jantung kiri / kanan secara bersamaan, misalnya :
• Pembesaran jantung.
• Kadang terdengar bunyi jantung III (proto diastolik gallop).
• Dan tanda-tanda lain yang sudah disebutkan di atas.
D. PATOFISIOLOGI.

Bila jantung dihadapkan pada beban yang berlebihan (melampaui beban normal), maka jantung melakukan mekanisme kompensasi secara instrinsik dan berusaha meningkatkan kemampuan kerjanya dalam mengatasi beban tadi. Mekanisme jantung antara lain :

 Mekanisme frank starling.
Yaitu membesarnya pengeluaran isi sekuncup (strok volume) dan keadaan ini berlaku sampai batas tertentu. Makinbesar pengisisan ventrikel pada akhir diastolik (end. Diastolik volume), berarti menambah regangan otot jantung meningkatkan isi sekuncup (stroke volume) sampai batas optimal dan bila terlampaui maka isi sekuncup normal kembali.  
   
 Beban ventrikel (ventriculer overloading)
  Beban pengisian (preload) dan beban tahanan (afterload) pada ventrikel menjadi dilatasi dan hypertropi mengakibatkan peningkatan daya kontraksi jantung yang lebih kuat mengakibatkan kenaikan curah jantung.

 Pembebanan jantung yang meningkat ~ membakitkan reaksi homeostasis ~ peningkatan rangsang simpatis ~ peningkatan kadar katekolamin dalam darah ~ memacu takikardia ~ meningkatkan curah jantung ~ pebebanan berlebihan ~ redistribusi cairan badan dan elektrolit (Na +) melalaui pengaturan cairan oleh ginjal & vasokonstriksi perifer ~ bertujuan untuk memperbesar aliran balik vena (venous return) kedalam ventrikel sehingga meningkatkan tekanan akhir diastolik ~ menaikan kembali curah jantung 

Bila semua kompensasi tersebut di atas telah digunakan seluruhnya tetapi masih tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh menyebabkan gagal jantung, yang dapat di bedakan :

1. Gagal jantung kiri, di akibatkan:
Ischemia miocard yg difus, infark miocard yg luas, kardio miopati, miokarditis akut, stenosis aorta, insufisiensi aorta, insufisiensi mitral, fistula arterio-venosus, hipertensi, gangguan irama jantung berat, kebutuhab curah jantung yang meningkat (high out put state) dan koarktasio aorta.
Hal ini terjadi akibat :
Ganggua pemompaan darah oleh ventrikel kiri ~ curah jantung kiri menurun ~ tekanan akhir diastolik dalam ventrikel meningkat ~ membebani atrium kiri saat diastolik (waktu pengisian ventrikel) ~ terjadi kenaikan tekanan rata-rata dalam atrium kiri ~ hambatan pada aliran masuknya darah dari vena-vena pulmonal ~ bila berlanjut akan terjadi bendungan pada paru ~ oedem paru ~ keluhan dan tanda akibat peningkatan tekanan paru meningkat.
Apabila berlanjut ~ terjadi hambatan ventrikel kanan memompa darah ke paru-paru ~ kompensasi ventrikel kanan (hipertropi dan dilatasi) sampai batas tertentu ~ jika tidak dapat di atasi ~ gagal jantung kanan dan kiri.  
   
2. Gagal jantung kanan, keadaan yang memicu :
Hipertensi pulmonal, trombosis / emboli paru, perikarditis konstriktif, akibat sekunder gagal jantung kiri kronik, stenosis mitral dengan tekanan pulmonal yang tinggi, kor pulmonal, kelainan jantung kongenital dengan tekanan pulmonal yang tinggi, kelainan katup trikuspid (insufisiensi), stenosis pulmoner & miksoma atrial.
Hal ini terjadi akibat :
Gangguan / hambatan daya pompa ventrikel kanan ~ isi sekuncup menurun tanpa di dahului kelainan gagal jantung kiri ~ tekanan dan volume akhir diastolik ventrikel kanan meningkat menjadi beban bagian atrium (kenaikan tekanan atrium kanan) ~ hambatan pada aliran masuk darah dari vena kava superior dan inferior ke dalam jantung ~ kenaikan tekanan & bendungan vena-vena sistemik (pada jugularis & di dalam hepar) ~ peningkatan JVP & hepatomegali ~ bila berlanjut ~ 
   
3. Gagal jantung kongestif.
Terjadi bila gagal jantung kiri dan kanan terjadi secara bersamaan.


  Gagal jantung kanan

Gangguan fungsi pompa ventrikel kanan


Curah jantung kanan menurun, tekanan akhir diastolik ventrikel kanan meningkat


Bendungan pada atrium kanan dan tekanan dalam atrium kanan meningkat


Bendungan pada vena cava dan peningkatan pada vena cava ( vena sistematis )


Hambatan arus balik vena dan menyebabkan bendungan sistematis



Gagal jantung kiri

Gangguan fungsi pompa ventrikel kiri
Curah jantung kiri dan tekanan diastolik ventrikel kiri


Bendungan pada atrium kiri dan tekanan dalam atrium kiri


Bendungan pada vena polmunalis dan tekanan dalam vena polmunalis


Bendungan paru ( edema paru )


Bendungan arteri polmunalis, tekanan rata-rata pada arteri polmunalis


Beban sistolik pada ventrikel kanan


  ( Ref : Sylvia A Price, Lorraine M Wilson, Patofisiologi , 1995 )
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

• EKG
• Sonogram (ekokardiogram, ekokardiogram dopple)
• Scant jantung.
• Kateterisasi jantung
• Rotghen dada
• Enzime hepar, elektrolit darah, BUN dan kretinin.
 

F. PENATALAKSANAAN

Keperawatan
• Kaji tanda vital, frekwensi dan irama jantung, nadi ferifer /bunyi napas.
• Kaji warna kulit /sianosis.
• Kaji tingkat kesadaran 
• Kaji haluaran urine ~ catat penurunan & konsentrasi urine.
• Tingkatkan istirahat dengan posisi senyaman mungkin
• Atur lingkungan tenang, hendari stress.
• Kaji tingkat toleransi aktivitas & catat respon cardiopulmonal terhadap aktivitas.
• Berikan / penuhi kebutuhan klien sesuai tingkat toleransi.
• Ukur BB dan lingkar perut tiap hari.
• Kaji distensi vena jugularis & vitting oedem.
• kolaborasi pemberian O2 dan obat-obatan. 
• Diet rendah garam.
   
  Medis
• Pengobatan / pengendalian kelainan dasar jantung atau vaskuler, misalnya operasi, & pengobatan.
• Obat – obatan yang diberikan :
 Preparat digitalis ~ meningkatkan kembali daya kontraksi jantung
 Mengatasi retensi cairan ~ diuretik
 Memperbaiki oksigenasi jaringan ~ O2, kadar tinggi dengan konsentrasi 24-28 % kecepatan 2-3 l/mt
 Menurunkan beban hemodinamis jantung ~ obat vasodilator (nitrogliserin).
 Pengobatan oedem akut ~ O2 & diuretik / vasodilator.


G. DAFTAR PUSTAKA.

1. Barbara E, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah , vol 2, alih bahasa Samba, Suryati, Jakarta EGC, 1998  
2. Doengoes, E, Marylinn dkk, Rencana Asuhan Keperawatan Vol. 3, alih bahasa Sukarsya, I Made, Jakarta EGC 
3. N. Abdurrachman , Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, edisi 2, editor soeparman, Jakarta, BPFKUI, 1987.
4. Tucker, Susan Martin dkk, Standar Perawatan Pasien, vol. 1, Alih bahasa Yasmin Asih dkk, Jakarta, EGC, 1998.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 
PASIEN DENGAN KASUS GAGAL JANTUNG.


A. PENGKAJIAN.

1. Aktivitas / istirahat.
Gejala : • Kelelahan terus-menerus, nyeri dada, insomnia, dispnoe saat istirahat atau pada pengerahan tenaga.

Tanda : • Gelisah, perubahan status mental, (misalnya letargi) tanda vital berubah pada saat beraktivitas.

2. Sirkulasi.
Gejala : • Riwayat Hipertensi. Gagal jantuk kronis, penyakit katup jantung, bedah endokarditis, anemia, syok, septik.
  
Tanda : • TD rendah. Tinggi karena kelebihan cairan.
• Tekanan nadi sempit, penurunan volume nadi sekuncup.
• Frekuensi jantumh takhikardi (gagal jantung kiri).
• Irama jantung disritmia.
• Bj S3 dan S4 dapat terjadi. S1 dan S2 lemah.
• Murmur sistolik dan diastolik, tanda adanya stenosis katup atau insupisiensi.
• Nadi perifer berkurang, nadi sentral kuat.
• Warna kebiruan, pucat, abu-abu, sianosis.
• Kuku pucat (stenosis dengan pengisian kapiler lambat).
• Hepar, pembesaran / dapat diraba, refleks hepato jugularis.
• Bunyi nafas, krekels, ronchi.
• Edema umum atau pitting, khususnya pada ekstremitas.

3. Integritas Ego.
Gejala : • Ancietas, kuatir, takut.
• Stres yang berhubungan dengan penyakit.

Tanda : • Marah, ketakutan, mudah tersinggung.

4. Eliminasi.
Tanda : • Penurunan frekuensi BAK, urien berwarna gelap.
• Berkemih pada malam hari ( nokturia ).
• Diare / konstipasi.

5. Makanan / cairan.
Gejala : • Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, pembengkakan ekstremitas bawah, diet rendah garam, makanan, kaleng, lemak, gula, kafein, rokok.

Tanda : • Penambahan BB cepat & distensi abdomen (ascites), edema, ( umum, dependen,tekanan, pitting).
 
6. Hygiene.  
 Gejala : • Keletihan, kelemahan, kelelahan selama aktivitas.  
Tanda : • Penampilan, perawatan personal menurun.
 
7. Neorosensori.
Gejala : • Kelemahan, pening, episode pingsan.

Tanda : • Letargi, kusut fikir, disorientasi, perubahan perilaku, mudah tersingung.

8. Nyeri / kenyamanan.
 Gejala : • Nyeri dada, angina akut / kronis. 
• Nyeri abdomen kanan atas, sakit pada otot.

9. Pernafasan.
Gejala : • Dispnea saat tidur, tidur sambil duduk atau dengan beberapa kontrol.
• Batuk dengan / tanpa kontrol.
• Riwayat penyakit paru kronis.

Tanda : • Pernafasan tachipnoe, nafas dangkal, pernafasan laboret.
• Penggunaan otot bantu pernafasan.
• Batuk ; kering, nyaring, non produktif. / batuk terus menerus tanpa pembentukan sputum.
• Bunyi nafas tidak terdengar, krikels, basiler, dan mengi.

10. Keamanan.
Gejala : • Perubahan fungsi mental, kehilangan kekuatan / tonus otot, kulit lecet.

11. Interaksi sosial.
 Gejala : • Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial. 
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN.

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama, kondisi listrik, (pembebanan diaslotik overload), dapat ditandai dengan :
• Peningkatan frekuensi jantung.
• Bunyi jantung S3 & S4 .
• Perubahan TD.
• Nadi perifer tidak teraba.
• Krekels, pembesaran hepar, warna.
• Nyeri dada.

 Tujuan jangka pendek : Ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi beban kerja jantung.
 Tujuan jangka panjang : Menunjukan tanda vital dalam batas normal

 Rencana tindakan.
1. Kaji frekuensi irama jantung.
2. Pantau haluaran urien dan warna kulit.
3. Catat bunyi jantung, TD dan nadi perifer.
4. Kaji pada perubahan sensori, misalnya letargi, bingung, cemas.
5. Berikan istirahat ditempat tidur & kursi.
6. Berikan istirahat psikologis dengan lingkungan tenang, membantu pasien menghindari stress.
7. Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik, vasodilator, digitalis (digoxin). Berikan O2 tambahan.

 Rasionalisasi 
1. Biasanya terjadi takhikardi.
2. S1 & S2 mungkin lemah karena menurunkan kerja pompa dan menurunnya nadi radikal.
3. Ginjal berespon untuk menurunkan curah jantung dan pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer.
4. Dapat menunjukan tidak adekuat perfusi serebral sekunder terhadap penurunan curah jantung.
5. Istirahat fisik dipertahankan untuk memperbaiki efidiensi, kontraksi jantung.
6. Stres, emosi menghsilkan vasokontriksi yang meningkatkan TD dan menghasilkan frekuensi / kerja jantung.
7. Penurunan preload sehingga mempengaruhi reabsopsi Na dan air untuk meningkatkan curah jantung, memperlambat frekuensi jantung.
Meningkatkan sediaan O2 dan kebutuhan miokard.

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2.kelemahan. Dapat ditandai dengan :
• Kelemahan / kelelahan.
• Perubahan tanda vital.
• Dispnea, kulit berkeringat.

 Tujuan jangka pendek : Penurunan kelemahanan / kelelahan & tanda vital dalam batas yang normal.
 Tujuan jangka panjang : Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
 Rencana tindakan.
1. Periksa tanda vital sebelum & sesudah aktivitas, khususnya pada pasien menggunakan vaodilator diuretik.
2. Catat respon kardiopolmunal terhadap aktivitas, catat takhikardi, diespnea, berkeringat dan pucat.
3. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas.
4. Berikan ketentuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi.
5. Kolaborasi dengan medis  implementasikan program rehabilitasi jantung, aktivitas.


 Rasionalisasi.
1. Hipoksia sistolik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat.
2. Penurunan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas menyebabkan peningkatan frekuensi jantung & meningkatkan kelelahan dan kelemahan.
3. Dapat menunjukan peningkatan dengan kompensasi jantung dari pada kelebihan aktivitas.
4. Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi kebutuhan O2 berlebihan.
5. Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung.



2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya curah jantung, meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium. Dapat ditandai dengan :
• BJ S3.
• Edema.
• Peningkatan BB.


 Tujuan jangka pendek : Menyatakan tentang pemahaman tentang pembatasan cairan.
 Tujuan jangka panjang : Volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan.



 Rencana tindakan.
1. Pantau haluaran urien, catat jumlah dan warna..
2. Pantau / hitung keseimbangan pemasukan & pengeluaran selama 24 jam.
3. Pertahankan duduk / tirah baring dengan posisi semi powler.
4. Buat jadwal pemasukan cairan dan timbang BB.
5. Kaji bising usus, catat keluhan, anorexia, mual, distensi abdomen.
6. Kolaborasi dengan :
  Medis : Dalam pemberian Diuretik & tambahan kalium, pertahankan cairan sesuai indikasi. 
  Petugas Gizi : Berikan makanan yang mudah dicerna, porsi kecil.




 Rasionalisasi.
1. Penurunan haluaran urien karena penurunan perfusi ginjal.
2. Therapy diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan berlebihan.
3. Posisi telentanng, meningkatkan filtrasi ginjal & menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuretik.
4. Melibatkan pasien dalam program therapy dapat meningkatkan perasaan mengontrol dalam pembatasan.
5. Kongesti viseral ( pada GJK ) dapat mengganggu gaster.
6.  Makan sedikit dan sering meningkatkan digesti / mencegah ketidaknyamanan abdomen. 
 Meningkatkan laju aliran urien, mengganti kehilangan kalium sebagai efek samping diuretik.
 Menurunkan air total tubuh, mencegah reakumulasi cairan.

  







 




























ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DECOMPENSASI CORDIS.



PENGKAJIAN
I. BIODATA.
• IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. W
Umur : 57 tahun. 
Jenis kelamin : Perempuan.

Pendidikan : SD 
Agama : Islam.
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Status perkawinan : Janda.
Alamat : Jl.Murakata NO.20 RT.16 Barabai
Tgl masuk RS / Pusk : 14 – 10 – 2003.
Tgl pengkajian : 17 – 10 – 2003.
Nomor register : 462964
Dignosa medis : Decompensasi Cordis.


A. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB.
Nama : Tn. Sutrisno.
Umur : 38 tahun.
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta.
Agama : Islam.
Alamat : Jl.Murakata NO.20 RT.16 Barabai .
Hubungan dengan pasien : Orang Tua.


II. RIWAYAT PENYAKIT.
A. Keluhan utama.
Sesak diserta nyeri dada dan bengkak pada tungkai bawah.














B. Riwayat penyakit sekarang.
Pasien menderita batuk sejak hari senin, tanggal 24 – 9 – 2003 Disertai rasa nyeri yang terasa menusuk pada seluruh daerah dada. Pada hari jum’at tanggal 28 – 9 – 2003 pasien berobat ke Puskesmas Banjarbaru, setelah minum obat dari Puskesmas tersebut batuk pasien berkurang namun nyeri dada kadang-kadang masih terasa. Setelah obat habis, batuk kembali muncul,nyeri dada semakin hebat, pada tanggal 10 –10 – 2003, kaki pasien terasa pegal-pegal dan esok hari setelah bangun tidur pasien melihat tungkai bawah pasien mulai bengkak, kemudian pasien mencoba berobat pijat refleksi, namun tidak berhasil, oleh inisiatif anaknya pasien dibawa berobat ke Rumah Sakit Banjarbaru untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

  C. Riwayat penyakit terdahulu.
Sebelumnya pasien belum pernah menderita batuk yang disertai nyeri dada seperti sekarang, hanya batuk-batuk kering tanpa dahak saja. Tidak pernah menderita penyakit kronis atau menular, dan belum pernah di rawat di Rumah Sakit.


III. PEMERIKSAAN FISIK.
A. Keadaan umum.
Kesadaran : Komposmentis.
Vital sign • TD : 140/90 mmhg • Temp : 37,5° C.
 • Nadi : 92 x / mt • Resp : 24 x / mt  
B. Kulit.
• Kulit pucat, lembab dan berkeringat.
• Terdapat lesi pada tangan dan kaki.
• Turgor kulit lambat kembali setelah ditekan ± 4-5 detik setelah ditekan, terutama pada ekstremitas bawah.
• Tidak ada cyanosis dan warna kelainan kulit.


C. Kepala.
• Bentuk kepala mesosepal. Distribusi rambut merata.
• Warna rambut hitam dan tipis, tampak adanya uban.
• Kotoran kulit kepala / ketombe (-).
• Kadang kepala terasa pusing berputar.


D. Penglihatan.
• Gerakan bola mata simetris. Refleks terhadap cahaya (+).
• Sklera mata tampak keruh, tampak adanya sekret pada palpebra bawah.
• Penglihatan terganggu, pasien menggunakan alat bantu kacamata minus.
• Konjungtiva pucat, sklera keruh.


E. Penciuman & Hidung.
• Bentuk hidung kiri dan kanan simetris. Tidak terdapat adanya sekret pada lubang hidung.
• Mukosa hidung merah muda.
• Pernafasan cuping hidung (+).
• Pernafasan berfungsi baik, pasien dapat membeda-bedakan bau alkohol dan minyak angin.

  F. Pendengaran & Telinga.
• Bentuk telinga kiri dan kanan simetris.
• Tidak terdapat sekret pada kedua lubang telinga.
• Tidak ada tanda-tanda peradangan
• Pendengaran berfungsi baik, pasien dapat mendengar pertanyaan perawat tanpa pengulangan kalimat.
  G. Mulut.
• Bentuk bibir atas dan bawah simetris
• Mukosa mulut pucat.
• Jumlah gigi tidak lengkap, sebagian ada yang tanggal tapi tidak menggunakan gigi palsu (protesa).
• Gusi berwarna merah muda, tidak ada tanda-tanda peradangan.

  H. Leher.
• Pulsasi vena jugularis teraba kuat, terdapat peningkatan bendungan vena jugularis.
• Tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid.
• Tidak ada pembatasan dalam gerakan leher.

I. Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
• Bentuk simetris, retraksi dinding dada (+).
• Fremitus vokal dextra & sinistra simetris.
• Bj 1 & Bj 2 kurang jelas, terdengar bunyi gallop (Bj 3).
• Tidak terdengar bunyi nafas tambahan.
• Terlihat menggunakan otot nafas tambahan ketika bernafas.
• Nyeri dada menusuk saat pasien batuk.

J. Abdomen.
• Bentuk simetris, kembung ( + ).
• Nyeri tekan epigastrium (+).
• Pada palpasi tidak teraba pembesaran hati dan limfe.
• Terdengar bising usus.

K. Sistem reproduksi.
• Jenis kelamin perempuan.
• Menurut pasien, waktu merarshe pada usia 13 th, dan aminorhoe pada usia 50 th.
• Tidak pernah menderita gangguan pada sistem reproduksi.  
• Pasien mempunyai anak 4 orang, 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

L. Ekstremitas atas & bawah.
• Akral hangat, bentuk tangan simetris dextra & sinistra, jumlah jari lengkap. 
• Adanya pembatasan gerak pada tangan kanan karena terpasang infus RL 20 tts/mt.
• Bentuk kaki simetris, terdapat oedema pada tungkai bawah.
• Kekuatan otot kaki lemah, tidak dapat berdiri sendiri dan berjalan.
• Kulit pada ekstremitas bawah tampak mengkilat dan pucat.


IV. KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.
A. Aktivitas & Istirahat.
Aktivitas sehari-hari berjualan sayur didepan rumah, dari pagi hinga sore hari.
Istirahat siang jarang dilakukan, kalaupun tidur paling hanya ± 1 jam saja.
Istirahat malam berkisar antara 5 – 6 jam setiap malam.

B. Personal hygiene.
• Pola mandi 2 x sehari. Gosok gigi 2 x sehari.
• Sanitasi asir bersih dari sumber PDAM.
• Ganti baju biasanya 2 x sehari

C. Nutrisi.
• Pola makan 3 x sehari. Terdiri dari lauk dan pauk,biasanya pasien suka makan makanan yang mengandung santan, tapi tidak suka yang asin – asin
• Suka makan jeroan (lemak).
• Di RS diet yang disediakan Bubur rendah garam.
• Minum air putih ± 5 – 7 gelas sehari.
• Biasanya pasien minum kopi 1 gelas dipagi hari, namun sejak masuk RS pasien tidak diperbolehkan minum kopi.

D. Eliminasi.
• Pola BAB biasanya 1 x sehari, biasanya pada pagi hari setelah bangun tidur, namun sejak pasien masuk RS, pasien baru 1 x BAB.
• Pola BAK biasanya 5 – 7 x sehari. Namun sejak masuk RS pasien menggunakan poly kateter.

E. Sexualitas.
• Lamanya menikah ± 38 tahun.
• Suami pasien telah meninggal pada tahun 1999 yang lalu karena sakit stroke.
  
F. Psikososial.
• Pasien tampak cemas akan penyakit yang dideritanya, jikalau akan berdampak negatif terhadap dirinya.
• Pasien juga merasa cemas karena ia tidak dapat mencari nafkah untuk membiayai anak bungsunya yang masih kuliah di Fakultas Tehnik Unlam semester 9.

G. Spiritual.
• Pasien beragama Islam.
• Pasien mengatakan ia selalu menjalankan shalat 5 waktu selagi sehat, namun sejak sakit dan kaki yang bengkak ia tidak dapat melakukan salat.
• Pasien percaya bahwa penyakit ini datangnya dari Tuhan YME, bukan karena guna – guna atau santet.



V. PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.
A. Laboratorium.

NO HARI & TANGGAL JENIS PEMERIKSAAN KATEGORI NORMAL HASIL PEMERIKSAAN
1. Selasa
16 – 10 – 03 • Hemoglobin

• GDS. 12 – 16 gr.

70 – 115 6,8 gr

95.

B. Rontgen
Hasil :…Tidak dilakukan pemeriksaan.

C. EKG.
Hasil :…Tgl 16 – 10 – 03 : Terdapat infark pada anterior & lateral.

  D. Pengobatan :
• Infus RL 20 tts / mt.
• Inj Amoxan 3 x 1 gr.
• Inj Lasix 2 x 1 amp.
• Inj Neorobat 1 x 1 amp.
• Efoxol 3 x 1 tab.  
 



















 ANALISA DATA 

DATA SUBYEKTIF & OBYEKTIF
 ETIOLOGI MASALAH
1. DS : • Pasien mengatakan nyeri dada terasa menusuk

  DS : • Bj 1 & 2 terdengar kurang jelas.
• Terdengar bunyi gallop


2. DS : • Pasien mengatakan tidak dapat beraktivitas.

  DO : • Pasien tirah baring.
  • Terpasang kateter.
  • Terpasang infus.
  • Badan terasa lemah
  • Oedema kaki.

3. DS : • Pasien mengatakan kulit terasa lembab terutama daerah pantat dan punggung.

  DS : • BAB ditempat tidur.
• Tirah baring lama.
• Oedema.
• Berkeringat. Hipoksemia jaringan








Ketidakseimbangan suplai oksigen, cardiac out put tak adekuat.





Tirah baring yang lama.
 Penurunan curah jantung









Intoleransi aktivitas.








Resiko terhadap kerusakan integritas kulit.
 
♦INTERVENSI KEPERAWATAN♦


NO HARI & TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
 PERENCANAAN IMPLEMENTASI

  TUJUAN TINDAKAN RASIONALISASI 
1





















2



























3 Rabu
17-10
2003
























Rabu.
17 – 10
2003































Rabu
17 – 10
2003





 Nyeri berhubungan dengan hipoksia miokard, ditandai :
• Nafas cepat dan dangkal.
• Berkeringat dan batuk.






















Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai O2 ditandai :
• Pasien tirah baring.
• Pasien mengatakan badan terasa lemah.
• Hb 6 gr %
• Edema pitting (kaki) dan tidak dapat berjalan.






















Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring ditandai dengan :
• Berkeringat.
• BAB di tempat tidur.
• Edema pitting. Jangka panjang
Nyeri hilang / terkontrol.

Jangka pendek 
Mendokumentasikan relaksasi.




















Jangka panjang
Menurunnya kelemahan dan kelelahan.

Jangka pendek 
Berpartisipasi dengan aktivitas yang diinginkan.

























Jangka panjang
Mempertahan kan integritas kulit.

Jangka pendek
Mendemonstrasikan tehnik mencegah kerusakan kulit. 
 1. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan faktor pemberat, perhatikan petunjuk non verbal dari ketidaknyaman mis ; berbaring dengan diam mengeluh.

2. Berikan lingkungan yang tenang.





3. Berikan tindakan kenyamanan. Misalnya mengubah posisi pasien, gosokan punggung.


4. Kolaborasi dengan medis dalam program therapy.


1. Periksa tanda vital setelah aktivitas dan setelah istirahat. 




2. Catat respon cardiopolmunal terhadap aktivitas, catat takhikardi, diespnoe, berkeringat, pucat.





3. Catat frekuensi jantung dihubungkan dengan laporan nyeri dada





4. Batasi aktivitas pada daerah nyeri.





1. Observasi adanya benjolan,, edema, atau kegemukan.


2. Ubah posisi tidur pasien sesering mungkin, bantu latihan gerak pasif.




3. Berikan perawatan kulit sesering mungkin 




4. Hindari pemberian obat intramuskuler 
 1. Nyeri iskemia memburuk pada inspirasi dalam.





2. Mengurangi ketidaknyamanan fisik.




3. Mengurangi nyeri.





4. Mengurangi rasa nyeri yang disebabkan oleh respon penyakit.

1. Hipotensi ortistatik dapat terjadi dengan aktivitas karena pengaruh fungsi jantung.

2. Penurunan miokardium u/ meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dapat meningkatkan frekuensi jantung

3. Dapat mengindikasikan penurunan O2 miokardia yang memerlukan penurunan tingkat aktivitas / tirah baring.

4. Menurunkan kerja miokardia.





1. kulit beresiko karena gangguan imobilitas fisik.

2. Memperbaiki sirkulasi / menurunkan waktu satu area yang menggangu aliran darah.

3. Terlalu kering atau lembab dapat mempercepat kerusakan kulit.

4. Edema interstitial & gangguan sirkulasi memperlambat absorsi obat.
 1. Mengkaji adanya keluhan nyeri dada yang disebabkan oleh batuk dan sesak serta keluhan pasien.



2. Menciptakan lingkungan yang tenang, membatasi jumlah keluarga yang menunggu dan tamu yang membezuk.

3. Memberikan contoh tindakan kenyamanan untuk pasien misalnya menarik nafas dalam dan gosokan tangan pada punggung pasien.

4. Kolaborasi dalam pemberian obat ; memberikan inj Amoxan 1 x 1 gr.

1. Memeriksa tanda vital setelah pasien beraktivitas di tempat tidur, 



2. Mencatat respon terhadap aktivitas adanya takhikardi dan berkeringat.







3. Mencatat frekuensi jantung.







4. Membatasi aktivitas pada saat nyeri dada.





1. Mengobservasi dan mencatat adanya benjolan di sekitar kulit atau adanya edema

2. Memberikan perawatan kulit terutama pada daerah punggung, pantat, dan lipatan kulit dengan bedak, terutam setelah pasien diseka.


3. Mengubah posisi tirah baring setiap 1 jam sekali.




4. Menghindari pemberian obat secara intramuskuler. 






 
 CATATAN PERKEMBANGAN.

NO HARI / TANGGAL NO DXN H. PERKEMBANGAN PARAF
1.











2.













3. Jum’at
19-10-2003










Jum’at
19-10-2003.












Sabtu.
20-10-2003 No 1









No 2










No 3 S : Pasien mengatakan rasa nyeri masih terasa.
O : Raut muka tampak meringis saat batuk.
A : Masalah belum teratasi.
 P : Kolaborasi dengan medis dalam pemberian obat.
I : Therapy oral Efoxol 3 x 1 tab.
E : Nyeri mulai berkurang,
R : Teruskan therapy.  



S : Pasien mengatakan badan masih terasa lemah.
O : Pasien masih tirah baring. Oedema (+).
A : Masalah masih relevan.
P : Kolaborasi dengan Medis dalam pemberiaan antidiuretik.
I : Therapy Inj Lasix 2 x 1 amp.
E : Oedema kaki mulai berkurang.
R : Teruskan therapy yang ada.
   
S : Pasien mengatakan kulitnya sudah tidak terasa lembab lagi.
O : Pasien mampu mendemonstrasikan tehnik relasasi kulit, dengan sering miring kiri-kanan.
A : Masalah dapat teratasi.
P : Teruskan perawatan PX  
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar